PADANG – ‘Jurnalisme Audio Visual di Era Digital’, topik yang dibahas, Jamalul Insan Jurnalis Televisi Senior ketika memberikan materi kepada 15 penerima Journalism Fellowship on CSR Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan TBIG melalui zoom meeting, Rabu (10/6/2026).
“Sudah suratan takdir, garis tangan kita dipertemukan semuanya dalam kegiatan ini. Sekarang kita hidup di era digital dan pengalaman masa lalu menjadi catatan sejarah membuat kita lebih ‘kaya’ pengetahuan. Nikmatilah segala kemudahan tersebut,” ucap Jamalul Insan seraya memulai ‘dongeng’ perjuangannya sebagai jurnalis televisi di RCTI pada 1995.
Jamalul Insan mengisahkan perjuangannya ketika meliput kala itu. Contoh saja, liputan banjir. Sebagai seorang reporter turun ke lapangan, ia tak bisa sendirian, minimal berdua bersama dan kameramen. Bahkan kalau diperlukan ada tambahan satu orang lagi untuk pegang lampu ataupun membantu perjalanannya.
“Setidaknya, setiap turun ke lapangan minimal dua orang,” tegasnya. Usai meliput dan wawancara, Jamalul Insan harus pulang ke kantor dahulu, untuk mengolah liputan tadi. Tapi, situasi tak memungkinnya untuk balik. Agar hasil liputannya bisa tayang cepat, ada bantuan messenger, yang bertugas mengambil kaset lengkap dengan skripnya.
“Kala itu, saya catat skrip/narasinya di secarik kertas. Dimasukan dalam kaset untuk diserahkan ke produser. Tak ada handphone, melainkan pager. Saya baru punya handphone pada 1996,” cerita Jamalul Insan berkisah. Produser dan asistennya pun mempreview, apakah cocok skrip dan videonya. Diketik ulang lagi. Usai pengecekan dan pengeditan, dibawa ke ruangan dubbing, untuk proses perekaman suara pembacaan skrip. Usai proses editing rekaman dan suara narasumber, produser dan asistennya melakukan pengecekan kembali, sebelum sampai ke presenter/pembaca berita dan saksikan masyarakat di televisi.
“Intinya membutuhkan waktu yang panjang dan sumber daya manusia (SDM) yang banyak sekali agar muncul di layar. Tentunya dengan durasi berita hingga dua menit dengan wawancara narasumber 10 – 20 second,” ucapnya. Nyatanya yang terjadi hari ini, tegas Jamalul Insan, tidak lagi memerlukan SDM dan peralatan yang mahal. Jika dahulu, satu kamera saja mencapai harga Rp90 – 150 juta. Dengan berat baterainya, 4-5 kilogram. Sudah berat, mahal, butuh orang pula. Namun sekarang, dengan modal handphone sudah bisa tayang.
“Hanya bermodal handphone sudah bisa memproduksi audio visual jurnalistik, seperti layaknya ‘produksi televisi zaman dulu’. Pendistribusiannya sampai dunia pula, bukan lagi nasional,” ucapnya. Berdasarkan Research Director Deka Insight Mamik S Leonardo, Juli 2019, dari 93 persen responden pemilik smartphone lebih sering menggunakan smartphone untuk mengambil gambar dari pada menelpon sebesera 87 persen.
Nah, sekarang trendnya, mobile journalism (mojo). yakni memungkinkan jurnalis meliput langsung dari lapangan secara gesit bermodalkan ponsel pintar berkualitas tinggi. Selain itu, short form and vertical podcast video yang didominasi video vertikal pendek (TikTok, Shorts, Reels) untuk menyederhanakan isu kompleks bagi generasi muda.
Selanjutnya, podcast video dominasi video vertikal pendek (TikTok, Shorts, Reels) untuk menyederhanakan isu kompleks bagi generasi muda. Narasi mendalam dan intim dalam format audio visual panjang, menawarkan diskusi kontekstual yang kaya. “Ponsel pintar bukan lagi sekadar alat komunikasi biasa, melainkan stasiun produksi berita mandiri yang siap meliput berita kapan saja. Beberapa keunggulan utamanya meliputi, efisiensi operasional tanpa ketergantungan kru studio yang masif. Kecepatan rilis berita langsung dari tempat kejadian perkara (TKP). Pendekatan wawancara yang terasa lebih intim dan tidak intimidatif bagi narasumber,” jelasnya.
Kemudian, ia menjelaskan konten audio visual (AV) jurnalistik dalam bentuk suara dan gambar, mengedepankan fakta, verifikasi, dan etika jurnalistik, memiliki nilai berita dan kepentingan publik. Adapun ciri-ciri produksi konten AV jurnalistik digital, cepat dan real-time, multiplatform (YouTube, TikTok, IG, Podcast), interaktif (komentar, live chat, polling), mobile friendly, visual menarik dan informatif. Selanjutnya, proses produksi konten AV Jurnalistik, dimulai dari perencanaan, riset, narasumber, angle berita. Produksi dengan pengambilan gambar/audio, wawancara. Pasca produksi dengan editing, teks/grafik. Publikasi dan distribusi, unggah ke platform, promosi.
Tools teknologi yang digunakan Kamera HP, mic, tripod dengan software editing, Capcut, Premiere. Untuk platform distribusi YouTube, TikTok, IG “Etika jurnalisme digital tetap berlaku akurasi, objektivitas, verifikasi. Tantangannya clickbait vs kredibilitas, disinformasi, polarisasi opini dan deep fake. Contoh Podcast ‘Bocor Alus’ Tempo,” ucapnya. (009)












