Ragam  

Baju Rayo

DESRI AYUNDA

Belum lengkap rasanya, lebaran tiba tapi tak punya baju baru, sarung baru, kopiah baru, mukena baru, pokoknya segala baru. Atau umum disebut, baju rayo. Maka berbondong-bondonglah ke pasar, membeli baju rayo. Tak hanya pasar dan mall yang ramai, tapi juga di tepi jalan-jalan strategis, muncul pasar dadakan menjual baju rayo. Pembelinya pun ada. Ramai pula.

Inilah satu budaya yang tak pudar dari tahun ke tahun. Nafsu belanja masyarakat meningkat. Sikaya maupun simiskin tak ada bedanya, pokoknya, anak-anak harus punya baju rayo. Ayah dan ibu nanti dulu lah.

Bagi kaum berada, bali baju rayo bukan masalah besar. Sebab di hari-hari biasa juga sering beli baju rayo. Bagi kaum menengah, biasanya harus mampu mengimbangi antara kebutuhan dan keinginan. Apalagi kaum sederhana, harus berpandai-pandai. Apalagi kalau anak banyak pula.

Betapapun susahnya hidup, kita ingin babaju baru rayo. Tidak lengkap rasanya lebaran kalau memakai baju yang lama. Begitulah budaya kita yang sudah turun temurun. Sulit dielak. Apalagi zaman kini, ingin pula handphone baru, kendaraan baru, segala baru, begitu banyak godaan datang menawarkan. Asal ada uang, tidaklah masalah. Kalau uang terbatas, jangan sampai sesak napas karena tak terpenuhi keinginan.

Sebenarnya, bila kita sedikit ingin berdalam-dalam, baru atau tidak, sangat relatif. Sebab kebahagiaan memang sangat relatif. Hanya saja, namun nafsu dan budaya memang kadang-kadang memaksa agar memperturutkan keadaan. Di sinilah letaknya pepatah dalam khazanah budaya: ukua bayang-bayang sapanjang badan.

Seorang ustadz beberapa tahun lalu pernah menasehati publik dengan teduh. “Lebaranlah dengan sederhana. Jangan turuti hawa nafsu ingin ini itu, sedangkan kemampuan terbatas,” katanya.