SIJUNJUNG – Untuk menerepkan nilai nilai budaya Minangkabau, agar tidak tergeser oleh kamajuan teknologi yang berkembang pesat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbu) Kabupaten Sijunjung, membuat langkah langkah pembelajaran melalui penyusunan Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Bahasa dan Sastra Munangkabau.
Sebelum Kurikulum Mulok ini diterapkan, jajaran Disdikbud setempat, melakukan uji publik kurikulum ini dengan mendatangkan tim dari Fakuktas Ilmu Budaya Unand sebagai tim ahli penyusunan Mulok, dipimpin Dr. Drs. Hasanuddin, M. Si. Dt Tan Patih, Selasa (14/10) di aula Dinas Dikbud setempat.
Kadis Dikbud Puji Basuki, mengawali pertemuan uji publik menyebutkan pelestarian budaya ini merupakan bagian dari kegiatan dinas pendidikan. Target adalah bagaimana budaya minangkabau ini tetap bisa dilestarikan melalui intraksi belajar mengajar di jenjang TK, SD dan SMP.
Saat ini muncul kegamangan adat Minangkabau ini akan tegeser dengan berjalannya waktu dan kemajuan telnologi. ” Bahasa ini selalu berkembang dan bahkan banyak kosa kata yng muncul. Kalau ke arah pisitif tak jadi masalah yang lebih memiriskan itu diplesetkan ke yang negatif, ” ujar Puji
Namun Puji mengakui, walaupun masih ada beberapa dalam konteks tertentu yang berobah, namun keaslian masih tetap ada. Untuk itu, melalui kurikulum mulok ini bisa diterapkan kembali nilai nilai budaya Minangkabau ini secara utuh.
Bupati Sijunjung, diwakili Asisten I, Aprizal, M. Si, saat membuka uji publik Kurikulum Mulok ini mengharapkan ke depan jangan sampai anak kamanakan dan cucu orang Minangkabau merasa asing di negeri sendiri. Malah lebih memiruskan lagi anak kemanakan dan cucu tidak mau tau dan tidak mau belajar budaya Minangkabau. ” Ini yang perlu jadi perhatian kita bersama, dan program ini merupakan pondasi dalam mewariskan untuk mencintai budaya minangkabau, ” katanya.
Kurikulum mulok ini adalah suatu wadah dan perlu dukungan bersama untuk menerapkan mulai dari usia dini. Sehingga generasi mendatang mengerti bahasa Minangkabau dan paham adat Minangkabau” Jan sampai jalan di alieh urang lalu, cupak dituka dek urang manggaleh, ujar Aprizal berpepatah.
Ia tidak mentolerir, bahwa budaya Minangkabau sudah mulai agak tergeser di tengah kehidupan masyarakat. Untuk itu bagaimana kurikulum ini bisa disaat saat tertentu menjadi keharusan dan bisa menjadi karakter bagi generasi kedepan. Berbahasa yang santun dan berkepribdian yang sopan serta menjunjung tinggi budaya budaya Minangkabau.
” Karena kurikulum ini menjadi bahan ajar, supaya mendatangkan motivasi bagi peserta didik diharapkan materi yang disajikan mendatangkan suasana yang menyenangkan bagi peserta didik. Dan hal ini merupakan tanggung jawab bersama termasuk, LKAM, alim ulama , Bundo Kanduang dan pemuka masyarakat lainnya, harap bupati.
Uji publik Kurikulum Mulok ini juga dihadiri oleh Angku Surau Simawuang, Ketua LKAM, Zulma Fitra Datuak Gindojolelo, Ketua Bundo Kanduang Gusmanidar, Ketua PGRI, Ketua dan anggota KKKS, MKKS, Pengawas instansi terkait.(*)












