Semen Padang Uji Coba Maggot untuk Pakan Ikan Nila, Dr. Resti Rahayu: Uji Coba Maggot Bisa Diterapkan untuk Pakan Unggas

PADANG – Inovasi pengelolaan limbah organik terus dikembangkan oleh PT Semen Padang melalui uji coba larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot sebagai pakan ikan. Program ini merupakan kolaborasi dengan Universitas Andalas dan Pemkot Padang dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan dan menjaga lingkungan.

Dr. Resti Rahayu dari Departemen Biologi FMIPA Universitas Andalas menjadi salah satu peneliti utama dalam proyek ini. Ia menjelaskan bahwa uji coba dilakukan di 12 kolam kecil berisi ikan nila dengan perlakuan pakan berbeda selama 45 hari. “Kami ingin mengetahui efisiensi pakan maggot dibandingkan pakan konvensional,” katanya.

Menurut Dr. Resti, setiap kolam diisi 20 ekor ikan nila dengan bobot awal 100–125 gram. Variasi pakan terdiri dari pelet komersial, pakan olahan Gerpari, pelet berbasis maggot (Kito SP), dan kombinasi maggot segar dengan pelet komersial.

Baca Juga  Semen Padang Sukses Gelar Program Mudik Gratis ke Mentawai, Wujud Kepedulian BUMN untuk Masyarakat

Hasil dari percobaan akan dianalisis berdasarkan pertambahan bobot ikan dan efisiensi biaya pakan. “Kalau hasilnya menjanjikan, maggot bisa jadi alternatif utama untuk pakan ikan nila. Kalau tidak maksimal, kita akan alihkan ke pakan unggas,” ujarnya.

Dr. Resti menilai bahwa potensi maggot tidak hanya terbatas pada ikan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk unggas seperti ayam dan bebek. Kandungan protein tinggi pada maggot membuatnya sangat layak sebagai pakan hewani.

Kegiatan ini berlangsung di Pokdakan Lubuk Tampurung Indah, Kecamatan Kuranji, dan menjadi bagian dari program TJSL PT Semen Padang yang fokus pada pengolahan limbah dan penguatan ekonomi masyarakat.

Baca Juga  Ikuti Pelatihan Satpam, Pekerja Serabutan Bersyukur Difasilitasi Semen Padang

Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Perikanan dan Pangan menyambut baik inisiatif ini. “Pakan alternatif ini berperan penting untuk mendukung pembudidaya yang kesulitan menghadapi harga pakan konvensional yang mahal,” kata Alfian.

Selain menekan biaya produksi, program ini juga memberi solusi atas permasalahan sampah organik yang terus meningkat. Ini sejalan dengan misi pemerintah dalam menangani darurat sampah secara sistematis.

Dr. Resti berharap penelitian ini bisa menjadi referensi ilmiah untuk pengembangan maggot dalam skala nasional, khususnya dalam pemanfaatan limbah organik menjadi sumber daya berkelanjutan. (*)