BUKITTINGGI — Gunung Marapi kembali mengalami erupsi pada Sabtu (26/9/2026) malam. Erupsi terjadi sekitar pukul 21.40 WIB dan terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 30 milimeter serta durasi 79 detik.
Pengamat Gunung Marapi Bilal Allegra Munbaits, mengatakan tinggi kolom erupsi tidak teramati dalam kejadian tersebut.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas vulkanik Gunung Marapi. Masyarakat di sekitar gunung, termasuk pendaki, pengunjung dan wisatawan, diimbau tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi atau Kawah Verbeek.
Selain ancaman erupsi, masyarakat yang tinggal di sekitar lembah, aliran, maupun bantaran sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi juga diminta mewaspadai potensi lahar terutama saat musim hujan.
Jika terjadi hujan abu, masyarakat disarankan menggunakan masker untuk melindungi hidung dan mulut dari gangguan pernapasan. Perlindungan terhadap mata dan kulit juga diperlukan.
“Masyarakat juga diimbau mengamankan sarana air bersih serta membersihkan abu vulkanik yang menumpuk tebal di atap rumah untuk mencegah kerusakan atau roboh,” demikian imbauan dalam rekomendasi aktivitas Gunung Marapi.
Pemerintah daerah dan seluruh pihak juga diminta menjaga suasana tetap kondusif serta tidak menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya. Masyarakat diimbau mengikuti arahan resmi pemerintah daerah dan instansi terkait.
Pemko Bukittinggi, Pemko Padang Panjang, Pemkab Tanah Datar dan Pemkab Agam diminta terus berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung maupun Pos Pengamatan Gunung Marapi di Jalan Prof. Hazairin No.168, Bukittinggi. (der)












