Indra Sakti Nauli, Kawan Kami Telah Pergi

Gerimis turun berderai saat ambulance PMI yang membawa jenazah Indra Sakti Nauli, keluar dari RSUD dr Rasidin, Padang, Senin (13/10) malam. Seorang kawan telah pergi untuk selamanya.

Kawan kami ini, sejak Senin pagi dirawat. Dari M Djamil pindah dan pindah, akhirnya sampai di RSUD.

Mak In, demikian para wartawan menyapa Indra Sakti Nauli. Wartawan yang tulisannya bagus dan enak dibaca ini, telah tiada. Ia meninggal dunia Senin (13/10) pukul 19.37 di RUSD dr Rasidin, Padang.

Helma Tuti, istrinya melepas kepergian Mak In dalam gamang yang tak tertirukan. Mak in pergi setelah diketahui pembuluh darahnya di leher, pecah. Ia mengeluh sakit pada leher sehabis mandi lalu dilarikan ke rumah sakit. Saya belum bisa memastikan, kenapa ia pergi dari M. Djamil, rumah sakit sebesar nagari itu.

Pasangan Indra dan Helmi, berdomisili di Perumahan Adinegoro, Tabing di sebuah rumah yang adem, meski kalau hujan lebat, perumahan itu direndam banjir.

Baca Juga  Beraksi Layaknya Ninja, Kawanan Maling Ditangkap Polisi Payakumbuh

Mak In, adalah kawan saya dan wartawan seangkat. Usianya 63 tahun. Waktu kami sama-sama jadi reporter, Indra Sakti bekerja di Harian Pelita, Jakarta, kemudian Canang. Ia juga pernah sebagai wartawan Singgalang. Ia penulis yang hebat, salah satu tulisannya yang bagus, “Melati di Tengah Kota,” kisah tentang Padang dan Syahrul Ujud. Waktu radio handy talky jadi alat komunikasi utama. Sang walikota disapa “Melati Satu.”

Pria yang sebelum menikah tinggal di Siteba bersama orangtuanya ini, adalah “kamus berjalan.” Ia tahu banyak hal ketimbang kami.

Saya, Gusfen Khairul, Nasrul Azwar, Asril Koto, Aldian dan almarhum punya grup WA. Kabar pertama saya dapat di grup kecil itu. Lalu kami pun bergerak, ada yang ke rumah duka. Saya dan Gusfen ke rumah sakit. Di sana bertemu Hendra Dupa, Rino Zulyadi dan kawan-kawan almarhum dari Adabiah.

Baca Juga  Banjir di Sijunjung, Aparat Gabungan Berjibaku di Lapangan

Hampir sebulan lalu ia mampir ke rumah saya bersama istrinya. Tak lama kemudian ia pergi di bawah gerimis yang baru turun. Sejak itu saya tak jumpa lagi. Ia sibuk mengelola pendidikan TK, aktif di Adabiah dan membantu istrinya jualan macam-macam. Namun, begitu kami terus berkomunikasi di WAG.

Indra Sakti Nauli orang Batak yang sangat Minang. Kami suka mampagarahannya dan ia tak pernah marah. Anak saya menyapanya Pak In, selalu setiap lebaran, saat mereka kecil, berkunjung ke rumahnya di Siteba, Padang.

“Almarhum tiba di rumah duka, pukul 21.5,” tulis wartawan Aldian di WAG. Di sana pelayat sudah ramai. Seorang wartawan elok laku telah pergi, seorang sahabat dan teman seprofesi. Sebaya pula. Kepergiannya membuat saya berpikir tentabg waktu.

Innalilahi wainna ilahirajiun. Selamat jalan Mak In. (Kj)