BATUSANGKAR – Si Binuang dan Si Gumarang masih berdiri kokoh dan gagah di halaman Istano Basa Pagaruyung, keduanya sekian tahun menyambut kehadiran pengunjung.
Si Binuang dan Si Gumarang hanya merupakan replik dari seni patung, namun boleh disebut menjadi koleksi museum Istano Basa karena terlibat akfif dalam pergumulan sejarah dan raja-raja Pagaruyung.
Keduanya dibangun seniman patung pada tahun 1974, sebagai replik Sibinuang menyimbolkan hubungan Minangkabau dengan kerbau sebagai lambang sosial budayanya berada disisi kiri Istano persis disamping rangkiang.
Sementara diarah kanan Istano, Si Gumarang merupakan seekor kuda yang menjadi kenderaan utama bagi raja di Istano Basa.
Aktifis budaya Tanah Datar Kamaruzaman menyebut antara Si Bibuang dan Si Gumarang merupakan refleksi dari kehidupan dan tatananan sosial Istano Basa saat masih masih hidup atau berkuasa.
“Kita melihat dari sisi tradisi Istano kala itu dengan menyimbulkan kerbau sebagai lambang dan tradisi sosial masyarakat hingga lapisan ke bawah untuk mengolah lahan pertanian atau tabungan, kemudian kuda sebagai sarana transportasi untuk berperang,” kata Kamaruzaman.
Menurutnya, kalau Si Binuang dan Si Gumarang dihubungkan dengan tambo atau historian Istano Basa, maka ikatan jelas ada. Makanya, kedua replika patung itupun ikut menjadi museun Istano Basa.
Sementara, dari tambo Cindua Mato dikisahkan tentang Si Binuang dan Si Gumarang adalah dubalang yang setia di Istano Basa. Berdiplin ketat, patuh tanpa sikap ragu kepada kerajaan selaras dengan watak tuannya.
Cindua Mato bersama Si Binuang dan Si Gumarang dapat merebut Puti Bungsu dari Ranah Sungai Ngiang. Cindur Mato lambang kepribadian laki-laki Minangkabau, tempat orang meniru meneladani, karena dalam darahnya mengalir keagungan seorang ibu Minangkabau.

Sibinuang adalah seekor kerbau sakti, sebagai mas kawin untuk Puti Bungsu. Dengan menunggang kuda sakti, Si Gumarang, dan ditemani kerbau sakti, Si Binuang, Cindua Mato berjalan menuju
Ranah Sikalawi. Di perbatasan sebelah timur di dekat Bukit Tambun Tulang, dia menemukan tengkorak-tengkorak berserakan.
Setelah membacakan jampi-jampi, dan berkat tuah Dang Tuanku, tengkorak-tengkorak tersebut mampu menceritakan kisah sebelumnya adalah para pedagang yang bepergian melalui bukit Tambun Tulang dan dibunuh para penyamun. Mereka mendesak Cindua Mato untuk berbalik dan kembali, namun Cindua Mato menolak. Tak lama sesudahnya para penyamun menyerang, namun dengan bantuan Si Binuang, ia berhasil mengalahkan mereka. Para penyamun tersebut mengaku bahwa Imbang Jaya raja Sungai Ngiang, mempekerjakan mereka tak hanya buat memperkaya dirinya, tetapi juga untuk memutus hubungan antara Pagaruyung dan Rantau Timur.
Kedua cerita di atas menjelaskan bahwa dengan mengunakan kerbau nenek moyang orang Minangkabau mampu mengalahkan pasukan majapahit yang kuat.
Cerita ke dua menjelaskan bahwa kerbau merupakan hewan yang setia dan patuh. Ditulis oleh Zulrahmansyah Daulat Rajo Mudo dalam http://mozaikminang.wordpress.com. Pada 22 Januari 2011 tentang Tambo Nagari Lunang-dan-sejarah-mande-rubiah kepada tuannya dan mampu menolong tuannya.
Hal ini terlihat jelas dengan cerita kerbau Sibinuang yang mampu membela tuannya ketika Cindu Mato ingin menyampaikan pinang ke Puti Bungsu. (yusnaldi)












