Oleh Melda Riani
Empat bulan yang lalu, Fitri Yanti (47) mengira tubuhnya baik-baik saja. Dengan berat badan yang proporsional dengan tinggi badan, ia menjalani aktivitas yang cukup sibuk. Bolak-balik ke Padang – Mentawai tidak pernah membuatnya mengeluh. Ia sesekali harus menetap di Padang sekaligus untuk mengawasi anaknya yang sedang kuliah, sementara sebagian besar waktunya di Kepulauan Mentawai untuk berjualan makanan.
Namun, satu momen menjadi titik perubahan pada dirinya. Yaitu, saat ia diajak untuk melakukan cek kesehatan gratis di Puskesmas Air Dingin Kelurahan Balai Gadang Kota Padang oleh kader kesehatan setempat. Saat itu, ternyata ditemukan masalah kesehatan pada jantungnya. Irama jantungnya tidak normal. Kerisauan sempat timbul di hatinya saat itu. Berbagai kekhawatiran bahkan ketakutan untuk kemungkinan terburuk di masa depan.
Beruntung, lingkungan pertemanan dan keluarga yang suportif membuat Yanti menjadikan momen tersebut sebagai titik balik untuk membuat keputusan: menjalani hidup lebih sehat. Ia kemudian merefleksi ke belakang pola makan dan gaya hidupnya yang masih kurang seimbang. Yanti pun baru menyadari tangan yang sering kesemutan selama ini tapi tak pernah ia indahkan. Ia pun mulai mengubah pola makannya menjadi lebih sehat dengan memperhatikan menu seimbang. Selama tiga bulan terakhir, ia juga rutin meminum air rebusan campuran jahe, kunyit, lengkuas dan serai. Alhasil, kesehatannya saat ini semakin baik. Kesemutan di tangan pun sudah mulai hilang.
Kondisi hampir sama terjadi pada El Wahab (59), warga Kota Padang. Ia yang saat melakukan cek kesehatan gratis di Puskesmas yang sama ternyata juga menemukan masalah pada irama dan detak jantung, sempat syok karena berbagai kemungkinan buruk. Berbeda dengan Yanti, El kemudian menindaklanjuti pengobatan ke layanan kesehatan lebih tinggi. Di salah satu rumah sakit rujukan di Kota Padang, ia kembali menjalani serangkaian pemeriksaan jantung lengkap. Hasilnya, jantungnya ternyata masih berfungsi dengan normal. Hanya saja, debar jantung yang kencang ternyata diakibatkan penyakit asam lambung yang mengarah ke gerd.
“Setelah mengkonsumsi obat asam lambung yang diberikan dokter di rumah sakit, sekarang alhamdulillah, semuanya sudah normal kembali,” katanya kepada topsatu.com, Rabu (19/11) di Padang.
El adalah salah satu warga yang merasakan manfaat dari cek kesehatan gratis. Menurutnya, dengan mengetahui penyakit lebih dini, ia bisa lebih aware dengan penanganan serta memperbaiki pola makan dan gaya hidup menjadi lebih sehat. Ia tidak setuju dengan pandangan yang mengabaikan pemeriksaan kesehatan karena ketakutan akan mengetahui kemungkinan penyakit yang lebih serius.
“Akan lebih baik mengetahui lebih cepat daripada terlambat tahu,” katanya.
Sementara itu, salah seorang kader ILP (Integrasi Layanan Primer) di wilayah Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah Kota Padang, Yusnita, mengaku sejauh ini masyarakat yang berada di wilayah tugasnya sangat antusias mengikuti CKG. Hal itu dibuktikan dari minat warga yang cukup tinggi mendatangi Puskesmas untuk memeriksakan gula darah, kolesterol, tekanan darah maupun pemeriksaan jantung.
Ia menilai, program CKG sangat penting karena kebanyakan masyarakat yang bekerja terlalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan rumah tangga sehingga sering kali tidak mengindahkan gejala-gejala penyakit yang mungkin timbul. Sekali diperiksa ternyata malah sudah dalam kondisi yang parah sehingga pengobatan menjadi lebih sulit.
Ia tak menampik masih ada warga yang suka takut untuk memeriksakan kesehatan karena beranggapan dengan pemeriksaan mereka justru makin khawatir dengan penyakit yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Menurutnya, justru dengan mengetahui lebih cepat, penanganan bisa lebih cepat dilakukan. Dari berbagai kasus, banyak penyakit yang sudah tidak bisa diobati karena baru diketahui dalam kondisi stadium lanjut.
“Karena itu, lebih baik sedini mungkin diperiksa kesehatan sehingga lebih cepat diketahui penyakit yang diidap,” katanya kepada topsatu.com, Rabu (19/11).
Cek Kesehatan Gratis (CKG) merupakan program Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemkes) RI yang telah dimulai semenjak 10 Februari 2025. Program tersebut awalnya diperuntukkan bagi warga yang berulang tahun sebagai kado ulang tahun dari negara kepada yang bersangkutan. Namun kini, pemeriksaan gratis dapat dilakukan bagi siapapun dan kapan saja. Program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia dengan menyediakan pemeriksaan gratis, sudah mencakup berbagai jenis penyakit yang diperiksakan pada seseorang. Program tersebut tersedia untuk berbagai kelompok usia mulai dari bayi, remaja, hingga lansia.
Dikutip dari Antara, semenjak diluncurkan hingga September 2025, sudah ada 29,8 juta peserta yang telah memeriksakan kesehatannya. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi mengatakan, sudah hampir semua Puskesmas di Indonesia yang menerima pemeriksaan gratis. Dari semua peserta CKG, kebanyakan perempuan yang mencapai 57,5 persen dan sisanya 42,5 persen peserta laki-laki. Pemerintah menurutnya berupaya tersus agar program CKG bisa menjangkau seluruh masyarakat Indonesia di berbagai daerah.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin saat berada di Padang pertengahan Agustus 2025 lalu memastikan bahwa CKG akan menyasar daerah-daerah terpencil di Tanah Air. Terdapat sekitar 10 ribu puskesmas yang tersebar di seluruh kelurahan dan kecamatan. Pemeriksaan kesehatan gratis juga menyasar anak didik hingga ke pelosok negeri.
CKG pada akhirnya akan menjadi momen kecil yang membuka jalan bagi banyak orang untuk mengenali tubuhnya sendiri, menghadapi masalah kesehatan yang selama ini mungkin terabaikan. CKG juga dapat menjadi titik balik bagi seseorang untuk memulai perubahan menjalani hidup lebih sehat. Tak perlu lagi menunggu sakit baru diobati. Hidup lebih sehat harus dimulai dari mengetahui kondisi kesehatan diri sedini mungkin. (*)












