Networked-based Inquiry: Model Pembelajaran untuk Keterampilan Abad 21

Fuja Novitra
(Peneliti)

DI era disrupsi teknologi, tujuan pendidikan telah berkembang dan menekankan siswa untuk memiliki keterampilan Abad 21. Model pembelajaran yang mampu mengakomodasi keterampilan tersebut adalah model yang memiliki keseimbangan antara pendekatan saintifik dan pemanfaatan teknologi.

Sains merupakan ilmu yang identik dengan pengamatan dan eksperimen. Seperti halnya Leonardo da Vinci, Galileo Galilei, Isaac Newton, Albert Einstein, dan banyak ilmuan lainnya, yang melakukan pengamatan terhadap alam semesta dan melakukan eksperimen hingga melahirkan ilmu sains yang kita kenal saat ini. Hal ini menjadi alasan mengapa model pembelajaran yang menjadikan praktik ilmiah sebagai dasar langkah operasionalnya seperti model inquiry-based learning, discovery-based learning, dan problem-based learning dianggap sebagai pilihan terbaik dalam mata pembelajaran sains di sekolah (fisika, kimia, biologi).

Namun, di era disrupsi teknologi saat ini, tujuan pendidikan sudah berevolusi akibat munculnya keterampilan “baru” yang menjadi tuntutan untuk dimiliki oleh siswa sehingga praksis pendidikan tersebut sudah dianggap tidak relevan dan perlu disesuaikan dengan keterampilan tersebut. Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan Abad 21.

Keterampilan Abad 21 diakui sebagai standar kompetensi yang harus dimiliki siswa untuk memenuhi tuntutan kesuksesan dalam pekerjaan dan kehidupan mereka di masa depan. Pembelajaran di sekolah diharuskan mampu meningkatkan keterampilan Abad 21 siswa. Dengan kata lain, mata pelajaran sains (fisika, kimia, biologi) memiliki tanggung jawab untuk menyelenggarakan pembelajaran yang mampu meningkatkan keterampilan Abad 21 siswa.

Berdasarkan framework keterampilan Abad 21 yang didefinisikan oleh AASL (2019), NRC (2013), dan Partnership for 21st Century (2019), keterampilan ini mencakup literasi digital. Oleh karena itu, menurut van Laar & van Deursen dalam penelitiannya, untuk mengakomodasi keterampilan Abad 21 secara utuh di dalam pembelajaran, indikator kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi harus ditinjau dalam konteks digital.

Baca Juga  Sambut Ramadhan, KAI Kucurkan Rp250 Juta Percepat Pembangunan Masjid Al Mursydin di Pasaman

Oleh karena itu, karakteristik model yang mampu mengakomodasi hal ini adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan sentuhan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada setiap fasenya. Karena menurut penelitian Ayvaz Tunç (2017) dan Webb & Gibson (2015), interaksi langsung antara guru, siswa, dan TIK merupakan hal tidak dapat dipisahkan untuk pengembangan kemampuan siswa secara utuh di era Abad 21.

Wujud dari model tersebut adalah model pembelajaran Networked-based Inquiry. Model pembelajaran Networked-based Inquiry merupakan model pembelajaran yang mengandalkan TIK pada setiap fasenya. Model ini memberikan kesempatan kepada siswa melakukan penyelidikan secara ilmiah dan otentik melalui interaksi digital antara siswa dengan teman sebaya, sumber belajar, dan guru untuk menghasilkan hipotesis, melakukan eksperimen/telaah literatur dan menganalisis data, serta menyimpulkan temuan mereka. Penekanan pada model pembelajaran Networked-based Inquiry adalah untuk mewadahi siswa mengembangkan Keterampilan Abad 21 dan mengkonstruksi pemahaman mereka melalui pengalaman secara konkret maupun digital.

Desain model pembelajaran Networked-based Inquiry memiliki sintaks yang terdiri dari online orientation, problem identify in e-resources, exploration using ICT tools, report findings, dan closure. Sistem sosial model pembelajaran Networked-based Inquiry memberikan peran kepada guru sebagai motivator, fasilitator, pembimbing, dan reflektor. Prinsip reaksi dalam model ini diwujudkan dengan pemberian perhatian oleh guru pada setiap interaksi antar peserta didik dan mengarahkan peserta didik untuk membangun pengetahuannya sendiri. Sistem pendukung utama untuk mewujudkan aktivitas-aktivitas tersebut berupa e-book guru dan e-book peserta didik.

Model pembelajaran Networked-based Inquiry dikembangkan melalui penelitian “Research and Development” yang mengacu pada model pengembangan Plomp. Model ini divalidasi oleh pakar dibidang ilmu pendidikan, media pembelajaran, pendidikan fisika, teknologi pendidikan, dan bahasa Indonesia dan dinyatakan memiliki tingkat validitas sangat tinggi (rata-rata Aiken’s V di atas 0,80).
Pada uji coba lapangan, model ini memenuhi kriteria praktis. Praktikalitas model pembelajaran Networked-based Inquiry berada pada kategori sangat praktis menurut respon guru dan peserta didik (rata-rata di atas 85,00). Model pembelajaran Networked-based Inquiry juga memenuhi kriteria efektif pada uji lapangan. Tingkat Keterampilan Abad 21 uji coba lapangan berada pada kategori tinggi (rata-rata di atas 80.00) dengan rata-rata skor N-Gain pada 0,63. Dengan kata lain, peningkatan Keterampilan Abad 21 pada uji coba lapangan adalah sebesar 60% lebih dan berada pada kategori sedang. Pada aspek pengetahuan, hasil belajar siswa juga memperoleh hasil yang memuaskan. Secara klasikal, persentase ketuntasan aspek pengetahuan pada masing-masing sekolah lebih dari 90%.
Pengembangan model pembelajaran Networked-based Inquiry ini telah memberikan gambaran tentang penyelenggaraan pembelajaran sains (fisika, kimia, biologi) yang relevan dengan pembelajaran abad 21 dan menambah pilihan bagi para guru, khususnya untuk meningkatkan Keterampilan Abad 21.

Baca Juga  Sumbar Tuan Rumah Jambore Nasional Pramuka Anak Panti se Indonesia

Model ini menjadi pilihan bagi guru di tengah banyaknya keluhan dari para guru, orang tua, dan siswa terhadap pembelajaran online pada saat ini. Permasalahan pendidikan ini yang awalnya dianggap jangka pendek, akan tetapi sekarang permasalahan tersebut malah menjadi konsekuensi jangka panjang.
Permasalahan ini menegaskan kembali bahwa digitalisasi pendidikan di Indonesia tidaklah mudah, meski ide tersebut telah lama menjadi agenda pemerintah untuk menghadapi era revolusi industri 4.0.

Digitalisasi pendidikan bukan hanya tentang teknis mengganti pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online, akan tetapi membutuhkan infrastruktur yang memadai, koordinasi antar kementerian yang terkait, kolaborasi yang baik antara pemerintah dengan peneliti dan praktisi pendidikan.

Dengan demikian, model pembelajaran Networked-based Inquiry dapat dijadikan pilihan menarik, relevan, dan realistis. Model ini dapat dipertimbangkan oleh berbagai pihak untuk mengimplementasikan sebuah pembelajaran yang memiliki keseimbangan antara pendekatan ilmiah dan penggunaan teknologi untuk menuju digitalisasi pendidikan Indonesia di masa depan. (*)