SIJUNJUNG -Didorong rasa cinta dan peduli, alumni MTsN Sijunjung tahun 1992 memberikan bantuan satu unit printer bagi almamaternya. Bantuan diserahkan salah seorang guru yang telah pensiun, Sarjono, dengan didampingi sejumlah alumni kepada Kepala MTsN Sijunjung, Ngatiyo di masjid madrasah itu, Kamis (12/8) lalu.
Ide memberikan bantuan itu berawal ketika salah seorang alumni, Jasriman diminta pihak madrasah memimpin muhasabah dalam rangka tahun baru Islam 1443 H bagi para guru dan siswa. Kesempatan itupun dimanfaatkan alumni 1992 untuk reuni kecil-kecilan.
Melalui grup whatsapp yang telah terbentuk sejak beberapa tahun terakhir, salah seorang alumni melontarkan ide untuk memberi kenang-kenangan untuk madrasah. Ide tersebut disambut baik seluruh anggota grup, mereka pun mengumpulkan sumbangan.
Setelah sumbangan terkumpul, mereka sepakat membelikan printer merk epson seharga Rp2,5 juta. Mereka memilih printer setelah mendapatkan masukan dari Hasmiyati, alumni yang kebetulan menjadi guru di madrasah itu.
“Kata Uniang (panggilan akrab Hasmiyati-red), madrasah butuh printer, karena sedang menyiapkan akreditasi. Alhamdulillah, dalam waktu beberapa jam, sumbangan dari kawan-kawan masuk ke rekening bendahara. Semoga bantuan kecil ini bermanfaat bagi madrasah tercinta,” kata Mustatir.
“Saya awalnya berpikir kawan-kawan membantu printer harga Rp800 ribu saja, tetapi rupanya yang dibelikan printer harga Rp2,5 juta. Sebagai alumni dan juga guru di sini, saya benar-benar terharu,” timpal Hasmiyati.
Hasmiyati menyebut, kepedulian kawan-kawan satu angkatannya itu kepada MTsN Sijunjung bukanlah kali ini saja. Sebelumnya sudah banyak sumbangsih yang mereka berikan, baik berupa moril maupun materil. “Kalau ada kegiatan, lalu saya sampaikan di grup, kawan-kawan langsung merespon,” katanya yang diamini alumni lainnya, Yanti dan Nedi.
Kepala MTsN Sijunjung, Ngatiyo mengucapkan terimakasih kepada alumni 1992 yang telah membantu printer untuk madrasah itu. Ia berharap kepedulian itu akan diikuti alumni angkatan lainnya.
“Madrasah ini punya lahan yang luas dan berpotensi besar jadi boarding school. Dengan dukungan dari para alumni lintas angkatan, saya yakin potensi besar ini bisa digarap. Apalagi alumni sudah banyak yang sukses di berbagai bidang,” ujar Ngatiyo.
Sarjono, guru bahasa Arab yang telah pensiun sejak 6 tahun lalu, tampak haru bertemu dengan mantan anak didiknya. Ia turut hadir dalam acara muhasabah sekaligus menyerahkan bantuan dari alumni, karena diminta langsung oleh alumni 1992.
“Mustatir datang ke rumah, katanya alumni 1992 minta saya hadir dalam acara muhasabah di madrasah. Alumni juga mau serahkan bantuan, mereka minta saya yang menyerahkan. Saya merasa terharu, ternyata anak-anak saya ini masih ingat gurunya. Semoga kalian lebih sukses lagi ya nak,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. (Jas)












