Hutama Karya Tak Henti Hubungkan Kebaikan

Foto: Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo meresmikan secara langsung jalan tol Ruas Binjai – Langsa seksi 1 Binjai – Stabat sepanjang 11,8 kilometer, pada hari ini Jum’at (4/2 (hutamakarya.com)

Hendri Nova
Wartawan Madya

“Horeee… kita sampai lagi di Carocok Painan, kita foto-foto dulu di Masjid Terapung Samudera Ilahi.”
Seorang gadis kecil berlari gembira begitu turun dari sebuah mobil SUV bernopol polisi BM yang merupakan kode Provinsi Riau. Menyusul si gadis kecil, seorang ABG lelaki yang segera mengejar gadis kecil tersebut dengan gembira.

Dari ekspresi dan tingkah keluarga dari Pekanbaru ini, sangat kentara kalau mereka sudah sering bolak balik ke Pantai Carocok Painan Sumatera Barat (Sumbar). Terakhir mereka ke pantai terindah di Pesisir Selatan itu, saat masjid baru mulai dibangun.

Waktu itu ayahnya berjanji akan membawa gadis kecilnya itu lagi, begitu Masjid Samudera Ilahi diresmikan pemakaiannya. Dan begitu peresmian masjid berkubah emas itu viral di media sosial, gadis kecil bernama Aisyah itu langsung menuntut janji ayahnya.

Sang ayah langsung menepati janji dengan mengambil cuti beberapa hari di kantor. Ia ingin putrinya puas-puas main di pantai, baru setelah itu balik ke Pekanbaru.

Semua itu karena jarak tempuh Padang Pekanbaru yang lumayan lama yakni 8-10 jam. Jika ditambah jarak Padang-Painan, Pesisir Selatan yang memakan waktu dua jam, maka akan manjadi 12 jam.
Sang ayah Hamid, mengaku tidak mau naik pesawat, karena tidak mau melewatkan keindahan sepanjang perjalanan menuju Padang. Setidaknya setelah masuk Sumbar, pemandangan bukit barisan sangat memanjakan mata.

Maka dari itu, ia pergi di hari Jumat, di mana nantinya bisa beristirahat di hotel dulu dan di hari Sabtu sudah bisa menikmati keindahan Pantai Carocok Painan sejak pagi. Tiga anaknya memang tak bisa puas jika hanya satu hari saja di pantai. Bahkan sampai di hari Minggu pun, anak-anaknya masih enggan pulang, meski pulangnya sudah bada ‘Isya.

“Sumbar memang menjadi pilihan utama keluarga saya, jika sudah liburan. Dan tempat favoritnya ya Pantai Carocok Painan ini. Kalau lokasi lain, itu sekedar selfi-selfi saja. Akhirnya main lagi di Pantai,” kata Hamid.

Ia memilih Pantai Carocok Painan karena pantainya bersahabat, sehingga tidak terlalu kuatir. Anak-anaknya bisa bermain di air laut yang dangkal, jika ingin mandi-mandi.

“Kalau jalan tol Padang Pekanbaru sudah selesai, maka saya dan keluarga bisa lebih sering ke Sumbar. Bisa jadi minimal satu kali sebulan. Star dari Pekanbaru Sabtu pagi, pulangnya bisa hari itu juga di malam harinya, atau Minggu malamnya,” katanya.

Ia tak sabar juga menunggu jalan tol Padang Pekanbaru selesai. Bayangkan saja, dari 10-12 jam bisa jadi 4-5 jam saja. Jelas satu penghematan yang menguntungkan.

Ia yakin, banyak warga Pekanbaru yang mau sering-sering ke Sumbar. Tak jarang di satu waktu, mereka konvoi dengan teman-teman sekantor.

“Kami di Riau tidak banyak memiliki tempat wisata selengkap Sumbar. Kalau di Sumbar semua ada, mau ke pantai ada banyak pilihan, mau air terjun, banyak sekali. Mau suasana pegunungan, wisata religi, dan masih banyak lagi ada lengkap. Satu minggu pun mengelilingi Sumbar, masih dirasa kurang waktunya,” kata Hamid.

Ia yakin, Sumbar akan mengalami peningkatan kunjungan wisatawan lokal terutama dari Riau, jika Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang menghubungan Padang Pekanbaru selesai dibangun. Makanya ia ikut mendoakan, agar semua proses pembangunan sukses tanpa kendala.

JTTS Padang-Pekanbaru

JTTS Padang-Pekanbaru memang sangat dinantikan kehadirannya. Apalagi jalan tol pertama di Sumbar tersebut, digadang-gadang bisa memutus jarak tempuh jadi lebih singkat 3-4 jam saja. Itu ibarat tertidur beberapa jam, dan begitu bangun sudah sampai di Ranah Minang.

