Hidup Harus Terus Berlanjut, Asa pun Dirajut Meski dari Balik Ruang Hemodialisis

Mesin cuci darah. (ist)

Oleh Melda Riani

Dunia seperti berhenti sejenak bagi Marnelis (48), saat dokter memvonis suaminya harus cuci darah. Air mata yang tertahan hanya sebagian kecil dari ketakutannya menghadapi hari-hari berikutnya. Yang terbayang baginya adalah kesakitan berkepanjangan, ketergantungan obat dan lebih dari itu, ketakutan akan kondisi sang suami yang semakin memburuk.

Perempuan itu, seorang ibu rumah tangga yang cakap. Selalu menyiapkan menu rumahan yang enak dari racikan tangannya sendiri. Ia menjaga makanan yang menurutnya baik dan tidak berlebihan untuk suami dan anak-anaknya. Begitu pun sang suami, seorang yang tidak neko-neko dalam makanan. Ia juga sering beraktifitas fisik serta rajin mengkonsumsi minuman herbal atau alami. Namun, siapa sangka penyakit kronis tetap menghampiri.

Vonis cuci darah itu bermula dari keluhan asam lambung yang diderita sang suami. Pada hari ke dua Ramadhan tahun 2026, suaminya mengeluhkan nyeri di dada, mual hingga sesak nafas. Saat itu, ia dibawa ke IGD salah satu rumah sakit swasta di Kota Padang. Dari pemeriksaan dokter, sang suami diduga menderita asam lambung yang cukup parah sehingga harus dirawat selama seminggu.

Usai dirawat, suaminya, Andi Wijaya (52), seorang pengusaha kuliner, belum benar-benar pulih. Tubuhnya masih sering lemas dan nafsu makannya tak kunjung kembali normal. Saat dilakukan kontrol kembali ke rumah sakit, ternyata kadar hemoglobin di darahnya masih rendah. Kondisi tersebut terus berlanjut sampai sekitar sebulan kemudian mual dan sesak nafasnya kembali kambuh sehingga ia kembali dilarikan ke IGD Rumah Sakit Unand Padang. Saat itulah, dokter menyatakan bahwa kadar kreatinin dalam darah yang tinggi serta beberapa indikator lainnya sudah mengharuskannya melakukan hemodialisis (HD) alias cuci darah.

Ternyata, keluhan mual selama ini bukan murni penyakit maag atau asam lambung, melainkan racun di darah yang tidak bisa dikeluarkan dari tubuh karena ginjal mulai tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Begitu pula kadar HB yang rendah ternyata karena ginjal yang rusak sehingga tidak mampu memproduksi hormon eritropoietin untuk membentuk sel darah merah.

Andi bercerita, sekitar lima tahun yang lalu saat melakukan cek kesehatan untuk menunaikan ibadah haji, kadar gulanya sangat tinggi. Petugas waktu itu memintanya untuk bisa menurunkan kadar gula sebelum berangkat haji.

“Nah, setelah itu, kadar gula sudah kembali normal,” katanya kepada topsatu.com saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Balai Gadang Kota Padang, Sabtu (25/7).

Tak disangka, gula tinggi yang pernah dialaminya menjadi bom waktu beberapa tahun kemudian. Padahal, dalam jangka waktu selama itu, ia tak pernah mengeluhkan hal-hal yang serius. Apalagi, saat memeriksakan kesehatan ke fasilitas kesehatan setelah itu, kadar gulanya juga tidak terlalu tinggi.

Baca Juga  Kereta Api Tabrak Pikap di Tabing, Pengemudi Luka-luka

“Baru saya sadari, ternyata penyakit gula atau diabetes ini merupakan silent killer. Tiba-tiba saja merusak fungsi ginjal tanpa disadari,” ujarnya.

Sisi positifnya, sambil tersenyum ia mengatakan, badan menjadi lebih segar begitu selesai melakukan cuci darah. Padahal, sebelumnya ia pernah seminggu tidak tidur karena menahan sakit. Sekarang, kekuatannya kembali setelah rutin melakukan cuci darah.

“Ambil positifnya saja. Hidup harus terus berjalan, kan,” kata peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) mandiri ini penuh semangat.

Sang istri, Marnelis menambahkan, semangat dari pasien cuci darah juga didapat dari ruangan cuci darah atau hemodialisis. Saat menjalani cuci darah yang bisa menghabiskan waktu sampai 4 jam, pasien dan keluarga pasien biasa saling menguatkan dan memberi semangat. Begitu juga petugas medis yang mendampingi, mereka pun sudah akrab dan bergurau layaknya teman.

