TIKU – Pemuda kelahiran 28 tahun lalu, Rodi Indra Syahputra, warga Jorong Ujuang Labuang, Nagari Tiku V Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, tidak pusing dengan langkanya lapangan kerja. Dalam kondisi itu, ia mampu membuka lapangan kerja sendiri mengolah ikan segar (maco).
Menurut Rodi, Rabu (29/1), ikan Asin olahannya dengan merek ‘Rodi Maco’ laris di pasaran. Ia mengemas maco 100 gram seharga Rp5 ribu, 250 gram Rp15 ribu-40 ribu. “Tergantung dari jenis ikan yang diolah,”katanya.
Gagasan ini berawal, melihat harga ikan segar terlalu rendah. Sebagai nelayan tangkap di Ujuang Labuang, kampung kelahiran, ia meras rugi.
Menyaksikan kondisi seperti terbersitlah suatu pemikiran untuk mengolah ikan tangkap jenis maco diolah agar mendapatkan nilai jual tinggi, sehingga menghasilkan uang yang lebih banyak, dan tidak merugi. Bertitik tolak dari kondisi seperti itu muncullah ide mengolah maco jadi ikan asin, dipaking dan diberi merek ‘Rodi Maco’.
Jika tangkapan nelayan melimpah, harga ikan cenderung menurun. Rodi lalu memborong ikan tangkapan nelayan itu dan diolah jadi ikan asin, dipaking dengan lalu dijual. Langkah Rodi ini berhasil, sehingga memperoleh harga penjualan lebih tinggi, dan meraup keuntunga.
Keuntungan ini bukan hanya ia nikmati sendiri, tapi juga dinikmati nelayan tangkap, karena ia juga mengangkat harga pembelian ikan segar.
Ikan asin produksi Rodi itu dapat dijadikan sebagai buah tangan khas dari Tiku, khususnya Ujuang Labuang. Apalagi sebentar lagi Ujuang Labuang bakal jadi objek wisata yang diberi nama Pantai Torpedo. (lukman)












