Makan Ubi Rebus di Hutan Bambu

oleh -303 views
Inilah hutan bambu yang eksotik di Kyoto. Bambu jadi obyek wisata, Jepang punya kisah (foto seruni)

Laporan Khairul Jasmi dari Japang

Kyoto, kota bagai maket itu, dibungkus dingin, gigil tropis masih menyertai saya. Pada pagi yang sempurna kami bergerak ke Arashiyama, hutan bambu seluas 17 Km persegi.

Jutaan batang bambu tegak lurus. Ini bambu, jenis pering, yang lebih suka tumbuh tinggi sebatang-sebatang, menjulang, tidak berumpun seperti bambu biasa. Pering atau pariang, jika tua akan berubah warna jadi kuning.

Ke hutan itulah saya melangkah, melewati jalan yang tertata rapi dengan toko-toko yang cantik di sisi jalan. Semua menjual buah tangan dan makanan. Ada sungai besar dengan jembatan panjang di sisi kiri. Berbelok ke kanan berjalan sejauh sekitar 750 meter sampai di simpang rimba bambu.

Bukan rimba tapi taman bambu, dengan jalan sepatak berpagar bambu kering. Jalannya disemen dan di balik pagar, bambu tumbuh menjulang memberi celah-celah bagi pengunjung untuk melihat langit biru. Menjelang siang saat saya sampai di sana, jalan itu sudah penuh oleh pengunjung, banyak juga dari Indonesia.

“Awak dari Tangerang, tapi kampuang awak Padang Lua,” jawab seorang remaja putri, kepada Singgalang.

Orang-orang Jepang, entah dari kota mana, datang ke sana berpasang-pasangan. Juga dari bangsa-bangsa lain, mereka satu rombongan besar, menggunakan satu dua bus pariwisata.

Hanya hutan bambu. Hanya. Apa boleh buat, dikelola negara menjadi obyek wisata fantastik, bak negeri kayangan. Ujung-ujung bambu dari puncak tertingginya merunduk membentuk pemandangan yang hebat. Pengujung terpesona.

Maka dengan berbagai gaya orang-orang berfoto di sana, dengan riang tentunya. Ribuan bahkan jutaan orang seperti itu. Maka saya pun mengambil posisi terbaik, dipotret anak saya.

Lelah di dalam menjelang pintu keluar saya nikmati ubi rebus pakai saka. Gula aren. Nikmatnya tak terbada, meski tak dibeli tapi dikasih teman. Saya kulek ubi itu sambil jalan, sembari menjauh dari hutan bambu nan indah itu. Masalahnya adalah, ubi habis wadahnya masih di tangan, tak ada tong sampah. Kemana mau dibuang. Saya bungkus dengan asoy dan saya bawa saja.

Mematut-matut danau

Sambil sarapan pagi di lantai 37 Lake Biwa Otsu Prince Hotel, saya patut-patut negeri Jepang. Ada bukit di timur dan puncaknya berselimut salju. Hotel itu berdiri di tepian Danau Biwa.

Danau purba yang terbentuk sekitar 6 juta tahun lampau itu, airnya biru. Sepagi ini belum ada aktivitas di danau terluas di Jepang itu.

Sebenarnya bagus naik kapal di sini, raun-raun, tapi ini musim dingin, maka danau sepanjang 63,49 Km dan lebar 22,8 Km itu saya patut-patut saja dari ruangan sarapan pagi ini. Kalau saja gempa. Alhamdulillah tidak.

Sambil sarapan itu di meja kecil dua kursi, danau tampak tenang. Di luar dingin, di dalam hangat dengan sepotong roti dan segelas kopi. Turis duduk di sebelah menyebelah saya menikmati sarapan kesukaannya.

Usai sarapan, saya ke lobi memperhatikan rombongan demi rombongan wisatawan menyeret koper besarnya. Putri saya cigin ke tepi danau, menyalurkan hobi dan mata pencahariannya, memotret alam. Hasilnya memang bagus.

Hotel berbintang ini, nyaman, berjendela besar, menghidangkan pemandangan yang menarik, tapi salju sedang turun. Orang tropis berwisata ke daerah bersalju, gila menggerutu kedinginan saja, namun di sana pula enaknya, asal jangan galigato saja.

Ini Jumat (18/1) masih ada sisa waktu saya di Jepang, negara kepulauan di Asia Timur itu, yang mobil dan motornya berjumlah sekitar 100 juta unit dipakai rakyat Indonesia. Di sini nyaris tak ada yang pakai motor. Banyak yang menggunakan sepeda. Motor mereka buat, lalu dijual. Mobil-mobil mewah dibuat lalu dijual. Di sini city car ber-cc rendah terlihat banyak. Kepandaian mereka menghasilkan uang, kita pandai bawa motor. (tamat)

 

Loading...