Opini  

Kesedihan Van Gogh yang Panjang

Oleh Sastri Bakry, ketua SatuPena Sumbar

Alhamdulillah, Sabtu sore tgl 7 Juli 2023, saya diundang Denny JA untuk menyaksikan pameran lukisan Vincent van Gogh Alive, Grande Experiences di Mall Taman Anggrek. Saya langsung tertarik dengan nama besarnya yang sudah saya kenal sejak masih kanak-kanak. Tanpa pikir panjang saya langsung setuju dan menggeser janji hati saya yang lain. Saya sungguh-sungguh takjub melihat lukisan Vincent yang dipadu teknologi. Sebuah pengalaman yang luar biasa.

Ketika memasuki ruangan itu, di foyer awal, kita dihadapkan dengan ruang sederhana. Kamar tidur Vincent agaknya. Ini juga bagian dari salah satu lukisannya. Saya melihat teman- teman berfoto di sana untuk sekedar kenang- kenangan. Demikian pula saya. Saya tersentuh melihat kamar tidur Van Gogh. Sedemikian sederhana jika tak ingin disebut miskin. Emosi saya seperti teraduk- aduk membayangkan kehidupan Van Gogh.

Vincent Van Gogh adalah seorang pelukis Belanda yang bersedih hati sepanjang hidupnya.
Karyanya terkenal karena keindahan lukisan paletnya yang kasar, kejujuran emosional dan warna yang berani, karenanya ia dikenal sebagai pelukis ekspresionis.

Vincent memiliki pengaruh luas pada abad seni ke-20, meski di awal, lukisannya tidak dihargai sama sekali. Dari hampir seribu lukisannya hanya satu yang terjual di masa hidupnya. Itupun karena faktor kenalan dari keluarganya. Itu barangkali yang membuat Vincent depresi. Tetapi ia kuat dengan pilihan jenis lukisannya tanpa peduli komersial dan tetap menjadi dirinya sendiri. Meski tak disukai orang-orang di zamannya.

Ia mengiris telinganya karena menderita depresi berat dan sehari kemudian ditemukan oleh polisi untuk dilarikan ke rumah sakit. Dua tahun setelah peristiwa itu, pelukis terkenal ini bunuh diri pada 13 Juli 1890.

“Ia bisa menghasilkan satu lukisan dalam 36 jam, karena itu karyanya sangat banyak meski umurnya tak panjang. Kegagalannya menjadi pastor justru keberuntungan untuk karya- karya besarnya kelak kemudian hari” Ujar Denny JA yang membawa saya bersama teman-teman Satupena pada pameran lukisan Van Gogh di Mall Taman Anggrek.

Kesedihannya terpancar dari ekspresi kuas dan paletnya. Sebagai orang yang mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan indah mestinya ia tak bunuh diri. Tapi gangguan jiwa yang terwarisi tak mampu membuat ia mengendalikan depresinya. Sebuah ironi.

Semua telah terjadi, untung saudaranya mau meneruskan pemasaran karya-karyanya. Ia melakukan roadshow pameran lukisan Van Gogh keliling negeri setelah Van Gogh telah pergi. Van Gogh memang tak menikmati harga dari lukisannya, namun karya besarnya yang sangat bernilai akan selalu dikenang. Setidaknya keluarga dan turunannya telah menikmati harga lukisan termahal di dunia. Triliunan konon harganya.

Dan kita semua menikmati karya-karyanya hingga berabad-abad kemudian. Kadang karya di dunia seni dan sastra, tak dipandang sebelah mata di zamannya, ketika meninggal baru karyanya dihargai. (*)