Bagi warga Pekanbaru asli maupun yang berasal Sumbar, Ranah Minang adalah tempat untuk melepas penat terbaik, setelah dalam waktu lama berkutat mencari kehidupan di Bumi Lancang Kuning. Mereka tinggal menentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi dan berada di daerah mana.

Baca Juga  Peluru Nyasar Diduga dari Lapangan Tembak TNI Lukai Mahasiswi UNP dan Warga di Padang

Untuk pantai saja, Sumbar memberikan tiga pilihan terbaik, yakni di Pantai Padang, Pantai Carocok, Kawasan Mandeh, dan lainnya di Pesisir Selatan, dan Pantai Gondoriah Pariaman.
Untuk wisata daerah pegunungan juga banyak pilihan, seperti Bukittingi, Batusangkar, dan lainnya. Begitu juga wisata religi dan budaya, pilihan pun sangat bervariasi.

Sepulang dari Sumbar, muatan mobil bukannya berkurang, malah bertambah berat dengan beragam oleh-oleh khas daerah yang dikunjungi, begitu juga dengan souvenir-souvenir yang beragam.
Bagi warga Pekanbaru, uang saja yang kurang setelah kembali ke Pekanbaru. Meski begitu, hati menjadi puas dan pikiran jadi segar kembali memasuki suasana kerja pada Seninnya.

Sementara bagi warga Sumbar, kehadiran JTTS merupakan keuntungan dalam segi bisnis, terutama bisnis barang muda produk pertanian. Sudah rahasia umum, produk pertanian dan perikanan Sumbar merupakan penopang bagi warga Pekanbaru yang notabene banyak juga orang Minang.

Mereka ingin makan beras asli dari daerah asal, begitu juga kebutuhan sayur mayur lainnya. Jika sebelumnya harus menempuh jarak yang jauh baru sampai, sehingga mengurangi kesegaran sayur, maka dengan adanya JTTS Padang Pekanbaru menjadi jaminan kesegaran produk pertanian dan perikanan.

“Saya tak putus-putus berdoa, agar tol ini cepat selesai,” kata Rusli, salah seorang pengusaha sayur mayur asal Bukittinggi.

Maka dari itu, JTTS Padang Pekanbaru harus digeber terus, agar manfaat pembangunan dan kehadirannya segera dirasakan kedua provinsi. Bisa hitung tentunya, betapa majunya nanti perdagangan dan bisnis kedua provinsi.

JTTS Kemajuan Sumatera

Padang dan Pekanbaru hanya satu dari sekian banyak manfaat yang bisa dirasakan, jika JTTS terwujud dan terkoneksi satu sama lain. Tak tertutup kemungkinan kelanjutan pembangunan jalan tolnya akan menghubungkan antar daerah dan provinsi tetangga lainnya.

Hingga saat ini, total panjang tol yang dioperasikan oleh Hutama Karya seperti dikutip dari hutamakarya.com, ±542,8 Km diantaranya yakni Tol Bakauheni – Terbanggi Besar (141 Km), Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (189 Km), Tol Palembang – Indralaya (22 Km), Tol Medan Binjai (17 Km), Tol Pekanbaru – Dumai (132 Km), Tol Sigli – Banda Aceh seksi 3 Jantho – Indrapuri (16 Km) dan seksi 4 Indrapuri – Blang Bintang (14 Km), serta Tol Binjai – Langsa seksi 1 Binjai – Stabat sepanjang 11,8 Km.

Sementara total panjang ruas tol yang masih dalam tahap konstruksi sepanjang ±519 Km meliputi Tol Sigli – Banda Aceh (44 Km), Tol Kisaran – Indrapura (48 Km), Tol Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat (143 Km), Tol Sp. Indralaya – Muara Enim (121 Km), Tol Padang – Sicincin (37 Km), Tol Pekanbaru – Pangkalan (64 Km), Tol Bengkulu – Taba Penanjung (18 Km) dan Tol Stabat – Pangkalan Brandan (44 Km).

Hutama Karya juga sudah melakukan penandatanganan Letter of Commitment (LoC) atas Penyertaan Modal Negara (PMN) Tahun 2021 sebesar Rp 25,2 Triliun yang diperuntukkan untuk percepatan pembangunan mega proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Penandatanganan LoC ini diselenggarakan di Tol Binjai – Stabat karena merupakan salah satu ruas JTTS yang dibangun menggunakan dana PMN TA 2021.

Penandatanganan dilakukan antara Direktur Utama Hutama Karya, Budi Harto dengan Deputi Bidang Keuangan dan Manajemen Risiko Kementerian BUMN Nawal Nely, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Rionald Silaban, Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Muhammad Zainal Fatah serta disaksikan oleh Menteri Keuangan dan Wakil Menteri BUMN II.

Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani menyampaikan bahwa penandatanganan LoC atau kontrak kinerja ini dilakukan demi mewujudkan akuntabilitas dari dana yang telah diberikan kepada BUMN-BUMN yang mendapatkan penugasan Pemerintah.

