PADANG – Ketua Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera, Febriyandi Putra, menegaskan bahwa Sumatera Barat sedang menghadapi tantangan bencana ekologis yang serius. Hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya “Gerakan Sejuta Pohon untuk Sumatera Barat” sebagai solusi jangka panjang, bukan sekadar respons sesaat pascabencana. Febriyandi menyerukan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil untuk memulihkan keseimbangan alam.
Menurut Febriyandi, gerakan ini bukan agenda seremonial yang akan hilang setelah acara pembukaan selesai. Target satu juta pohon dirancang secara estafet, dimulai dari Kota Padang dengan penanaman di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lubuk Minturun hingga kawasan pesisir. Ia mendorong agar aktivitas menanam pohon bertransformasi menjadi bagian dari budaya dan kewajiban sosial bagi setiap individu di Sumatera Barat.
“Hari ini kita butuh solusi nyata, bukan euforia. Menanam pohon harus menjadi budaya karena tidak ada wilayah di Sumbar yang benar-benar aman jika lingkungan rusak,” tegas Febriyandi, Kamis (22/1/2026). Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera menargetkan pelibatan sedikitnya 20 pihak kolaborator.
Ia mengatakan, pohon yang ditanam tidak hanya berfungsi sebagai tanaman hutan, tetapi juga tanaman produktif yang bernilai ekonomi. Jenis yang diprioritaskan antara lain durian, petai, dan jengkol, serta kaliandra yang disuplai PT Semen Padang.
“Kami berterima kasih kepada PT Semen Padang dan pihak lain yang terlibat dalam gerakan ini,” kata Febriyandi.
Febriyandi menjelaskan bahwa pemilihan jenis pohon dilakukan dengan pertimbangan matang. Selain Kaliandra yang berfungsi sebagai tanaman energi dan perbaikan tanah, pihaknya juga memprioritaskan pohon produktif bernilai ekonomi seperti durian, petai, dan jengkol. Strategi ini diambil agar masyarakat memiliki motivasi lebih untuk menjaga dan merawat pohon yang telah ditanam karena ada manfaat ekonomi yang bisa dipetik di kemudian hari.
Khusus untuk Kota Padang, gerakan ini dibagi ke dalam lima segmen wilayah, mencakup Balai Gadang, Batu Busuk, hingga Batang Gabung. Penanaman dilakukan secara bertahap oleh relawan, komunitas lingkungan, mahasiswa, dan pelajar. Febriyandi menekankan bahwa setiap bibit yang ditanam akan dipantau perkembangannya untuk memastikan tingkat keberhasilan penghijauan yang tinggi di area-area kritis.
Gerakan ini juga menjadi ajakan bagi dunia usaha lainnya untuk turut serta menyumbangkan bibit maupun tenaga. Febriyandi mengapresiasi PT Semen Padang yang telah memberikan kepercayaan kepada yayasannya untuk menyalurkan bantuan bibit Kaliandra. Ia berharap sinergi BUMN-LSM ini dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain dalam menjalankan program tanggung jawab sosial yang berdampak luas bagi ekosistem.
Bagi Febriyandi, ancaman bencana di Sumatera Barat sangat nyata, mulai dari potensi tsunami di pesisir hingga longsor di pegunungan. Satu-satunya benteng pertahanan alami adalah vegetasi yang rapat dan sehat. Oleh karena itu, Gerakan Sejuta Pohon ini diharapkan mampu mendorong lahirnya kebijakan publik yang mewajibkan penghijauan di setiap jengkal lahan kosong milik masyarakat maupun negara.
Acara di Pemandian Jembatan Sitapuang barulah awal dari perjalanan panjang menuju Sumatera Barat yang lebih hijau. Febriyandi menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elemen pemuda untuk tetap konsisten mengawal gerakan ini. Dengan kerja keras dan kolaborasi, ia optimistis Sumatera Barat dapat segera bangkit dari keterpurukan ekologis dan menjadi daerah yang lebih tangguh terhadap bencana. (*)












