FOTO BERSAMA – Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Padang, Ns. Nova Yanti, M.Kep., Sp.Kep.MB, bersama tim dan lainnya, foto bersama setelah acara. (Ist)
Padang – Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Padang melalui skema Program Kemitraan Wilayah (PKW), bekerja sama dengan Puskesmas Lubuk Buaya Padang, menggelar pelatihan peer group support untuk 40 penyandang diabetes melitus dan 06 orang kader kesehatan dari empat kelurahan di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Acara digelar di Puskesmas Lubuk Buaya, Sabtu (29/8) lalu.
Kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan memberdayakan kelompok pendukung sebaya, guna meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes di wilayah tersebut. Peserta pelatihan berasal dari empat kelurahan, yaitu Kelurahan Lubuk Buaya, Pasia Nan Tigo, Batang Kabung Ganting, dan Parupuk Tabing.
Keempat lurah dari kelurahan tersebut, turut hadir mendampingi warganya dalam kegiatan. Hal ini menunjukkan dukungan penuh pemerintah kelurahan terhadap upaya pengendalian penyakit tidak menular di wilayah Koto Tangah.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Direktur Poltekkes Kemenkes Padang yang diwakili oleh Wakil Direktur III, Heppi Sasmita, M.Kep., Sp.Jiwa. Dalam sambutannya, Heppi Sasmita menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi lintas sektor antara Poltekkes Kemenkes Padang, Puskesmas Lubuk Buaya, dan pemerintah Kecamatan Koto Tangah.
“Saya berharap program pemberdayaan peer group support ini dapat berjalan berkelanjutan dan dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat penyandang diabetes,” katanya, Minggu (6/9/2026).
Sementara Kepala Puskesmas Lubuk Buaya, dr. Muhammad Fardan, dalam sambutannya menyoroti pentingnya peran serta masyarakat, dalam mendukung pengelolaan mandiri penyakit diabetes di tengah keterbatasan sumber daya layanan kesehatan primer. Ia menilai pendekatan berbasis kelompok pendukung sebaya, sejalan dengan upaya Puskesmas dalam memperluas jangkauan edukasi dan pemantauan pasien diabetes di wilayah kerjanya.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Camat Koto Tangah yang diwakili oleh Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial (Kasi Kesos) Kecamatan Koto Tangah, Wahyudi Edward, S.STP. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh unsur kelurahan dan masyarakat untuk mendukung penuh program ini sebagai bagian dari upaya bersama menekan angka kasus diabetes yang terus meningkat di wilayah Koto Tangah.
Pelatihan ini merupakan tahap awal dari rangkaian Program Kemitraan Wilayah “Pemberdayaan Peer Group Support dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Penyandang Diabetes Melitus di Kecamatan Koto Tangah”, yang menargetkan terbentuknya minimal sepuluh kelompok pendukung sebaya aktif. Peserta yang telah dilatih akan berperan sebagai fasilitator sebaya (peer facilitator) yang bertugas melakukan deteksi dini, pemantauan kadar gula darah secara berkala, serta edukasi pengelolaan mandiri diabetes bagi masyarakat di lingkungan masing-masing.
Sebagai bekal pendamping, seluruh peserta juga menerima buku panduan berjudul “Sahabat Diabetes: Panduan Infografis Manajemen Diabetes di Rumah”. Buku bergambar infografis ini disusun untuk memudahkan penyandang diabetes dan kader dalam memahami langkah-langkah praktis manajemen diabetes secara mandiri di rumah, sekaligus menjadi acuan bagi kelompok peer group support dalam menjalankan aktivitas pendampingan dan diskusi sesama anggota.
Sementara Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Padang, Ns. Nova Yanti, M.Kep., Sp.Kep.MB, menjelaskan, pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat yang akan terus berlanjut. Setelah pelatihan ini, para fasilitator sebaya yang telah dibekali akan bertugas mendampingi penyandang diabetes di kelurahan masing-masing melalui wadah Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang sudah berjalan di Puskesmas Lubuk Buaya.
“Rencana tindak lanjutnya tidak berhenti pada terbentuknya sepuluh kelompok peer group support saja. Kami berharap setiap kelompok ini benar-benar berjalan dan bertemu secara rutin dan berkelanjutan, sehingga penyandang diabetes memiliki wadah tetap untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan satu sama lain dalam mengelola penyakitnya,” ujarnya.
Peningkatan kasus diabetes melitus di Indonesia menjadi salah satu perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes nasional meningkat menjadi 10,9 persen, naik dari 8,5 persen berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Kondisi serupa turut dirasakan di Kota Padang, khususnya Kecamatan Koto Tangah, yang menunjukkan tren peningkatan kunjungan pasien diabetes di layanan kesehatan primer.
Melalui program ini, Poltekkes Kemenkes Padang berharap pendekatan pendampingan berbasis komunitas dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat. Selain itu, dapat memperkuat kepatuhan pengelolaan mandiri, sekaligus mengurangi stigma sosial yang masih melekat pada penyandang diabetes di tengah masyarakat. (Hendri)