Baca Juga  Wagub Sumbar Buka Kegiatan Konsultasi Publik RPJMD 2021-2026

“Kami telah melakukan langkah-langkah bersama dengan Kementerian BUMN untuk meyakinkan bahwa seluruh anggaran APBN dalam bentuk PMN yang telah diberikan kepada BUMN-BUMN yang mendapatkan penugasan pemerintah harus disertai dengan kontrak kinerja yang sudah disampaikan oleh Presiden, sehingga akuntabilitas dari setiap dana yang dimasukan dalam PMN menjadi lebih jelas dan dihubungkan dengan prioritas nasional,” tutur Sri Mulyani.

Lebih lanjut Sri Mulyani juga menyampaikan bahwa pada Tahun 2022 ini, Hutama Karya juga akan kembali mendapatkan PMN sebesar Rp 23,85 Triliun.

“Modal PMN tersebut diberikan kepada Hutama Karya untuk menyelesaikan ruas-ruas yang ada di JTTS. Penandatangan LoC ini diharapkan dapat menjadi testimoni dan komitmen dari jajaran direksi yang menerima PMN tersebut untuk menjalankan tugas negara dan menggunakan uang negara dengan se-efisien mungkin dan uang APBN yang berasal dari penerimaan pajak, penerimaan APBN, penerimaan Bea Cukai yang berasal dari masyarakat dapat kembali dirasakan oleh masyarakat,” tutup Sri Mulyani.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo juga ikut menambahkan bahwa Kementerian BUMN berkomitmen bahwa PMN bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan menunjang akuntabilitas yang tinggi.

“Saat ini kita juga memiliki 3 target yaitu penyelesaian waktu sesuai dengan target penyelesaian JTTS, yang kedua yaitu efisiensi bagaimana bisa menurunkan cost per-kilometer dengan kualitas jalan yang baik danyang ketiga menjaga keuangan dan cash flow agar proyek ini dapat tetap menjaga cash flow dari perusahaan tersebut dengan kondisi sehat,” tutur Kartika Wirjoatmodjo, Wakil Menteri II BUMN.

Budi Harto mengatakan PMN sebesar Rp 25,2 Triliun tersebut akan digunakan untuk mempercepat penyelesaian pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera. “Ini merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk bertanggung jawab memastikan penggunaan PMN sebagai salah satu Indikator Kinerja Utama (Key Performance Indicators). PMN ini akan digunakan oleh Hutama Karya untuk membiayai seluruh aktivitas pembangunan JTTS. Kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah ini kami pastikan akan berdampak bagi peningkatan kinerja korporasi dan memberikan manfaat yang optimal bagi kepentingan bangsa dan negara,” jelas Budi Harto.

Bertabur Penghargaan

Hasil kerja keras Hutama Karya dalam membangun Indonesia, dibuktikan dengan keberhasilan menyabet banyak penghargaan, antaranya penghargaan internasional di bidang inovasi dan teknologi yaitu Building Information Modelling (BIM). Dalam ajang 2021 Going Digital Award in Infrastructure yang diselenggarakan oleh Bentley System Ltd, Hutama Karya berhasil meraih 2 (dua) penghargaan sekaligus yakni winner pada Kategori Roads and Highways untuk Proyek Jalan Tol Seberlawan – Siantar, dan Founder’s Honoree 2021 For Pandemic-proof Execution untuk Proyek Pembangunan Interchange Romokalisari Jalan Tol Surabaya – Gresik.

Selain itu juga meraih penghargaan Innovator of the Year 2021 di ajang Autodesk ASEAN Innovation Awards 2021, Silver Winner Media Sosial Pria 2021, Gold Winner Kategori Aplikasi Pria Award 2021, Gold Winner Annual Report Pria Award 2021, Gold Winner Media Cetak Pria Award 2021, Silver Winner Departemen Pr Pria Award 2021, Peduli Covid 19 Teropong CSR Award 2021, dan masih banyak lagi.

Kontribusi Berkelanjutan

Di masa datang, kontribusi Hutama Karya dalam menghubungkan kebaikan melalui manfaat infrastruktur bagi masyarakat di sekitar proyek secara khusus dan rakyat Indonesia secara umum, masih sangat dibutuhkan dan dinantikan masyarakat Indonesia.

Indonesia dengan geografis yang beragam dan terdiri dari banyak pulau, membutuhkan infrastruktur yang memadai. Keberadaan Hutama Karya tentu akan membuat Indonesia cepat terkoneksi antar kota/kabupaten, provinsi, maupun antar pulau.

Makin banyak daerah Indonesia yang terjangkau infrastruktur memadai, maka akan memberikan dampak positif di segala bidang. Maka dari itu, Hutama Karya sangat diharapkan agar tetap menjadi penghubung kebaikan infrastruktur berkelanjutan untuk Indonesia. (*)