Dirkeu PT Semen Padang: Jam Gadang Bertahan 100 Tahun karena Teknologi Beton Bertulang, Bukan Mitos Putih Telur

BUKITTINGGI – Mitos penggunaan putih telur sebagai perekat utama dalam pembangunan Jam Gadang kini berhasil dipatahkan melalui pendekatan ilmiah. Dalam Seminar Internasional memperingati 100 Tahun Jam Gadang di Bung Hatta Convention Hall, keandalan menara ini dikaji dari sudut pandang rekayasa material modern. Perhatian utama tertuju pada ketangguhan struktur bangunan yang dianalisis memiliki keterkaitan erat dengan fajar industrialisasi semen nasional di Sumatera Barat.

Direktur Keuangan PT Semen Padang, Iskandar Z. Lubis, mengemukakan bahwa daya tarik sejati dari Jam Gadang adalah konsistensi kekuatannya di zona rawan gempa. Menara setinggi 28,3 meter ini terbukti mampu mempertahankan integritas strukturnya selama satu abad penuh di kawasan patahan aktif Sumatera. Menurutnya, pencapaian ini merupakan bukti nyata dari mutu desain teknis serta kualitas material pengikat yang digunakan pada era tersebut.

Iskandar memaparkan data dari penelitian bertajuk The Construction and Structural Reliability of Jam Gadang yang dirilis oleh akademisi Universitas Bung Hatta pada Maret 2018. Studi komprehensif yang dilakukan pascagempa besar tahun 2007 dan 2009 ini membongkar sistem struktural bagian dalam menara. Hasil investigasi menegaskan bahwa kerangka utama bangunan tidak menggunakan perekat tradisional, melainkan mengadopsi kemajuan rekayasa modern.

Baca Juga  Pemkab Tanah Datar Inginkan Pembangunan 8 Sabo Dam

Berdasarkan pengujian sampel di laboratorium, konstruksi bangunan bersejarah ini secara otentik menggunakan sistem beton bertulang (reinforced concrete). Kerangka kokohnya ditopang oleh anyaman baja tulangan yang terpasang sistematis pada kolom, balok utama, hingga pelat lantai. Penemuan ini secara otomatis mematahkan narasi folklor yang selama ini beredar luas di tengah masyarakat mengenai komposisi bahan bangunan menara.

Secara teknis, hasil pengujian menunjukkan angka kuat tekan beton pada struktur Jam Gadang menyentuh angka minimal 25 Megapascal (MPa). Angka kekuatan tekan sebesar ini dinilai sangat luar biasa untuk standar pengerjaan pada tahun 1926 karena masih setara dengan spesifikasi bangunan struktural modern saat ini. Fakta empiris tersebut menunjukkan bahwa implementasi pengolahan beton tingkat tinggi sudah berjalan matang di wilayah ini sejak seabad lalu.

Logika penggunaan material pengikat modern ini diperkuat oleh fakta linier sejarah industri di Sumatera Barat. Iskandar menekankan bahwa PT Semen Padang telah berdiri kokoh di Indarung, Kota Padang, semenjak tahun 1910 sebagai produsen semen pertama di Asia Tenggara. Keberadaan pabrik semen yang hanya berjarak dekat dari Bukittinggi memberikan landasan rasional yang kuat atas ketersediaan material beton bertulang dalam proyek tahun 1926 tersebut.

Baca Juga  PT Semen Padang Lepaskan 1.500 Ekor Ikan Bilih ke Danau Diatas

Kajian teknis dalam seminar tersebut menyimpulkan bahwa pondasi dasar Jam Gadang masih dalam status sangat prima tanpa adanya penurunan tanah. Kerangka strukturalnya dinilai aman sehingga belum memerlukan tindakan perkuatan (retrofitting) masif. Fokus utama ke depan diprioritaskan pada aspek proteksi arsitektur luar, pembatasan kuota pengunjung menara, serta pemantauan berkala terhadap indikator pergerakan beton.

Bagi PT Semen Padang, pembuktian ilmiah seabad Jam Gadang menjadi refleksi historis yang berharga bahwa produk semen lokal telah mengawal perkembangan infrastruktur ikonik tanah air. Transformasi narasi dari sekadar legenda menjadi fakta ilmiah ini diharapkan memperkuat literasi publik. Ke depan, perusahaan berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian warisan budaya berbasis sains demi kemajuan dunia konstruksi nasional. (*)