Bukittinggi — Di tengah hiruk pikuk kota wisata yang sarat sejarah, secangkir teh hangat dan diskusi mendalam tersaji di ruang transit Balaikota Bukittinggi beberapa waktu lalu saat Walikota Bukittinggi menerima delegasi Ikatan Keluarga Minang (IKM) Sumatera Utara beberapa waktu lalu.
Pertemuan ini bukan sekadar agenda formal. Lebih dari itu, ia menjadi momentum penting untuk merajut kembali benang-benang budaya yang membentang jauh melintasi Selat Malaka—antara ranah (kampung halaman) dan rantau (perantauan). Fokus utama diskusi: bagaimana melestarikan adat dan budaya Minangkabau di tengah derasnya arus modernisasi, terutama bagi generasi muda Minang yang lahir dan besar di perantauan.
Efendi, perwakilan dari DPW IKM Sumatera Utara, dengan semangat menyampaikan bahwa kunjungan mereka adalah misi budaya. Ia menyoroti tantangan besar yang dihadapi perantau: banyak generasi muda Minang di Sumatera Utara yang nyaris asing dengan adat jo pusako (adat dan warisan) leluhurnya.
“Inisiatif ini tidak hanya untuk para perantau, tetapi juga untuk membangun jembatan komunikasi yang kokoh antara Sumatera Barat dan Sumatera Utara,” ujar Efendi. Ia kemudian melontarkan harapan besar: dukungan pemerintah daerah untuk program pertukaran pelajar. “Kami berharap anak-anak di kedua provinsi dapat belajar langsung tentang budaya Minangkabau, bukan hanya dari teori. Mereka perlu merasakan langsung nuansa nagari,” tambahnya, menekankan pentingnya pengalaman langsung.
Tidak hanya sebatas wacana, IKM Sumatera Utara juga berencana menggelar perhelatan budaya Minangkabau di wilayah mereka. Sebuah upaya proaktif untuk memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi Minang secara lebih luas, sembari memperkuat identitas budaya bagi anak cucu Minang di rantau.
Menanggapi semangat para perantau, Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyambut baik inisiatif tersebut dengan penuh apresiasi. Ia melihat langkah IKM ini sebagai sinergi yang strategis dan selaras dengan visi Kota Bukittinggi.
“Bukittinggi memiliki sejarah dan potensi besar di bidang budaya dan pariwisata. Sebagai kota yang pernah menjadi ibu kota Republik Indonesia pada masa perjuangan, kami terus berupaya menjaga nilai-nilai sejarah dan budaya yang menjadi identitas Minangkabau,” jelas Ramlan.
Menurutnya, penguatan promosi budaya hingga ke luar daerah melalui perantara IKM adalah langkah krusial. Kolaborasi ini tidak hanya akan memperkuat identitas Minang bagi perantau, tetapi juga memantapkan posisi Bukittinggi sebagai ‘Kota Wisata Budaya dan Pendidikan yang berdaya saing nasional’.
Pertemuan hangat itu berakhir dengan optimisme. Sinergi antara ‘kampung halaman’ dan ‘perantauan’ ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam upaya menjaga warisan budaya, memastikan bahwa kekayaan adat Minangkabau akan terus hidup subur, bahkan jauh di seberang lautan. (gd)












