Seni di Atas Puing: Jurnalis Perempuan Medan Suarakan Luka 13 Ribu Pengungsi Lewat Panggung Teater

MEDAN – Ketika lampu panggung menyala di Auditorium Bung Karno, Sabtu, 7 Maret 2026 mendatang, para jurnalis perempuan tidak akan memegang pena atau mikrofon.

Mereka akan hadir dengan tubuh, suara, dan rasa. Sebuah pertunjukan teater bertajuk “Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan” siap digelar sebagai tamparan bagi nurani publik yang mulai lupa pada duka pengungsi Sumatera.

Pementasan ini merupakan kolaborasi kreatif dari Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Rumah Literasi Ranggi (RLR), dan Medan Teater Tronic (MTT). Ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah aksi “Jurnalisme Pertunjukan” untuk mengawal isu pemulihan bencana yang kini mulai redup dari sorot kamera.

Ironi 13 Ribu Jiwa di Balik Tenda Ramadan

Di tengah suasana menyambut bulan suci Ramadan, terdapat kenyataan pahit yang harus disuarakan. Berdasarkan data dari Ketua Satgas Pemulihan Bencana Banjir Sumatera, Tito Karnavian, sekitar 13 ribu warga masih bertahan di tenda pengungsian.

Baca Juga  FJPI –PWI Sumbar Gelar Roehana Koeddoes Award

Sudah tiga bulan berlalu sejak banjir bandang menerjang, namun ribuan orang masih tidur beralaskan puing rumah sendiri, menyewa tempat seadanya, hingga nekat kembali ke bangunan rusak demi bisa bertahan hidup.

“Setelah gemuruh air surut dan sorot kamera meredup, perjuangan sesungguhnya justru dimulai, yakni pemulihan. Isu bencana Sumatera harus terus naik di media agar penanganan korban bisa cepat dan pasti,” tegas Ketua Umum FJPI, Khariah Lubis (Awi).

Panggung Ekspresi Sekaligus Ruang Donasi

Pementasan yang disutradarai oleh Hafiz Taadi—seniman teater Medan didikan Rendra—ini dirancang untuk menembus sekat emosi penonton. Baginya, teater adalah medium paling jujur untuk menyampaikan informasi yang mungkin selama ini hanya dianggap sebagai angka di dalam berita.

“Teater dipilih karena melalui tubuh dan dialog, pesan bisa menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam. Ini adalah pengingat bahwa tanggung jawab pemulihan adalah milik kita bersama,” tambah Awi.

Selain menjadi ajang silaturahmi dan buka puasa bersama, pementasan ini juga membuka pintu donasi. Seluruh dana yang terkumpul akan disalurkan langsung kepada korban terdampak yang telah menderita selama lebih dari 90 hari.

Baca Juga  Kecam Keputusan Duterte, FJPI: Penutupan Rappler Jadi Lampu Merah bagi Kemerdekaan Pers di Filipina

Memperluas Gerakan Literasi Kemanusiaan

Ranggini, Ketua Rumah Literasi Ranggi sekaligus penulis naskah, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini adalah bentuk perluasan gerakan literasi. Baginya, literasi bukan hanya soal baca-tulis, tapi juga kesadaran sosial melalui karya seni.

“Masyarakat diundang hadir tidak hanya sebagai penonton, tapi sebagai bagian dari gerakan kebaikan. Melalui dukungan dan donasi, kita ingin menjadi cahaya harapan bagi mereka yang masih terdiam di tenda-tenda pengungsian,” ujar Ranggini.

Salurkan Kepedulian Anda
Bagi masyarakat yang ingin berbagi beban dengan para pengungsi, donasi dapat disalurkan melalui:

BCA Syariah: 0500059613
a.n. Yayasan Rumah Literasi Ranggi

Informasi lebih lanjut mengenai partisipasi dan mekanisme donasi dapat dilihat melalui kontak person yang tertera pada media publikasi resmi acara.