DPRD Sumbar Ungkapkan Kekecewaan Pada Aparat Kepolisian

  • Whatsapp
Aksi mahasiswa Sumbar di gedung DPRD SUmbar. givo alputra

PADANG-DPRD Sumbar kecewa terhadap aksi demo yang berujung pengrusakan, Rabu (25/6). Aparat kepolisian dinilai tidak optimal dalam melakukan pengamanan.

“Tentu saja kami kecewa dengan pengamanan yang dilakukan aparat kepolisian. Massa seolah dibiarkan saja melakukan pengrusakan tanpa adanya upaya pertahanan yang efektif dari aparat kepolisian,” ujar Anggota DPRD Sumbar, Nofrizon, Kamis (26/9).

Baca Juga

Dia menilai untung saja hari itu hanya terjadi pengrusakan barang-barang saja dan tak sempat menyebabkan adanya korban luka-luka atau bahkan lebih parah dari itu. Menurut Nofrizon, kemungkinan tersebut bisa saja terjadi karena bisa saja aksi demo tersebut disusupi oleh orang-orang atau preman yang mabuk atau terpengaruh narkoba.

“Di gedung DPRD itu kan bukan hanya ada barang dan benda saja. Terlepas dari ada anggota dewan, didalamnya juga ada para ASN (aparat sipil negara) laki-laki maupun perempuan yang belum sempat melarikan diri. Dan ada juga para pelajar yang sedang magang,” tambahnya.

Terlepas dari tidak adanya korban dalam aksi demo yang berunjung pengrusakan itu. Nofrizon menilai dampak yang ditimbulkan dari pengrusakan tersebut merupakan terparah sepanjang berdirinya gedung DPRD di Sumatera Barat.

“Bahkan pada aksi demo 1998 saja kerusakannya tak sampai seperti itu. Kali ini yang terparah,” ujarnya.

Nofrizon menegaskan dirinya kecewa pada aparat kepolisian yang seharusnya melakukan pengamanan dengan efektif. Apalagi pada hari kerusuhan tersebut ketika massa sudah jebol, seakan dilakukan pembiaran oleh aparat massa untuk mengobrak abrik dan merusak benda. Dia mendapat kabar banyak aparat hanya duduk di dekat mushola DPRD di luar gedung dan di ruas jalan khatib. Sementara yang melakukan pengawalan dan mengikuti para pendemo yang berhasil masuk hanya beberapa saja. Setelah pertahanan polisi jebol, lalu seolah dibiarkan saja mau mengacak-acak selama lebih dari 2 jam.

“Saya tidak meminta aparat kepolisian lakukan pengamanan dengan cara kekerasan. Toh, dengan cara tanpa kekerasan saja juga bisa dilakukan dan pembobolan serta pengrusakan bisa jadi tidak terjadi jika pengamanan optimal,” tegasnya.

Nofrizon mengatakan dia mendapatkan kabar bahwa Kapolres mengatakan personil aparat yang diturunkan hari itu kalah jauh dibanding jumlah aksi massa yang ribuan. Aparat terdiri dari 350 dari Poltabes Padang dan 300 dari Polda Sumbar. Hal tersebut dikarenakan aparat mendapatkan laporan bahwa massa hanya akan ada 500 orang. Namun ternyata jauh melebihi jumlah itu, bahkan ribuan massa.

“Jika kurang kan bisa segera ditambah, kepolisian kan punya intel? Ini malah jadi bukti intelnya tidak bekerja dengan baik,” tukas Nofrizon.

Menurut dia, tanpa info hasil kerja dari intel pun, aparat kepolisian sudah bisa melihat jauh sebelum kerusuhan terjadi bahwa jumlah personil aparat sangat kurang dan tak bisa melakukan pengamanan yang optimal.

“Saya dapat kabar, dari jam 11 hingga zuhur itu jumlah massa sudah ribuan. Sementara kericuhan dan pengrusakan terjadi sekitar jam 14.00 an WIB. Itu ada waktu lebih dari 2 jam untuk aparat kepolisian segera meminta tambahan personil atau meminta bantuan TNI,” ujarnya.

Dia menilai alasan kekurangan personil saat  itu tidak logis dan menunjukkan seolah kepolisian tidak memiliki strategi yang baik untuk pengamanan. Apalagi, tambah dia, aparat bisa meminta bantuan personil dari Brimob dan juga dari batalyon TNI.

“Jika jumlah personil aparat memadai, tanpa perlu adanya aksi kekerasan untuk meredam ricuh pertahanan saya rasa tak akan bobol,” ujarnya.

Nofrizon juga menyesali strategi aparat kepolisian malah terlihat kalah cerdik dengan aparat kepolisian di daerah lain. Dua hari demo, sebelumnya di kantor gubernur dan kemudian di DPRD seolah tanpa persiapan matang. Pagar berduri tidak dipasang untuk memastikan tidak ada pembobolan dan pengrusakan ke dalam gedung. Di DPRD bahkan tidak ada water canyon yang dioperasikan. Begitu juga dengan gas air mata.

“Kami tidak meminta adanya aksi kekerasan melawan massa demo. Tapi setidaknya lakukan pengamanan dan pertahanan yang cerdik agar gedung aset negara tidak dirusak,” tegasnya. (titi)

Berita Terkait