Ragam  

Korban Kebakaran Kampung Jao Berharap Bantuan

Sartono (50) memperlihatkan puing-puing rumah sisa kebakaran di Jalan Perak II, Padang Barat. (deri oktazulmi)

PADANG  – Sartono (55) salah satu korban kebakaran di Jalan Perak II, Padang Barat, hanya bisa pasrah setelah tempat tinggalnya habis dilalap api.

Pria tiga anak ini, hanya bisa mengumpulkan sisa-sisa harta benda yang bisa diselamatkan. Dia bersama istri dan anak-anaknya tidak pernah menyangka musibah ini bakal terjadi.

“Saya tidak menduga, kebakaran ini terjadi. Habis semuanya pak. Hanya pakaian di badan saja yang tinggal,” kata Sartono saat menceritakan kepada Singgalang.

Rumah yang telah ditempati sejak 1997 lalu itu, sudah rata dengan tanah. Tiang-tiang penyangga rumah yang kokoh di rumah, tidak ada lagi. Habis jadi abu.

Diceritakannya, sebelum kejadian,dia bersama istri dan anak-anaknya tengah lelap tidur. Apa sebab, karena mereka sekeluarga menderita demam, karena pengaruh obat.

Baca Juga  KPA Padang Berikan Layanan Pemeriksaan Kesehatan Gratis

“Jadi, kami demam semua pak. Lalu, kami minum obat. Jadi terlelap tidur. Untung saya mendengar, ada bunyi kayu yang terbakar,” ujar Sartono.

Mendengar derikan kayu bakar, sontak dia keluar mencari sumber api. Setiba di luar, dia telah melihat rumah sebelah sudah memerah karena api membakar bangunan semi permanen.

Kaget dan panik, dia pun berusaha memadamkan api dengan air seadanya. Dalam sekejap kumpalan api raksasa tersebut, langsung menyambar rumah yang dihuni keluarga kecilnya.

“Saya langsung membangunkan istri dan anak-anak dan membawa mereka keluar rumah,” katanya.

Dari luar rumah, mereka hanya bisa memandang api yang besar menghabiskan rumah yang puluhan tahun dihuninya. Cucuran air mata sekeluarga, tidak membuat api yang semakin mengganas membakar rumahnya.

Baca Juga  Program Desa Kreatif di Pariaman Dipuji Menteri PDTT

“Tidak ada lagi pak. Usaha saya, pakaian, perabotan tidak ada lagi. Hanya beberapa perabotan rumah tangga yang bisa diselamatkan. Itupun ditolong oleh anak-anak kost di sini,” ujarnya.

Sekarang dia hanya bisa pasrah dan meminta bantuan kepada pemerintah kota (Pemko) Padang, untuk bisa memberikan bantuan. Baik itu modal usaha, dan kebutuhan lainnya.

“Saya punya usaha sablon pak. Usaha ini saya tekuni, sejak 1998 lalu. Hasil usaha ini bisa menyekolahkan ketiga anak-anak saya,” kata dia.‎ (Deri oktazulmi)