Menurutnya, dengan proses cuci darah yang cukup lama dan rutin bertemu dua kali seminggu, ada ikatan emosi yang terjalin di antara sesama pasien, keluarga pasien dan petugas medis. Sehingga, mereka pun sudah seperti keluarga. Apalagi, ada beberapa pasien yang kondisinya sudah cukup parah, tapi malah semangat hidupnya jauh lebih tinggi.

“Ada pasien yang lebih parah tapi tetap ceria dan semangat. Jadi, kita ikut tertular semangatnya. Petugas medisnya pun seperti itu, selalu hangat dan memberi semangat,” ujarnya bercerita.

Hal yang sama dikemukakan Erniwati (47), pasien gagal ginjal yang telah tiga tahun menjalani cuci darah. Sebelumnya, ia merupakan penderita diabetes dengan faktor genetik dari ibunya. Sebelum memutuskan untuk cuci darah, ia pernah sangat lama berpikir dan menimbang-nimbang.

“Dulu, saya sangat takut dengan cuci darah karena banyak sekali cerita kalau cuci darah itu cuma akan membuat ketergantungan dan malah membuat kondisi semakin memburuk. Jadi, saya coba menghindarinya dengan berobat alternatif. Tapi, sudah berbagai obat alternatif yang dicoba, ternyata tidak membantu,” ceritanya kepada topsatu.com di Padang beberapa waktu lalu.

Warga asli Bukittinggi itu kini menjalani hemodialisis di rumah sakit yang sama dengan Andi. Ia memilih untuk melakukan cuci darah di Padang mengikuti anaknya yang sedang kuliah di kota itu. Sebagai peserta BPJS Kesehatan, selama ini ia tak pernah terkendala, termasuk saat berpindah rumah sakit rujukan dari Bukittinggi ke Kota Padang.

Baca Juga  Pengunjung Pantai Air Manis Padang Dibatasi 25 Persen

“Ternyata cuci darah itu tak semenakutkan yang saya pikir sebelumnya. Walaupun kalau bisa memilih tentu kita memilih untuk bisa lebih sehat. Tapi, ya, mau apalagi, ini sudah jalannya. Yang penting tetap semangat menjalani,” ujarnya.

Usaha Promotif dan Preventif

Pasien cuci darah di Indonesia terus melonjak. Dari data Kementerian Kesehatan, pasien cuci darah saat ini mencapai angka 200 ribu lebih dengan penambahan sekitar 60 ribu pasien setiap tahunnya. Karena itu, pemerintah termasuk BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan melalui fasilitas kesehatan menggiatkan upaya promotif preventif untuk menjaga peserta yang sehat tetap sehat dan peserta yang sakit agar kondisinya tidak bertambah parah.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito dalam Public Expose Laporan Pengelolaan Program dan Laporan Keuangan BPJS Kesehatan Tahun 2025 pada 2 Juli 2026 yang ditayangkan secara live melalui saluran youtube resmi lembaga mengatakan,  sepanjang tahun 2025, biaya pelayanan kesehatan mencapai Rp191,3 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 26,42 persen di antaranya digunakan untuk pembiayaan penyakit katastropik, yang sebagian besar sebenarnya dapat dicegah melalui penerapan pola hidup sehat dan deteksi dini. Karena itu, BPJS Kesehatan senantiasa mengoptimalkan upaya promotif dan preventif dan meningkatkan kualitas layanan.

Sementara itu, di lini bawah, institusi kesehatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat, yakni Puskesmas, ikut terlibat aktif dalam upaya promotif preventif ini. Salah satunya melalui kegiatan pendampingan asuhan mandiri dan akupresur. Seperti diungkapkan Yusri Eta dari Bagian Gizi Puskesmas Air Dingin Kelurahan Balai Gadang Kota Padang saat memberikan edukasi di Kompleks Villa anggrek, Senin (27/7), pihaknya mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan tanaman-tanaman obat serta melakukan akupresur (pemijatan pada titik-titik tertentu) sebagai upaya membantu menangani penyakit-penyakit ringan.

Pada akhirnya, mencegah memang jauh lebih baik dari pada mengobati. Karena itu, berbagai upaya promotif dan preventif yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan harus terus digalakkan. Namun, pada kondisi yang memang tak terelakkan, maka layanan kesehatan sebagai garda terdepan dengan dukungan positif dari petugas medis serta lingkungan sekitar bahkan sesama pasien sendiri, akan menjadi suntikan semangat bagi mereka yang semula kehilangan harapan. Tidak ada yang ingin berakhir di rumah sakit untuk menjalani perawatan. Namun, hidup harus terus berlanjut, bahkan asa pun harus terus dirajut meski dari balik ruang hemodialisis. (*)