SIMPANG AMPEK – Pelantikan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) periode 2025–2029 yang digelar di aula Kantor Bupati Pasaman Barat pada Kamis (17/7), berubah menjadi ajang kericuhan dan baku hantam.
Insiden bermula saat Ketua KONI Provinsi Sumatera Barat, Roni Pahlawan, menyampaikan sambutan. Saat itu, Tegar Marunduri, perwakilan dari pengurus cabang olahraga (Cabor) Biliar Pasaman Barat tiba-tiba berdiri dan melontarkan protes keras kepada Roni Pahlawan.
Pelantikan yang dijadwalkan dimulai pukul 14.00 WIB berlangsung lancar pada awalnya. Namun, kericuhan mulai memanas sekitar pukul 15.00 WIB, ketika protes dari Tegar Marunduri tidak hanya menimbulkan kegaduhan, tapi juga membuat suasana menjadi tidak kondusif.
Pihak kepolisian yang berjaga langsung bergerak cepat untuk meredam ketegangan. Tegar diamankan keluar ruangan dan diberikan arahan oleh Wakapolres Pasaman Barat, Kompol Khairul Amri Nasution. Ia menyarankan agar jika ada keberatan, sebaiknya ditempuh melalui jalur administratif sesuai prosedur.
Menurut Tegar, aksi protesnya dilandasi karena proses pemilihan Ketua KONI Pasaman Barat masih dalam proses sengketa dan telah diajukan ke KONI Provinsi maupun Pusat. Ia merasa Ketua KONI Sumbar telah mengabaikan dinamika yang terjadi dan tidak menunjukkan sikap bijaksana dalam menghadapi konflik organisasi.
“Saya tidak bermaksud menghalangi pelantikan. Saya hanya menyuarakan keberatan atas sikap Ketua KONI Sumbar yang terkesan memaksakan proses ini, padahal masih dalam sengketa,” ujar Tegar.
Namun, di luar dugaan, saat Tegar sedang dalam pengawalan aparat keluar ruangan, ia justru mengalami tindakan kekerasan. Sejumlah orang dari massa yang hadir memukul kepalanya secara tiba-tiba, yang membuat situasi semakin memanas.
Atas insiden pemukulan tersebut, Tegar segera melapor ke Polres Pasaman Barat pada Kamis sore. Ia meminta agar kasus ini diproses secara hukum dan pelaku kekerasan segera diusut serta ditindak tegas.
Menanggapi insiden itu, Ketua KONI Provinsi Sumbar, Roni Pahlawan, mengatakan bahwa kericuhan seperti ini kerap terjadi dalam dinamika organisasi. Ia menilai, kemungkinan ada pihak yang belum menerima hasil pemilihan Ketua KONI Pasaman Barat.
“Hal seperti ini biasa terjadi. Mungkin ada yang merasa tidak puas atau tidak senang atas hasil pemilihan. Kita terbuka, silakan sampaikan surat resmi. Surat mereka pun sudah masuk ke kita, tapi memang belum sempat kami balas,” jelas Roni kepada wartawan.
Roni juga mengimbau agar seluruh pihak menghormati proses hukum dan tidak menyelesaikan persoalan dengan tindakan anarkis. Ia berharap ke depan komunikasi antara pengurus KONI dan semua unsur Cabor bisa berjalan lebih sehat dan konstruktif.
Sementara itu, pihak kepolisian tengah menerima laporan diduga pemukulan dan berjanji akan memprosesnya sesuai aturan hukum yang berlaku. Keamanan dan netralitas dalam setiap kegiatan organisasi, termasuk KONI, menjadi tanggung jawab bersama. (fat)












