Oleh Roni Aprianto / Wartawan Madya
Jempol wartawan senior itu menari- nari di layar handponenya. Lihai sekali dia memainkan setiap huruf di keyboard virtual itu. Rupanya dia sedang merangkai kalimat demi kalimat agar melahirkan tulisan apik dan bernas.
Sesekali ia mengernyitkan dahinya, menghela nafas. Keras sekali dia berfikir. Tak lupa, setengah cangkir kopi pahit dan sebungkus udut ikut menemani kesibukannya. Ia seruput kopi hitam sembari menghisap rokoknya dalam- dalam. Asapnya mengepul membentuk gumpalan serupa awan, dan hilang diterpa angin. Tak disadari cigarette satu bungkus isi 16 batang tinggal separoh. Puntung dan abunya berserakan dalam wadah bulatan asbak.
Tatapannya fokus ke layar ponsel. Ia ingin monorehkan tulisan boneh yang memberikan inspirasi untuk banyak orang. Pria bertubuh ramping berkulit putih dan necis ini akrab disapa, Piliang. Sudah lama sekali dia bergelut di dunia jurnalistik. Bernaung di media besar Harian Singgalang, terkemuka di Sumbar.
Meski sudah banyak asam garamnya dalam melakoni dunia wartawan. Baginya itu hanyalah sebuah profesi yang harus dijaga dengan baik dan tak perlu sombong atau bergaya sok mantap dan sok hebat.
Setiap tulisan feature, opini, tajuk dan berita hasil gerakan jempolnya tak diragukan lagi. Kadang keras, dan krtitis, tapi tak mematikan. Kadang lembut, selembut kain sutra, namun tetap mengena kepada tujuan.
Di zaman kecakapan teknologi saat ini. Wartawan yang bertugas dilapangan tak perlu lagi duduk di depan komputer untuk merangkai kata- kata apik. Semua bisa dilakukan di mana saja, kapan saja. Sembari duduk- duduk di kedai, cafe, bahkan sambil pop pun karya jurnalistik clear, cukup dengan memainkan duo jempol di layar Handpone.
Untuk menghasilkan tulisan bagus, enak dibaca dan dipahami semua pembaca bisa dibilang sukar. Perlu fikiran jernih serta menguasai banyak kosa kata.
Kecanggihan teknologi kadang membuat wartawan malas berfikir lantaran bisa memanfaatkan Aplikasi AI ( Robot). AI adalah sebuah program perangkat lunak yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk melakukan tugas-tugas tertentu.
Namun program AI tetap saja tidak bisa sepenuhnya menggantikan manusia, termasuk tugas wartawan. Program AI tidak memiliki empati, kreativitas, intuisi, dan kesadaran etis yang merupakan ciri khas manusia. AI terbatas dalam beradaptasi pada situasi yang kompleks dan tidak terduga.
AI hanya menulis berdasarkan apa yang telah terjadi, dan dari data yang tersedia. Ia tidak pandai mengejar dan mewawancara narasumber, menggali konteks sosial, atau memahami dinamika emosi dalam suatu peristiwa. Di sinilah letak perbedaan paling krusial. AI dapat menyusun kalimat, tetapi tidak bisa menyampaikan makna.
Beda dengan wartawan. Seorang wartawan tidak hanya menyampaikan fakta. Ia menggali kebenaran, mengajukan pertanyaan kritis, dan membangun kepercayaan dengan pembaca. Ia memahami nuansa bahasa, budaya, dan emosi dan hal-hal yang belum bisa diakses oleh AI.
Wartawan juga memiliki tanggung jawab moral. Ketika meliput konflik, krisis kemanusiaan, atau kasus pelanggaran hak asasi, mereka tidak hanya menulis berita. Mereka menyuarakan yang tak terdengar. AI, dengan semua kehebatannya, tidak memiliki empati, tidak punya keberpihakan etis, dan tidak bisa memutuskan apa yang layak diberitakan atas dasar nilai kemanusiaan.
” Intinya jangan lupa jadi manusia,” ucap Wartawan Senior, Syafri Piliang, Senin (8/9/2025).
Ia menambahkan, ini bukan tentang memilih antara manusia atau mesin, tetapi jadilah manusia yang sesungguhnya. Wartawan harus memahami aspek – aspek wawancara mendalam, reportase lapangan dan investigasi
” Sebagai alat, AI bisa memperkuat peran wartawan, tapi kita yang tetap memegang kendali. Karena pada akhirnya, berita bukan hanya soal apa yang terjadi, tetapi berita adalah tentang tanggungjawab moral untuk mencerdaskan, bukan menyesatkan,” kata Ketua PWI Periode 2019- 2022 ini.
Menurut Piliang, wartawan wajib menjaga integritas, etika, dan profesinya dalam menyampaikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi publik, terutama dalam konteks digital yang terus berubah. Wartawan pun meski pandai menjaga keseimbangan antara kebebasan pers dan tanggung jawab sosial. Menghormati hak narasumber dan publik, agar tidak terjadi penyalahgunaan profesi
Wartawan juga wajib menguasai berbagai keterampilan seperti riset dan observasi untuk mengumpulkan data.
” Yang tak kalah penting adalah keterampilan komunikasi dan wawancara dalam menggali fakta dari berbagai narasumber sebelum publikasi. Paling penting lagi memahami etika jurnalistik dan menguasai teknologi digital agar menghasilkan karya yang informatif dan akurat,” pungkasnya. ( ***)












