Lima Rumah di Padang Pariaman Rusak Terkena Longsor

oleh
Aparat TNI tengah bergotong-royong dengan  masyarakat menyingkirkan material longsor yang menutupi badan jalan yang menghubungkan Sungai Garinggiang - Lubuak Basuang, Jumat (2/11). (Ist)

PARIK MALINTANG – Curah hujan yang begitu tinggi juga telah memicu  terjadinya longsor dibeberapa lokasi di wilayah Kecamatan IV Koto Aua Malintang, Kabupaten Padang Pariaman, Jumat (2/11)  sore.

Enam unit rumah dilaporkan rusak dihantam material  longsor di Kampuang Pinang, Nagari III Koto Aua Malintang dan hubungan transportasi dari Sungai Garinggiang ke Lubuak Basuang, Kabupaten Agam, sempat terputus.

Walinagari III Koto Aua Malintang, H.Azwar Mardin,  kepada topsatu, Sabtu (3/11) mengatakan, delapan kepala
keluarga (KK) penghuni rumah yang terkena longsor, selamat.

Mereka telah mengungsikan diri sebelum musibah yang lebih  besar datang menghantam tempat tinggal mereka.
Disebutkan, longsor yang terpicuh oleh curah hujan begitu tinggi telah terjadi sore hari, tapi masih tergolong
kecil. Namun, melihat hujan yang tidak kunjung hentinya, delapan Kk penghuni rumah, buru-buru mengungsikan diri.

Ternyata benar, malamnya, longsor dengan material  yang lebih besar datang lagi, menghantam rumah mereka. Hingga berita ini diturunkan, belum dapat diperkirakan berapa kerugian yang timbul akibat bencana tersebut.

Sebelumnya Azwar Mardin menyampaikan, hujan mulai  turun mengguyur daerah itu sekitar pukul 13.00 Wib, atau usai Shalat Jumat. Karena begitu lebatnya telah memicuh terjadinya  longsor di beberapa titik.

Sedikitnya ada tiga titik longsor di Aua Malintang yang mengakibatkan terputusnya hubungan transportasi Sungai
Limau-Lubuak Basuang via Sungai Garinggiang, sore itu. Namun,  berkat upaya masyarakat bersama-sama aparat TNI dan petugas BPBD, material longsor yang menimbuni badan jalan berhasil  disingkirkan dalam waktu dua jam kemudian.

Kepala BPBD Kabupaten Padang Pariaman, Budi Mulya  membenarkan prihal bencana yang terjadi di Nagari III Koto Aua Malintang. “Hingga sekarang anggota kami masih berada di lapangan,” katanya saat dihubungi topsatu, Sabtu (3/11)  pagi.

Budi Mulya belum bisa menyebutkan berapa kerugian  yang timbul akibat bencana tersebut. Dan, dia berharap, pihak  provinsi segera mengantisipasi supaya badan jalan yang terban di di daerah Aua Malintang tidak bertambah.
Sebab, kata Budi, ruas jalan Sungai Garinggiang – Lubuak Basuang adalah urat nadi perekonomian masyarakat. Jika
putus, dampaknya tentu sangat besar terhadap kehidupan masyarakat di dua daerah, Padang Pariaman dan Agam.
(darmansyah)

 

Loading...