Bulog Beri Garansi, Petani pun Termotivasi

Bulog Beri Garansi, Petani pun Termotivasi
PERKUAT KETAHANAN PANGAN - Ujang (57), mengeluarkan pupuk dari karung untuk kemudian disemai di rumpun jagung miliknya, Sabtu (2/5/2026). Seorang petani di Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, yang ikut berkontribusi memperkuat ketahanan pangan negeri ini. (Gusnaldi Saman)

Gusnaldi Saman
(wartawan Topsatu.com)

Sebagai ujung tombak ketahanan pangan nasional, petani tentu berhak untuk sejahtera. Tapi sayang, adakalanya cucuran peluh mereka tak terseka saat panen tiba. Makanya, ketika Bulog beri kepastian soal harga, petani pun jadi lega.

Betapa tidak, dengarlah pengakuan seorang petani bernama Ujang (57). Katanya, soal harga saat panen, terkadang memang tak sesuai harapan. Padahal, tanaman sudah dirawat dengan baik, hasil panen tak mengecewakan, tapi di harga justru tak ketemu.

“Ya, kalau harga lagi anjlok, tak terobati lelah kami sebagai petani,” sebut Ujang, yang seketika menghempaskan nafas berat, di sela-sela menebar pupuk di rumpun jagung pada lahan pertanian yang terletak di Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar.

Kepada Topsatu.com, Sabtu (2/5/2026), dalam sepotong sore yang lindap, dia bercerita tentang banyak hal. Intinya, menurut Ujang, bila soal harga pascapanen dan ketersediaan pupuk subsidi terjamin, maka soal ketahanan pangan bukanlah angan-angan.

“Tapi alhamdulillah, mendapatkan pupuk subsidi kini tak susah lagi. Menebusnya pun tak perlu lagi ada drama ribut-ribut. Makanya, bila ada pasokan panen petani dari pemerintah, kami tentu lebih semangat lagi mengolah sawah dan ladang setiap hari,” ujar Ujang.

Menurut ayah tiga anak dan empat cucu ini, hancur hati petani akan terasa lebih berat tatkala panen melimpah tapi harga anjlok. Bayangkan, betapa ibanya membiarkan hasil panen membusuk atau dibuang begitu saja, padahal biaya perawatannya terbilang mahal.

Ditanya soal harga saat panen sebelumnya, Ujang menyebut harga jagung pipilan dengan tingkat kekeringan tertentu sempat anjlok dibawah Rp5000 per kilogram, tapi belakangan membaik di kisaran angka Rp6000-Rp7000 per kg. Artinya, harga jual petani di awal tahun ini cukup baik.

“Makanya, kalau ada jaminan harga dari pemerintah, kami petani tentu lebih termotivasi lagi,” cetus Ujang.

Sore kian rebah. Seorang Ujang melayangkan pandangnya ke lahan jagung yang sudah berumur enam minggu itu. Tanaman yang perkembangannya sedikit terganggu, karena sempat pula direndam banjir. Untung saja tak lama sehingga bisa membaik lagi.

Lalu, dia menatap jauh ke arah perbukitan Kecamatan Bayang bagian Utara, yang sebagian daerah di sana, yang pada akhir 2025 lalu dihantam banjir bandang. Bencana, yang tak hanya merubuhkan rumah warga, jembatan dan jalan, tapi juga sempat menghancurkan asa petani karena puluhan bahkan ratusan hektare lahan mereka, rusak ditimbun lumpur dan dihempas kayu gelondongan. Dan, kini berkat perbaikan infrastrutur dan bantuan pemulihan lahan pertanian daerah terdampak oleh pemerintah, petani di sana pun kembali bangkit.

Sementara, di tempat lain pada kesempatan berbeda, petani bernama Novembri Zulhadi (47), dalam siang yang terik, terlihat lagi beres-beres memperbaiki beberapa terpal plastik penutup media tanam di lahan yang baru saja ditanaminya bawang merah. Komoditi andalan daerah setempat.

Seketika, dia menyeka wajahnya yang ditetesi keringat.

“Usai panen bawang merah, dan kini mau ditanami lagi,” ujar Novembri, seorang petani di Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok. Nagari cantik berhawa sejuk, salah satu sentra penghasil bawang merah berkualitas di kabupaten setempat.

Sejauh mata memandang, terhidang ladang warga yang ditanami bawang, cabe, kentang, kol, tomat, dan tanaman sayuran lainnya hingga hamparan sawah nan luas. Sebagian lahan terlihat bertingkat-tingkat. Dikelilingi pegunungan yang berdiri kukuh, seperti membingkai lukisan. Begitu indah. Menyejukkan jiwa.

Baca Juga  Buat Usaha BUMNag, Petakan Pasar dan Olah Masalah jadi Peluang

“Ini menjadi rutinitas kami. Setiap hari,” sebut Novembri, sambil beranjak menuju pondok kecil di tengah lahan sekitar setengah hektare tersebut. Di sana sudah ada petani lain, Pediatur (36), Fitrawati (49) dan lainnya. Mereka tergabung dalam Kelompok Tani Tunas Jaya Talang Babungo.

Rehat sejenak. Tak lama, Novembri seperti menghela nafas panjang, lalu menghempaskannya. Dia pun lanjut bercerita, yang menukik pada kegelisahan seorang petani soal harga jual bawang yang terkadang, sungguh mencekik mereka. Belum lagi soal pupuk dan pestisida yang mahal.

Kepada Topsatu.com belum lama ini, Novembri mengaku tak kan menyerah dengan kondisi apapun karena menjadi petani sudah pekerjaan keseharian, yang tak mungkin ditinggalkan. “Kini bagaimana pemerintah bisa peduli, seperti garansi keterjaminan harga pascapanen. Soalnya, tak jarang panen raya tiba, haraga jual bawang merah jadi murah,” ujarnya.

Dia mengaku harga bawang merah di tingkat petani belakangan cukup baik, di kisaran Rp25.000 sampai Rp45.000 per kilo. Hanya saja, saat stok petani melimpah, tak jarang harga pun turut anjlok. Jangankan untung, biaya beli pupuk, pestisida dan pengolahan, pun tak tertutupi.

Yang jelas, sebagai petani, yang hanya orang kampung, baik Novembri maupun Ujang, sangatlah berharap ada pihak-pihak terkait seperti penyuluh pertanian atau dari pemerintahan desa, dapat mengkomunikasikan soal keterjaminan harga pascapanen dari pemerintah.

“Selentingan kabar, ada namanya Bulog yang mau memasok hasil panen petani. Namun persisnya kami tak tahu,” aku Novembri.

Begitulah!

Bulog Beri Garansi, Petani pun Termotivasi
PERTANIAN BERBASIS LISTRIK – Hamparan Ladang bawang merah di Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumbar, yang memanfaatkan teknologi berbasis listrik (electrifying agriculture) untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas tanaman. (Gusnaldi Saman)

Komit Jaga Ketahanan Pangan

Ya, pada berbagai kesempatan, Presiden Prabowo selalu menegaskan komitmen kuat untuk mewujudkan swasembada pangan. Bahkan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pangan kini bukan lagi sekadar kebutuhan dasar, melainkan instrumen strategis dalam menjaga kedaulatan dan pertahanan negara.

Kini, upaya itu mulai terlihat. Betapa tidak, untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP), misalnya, per April 2026 justru mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, menembus 5.000.198 ton. Capaian ini menegaskan posisi ketahanan pangan nasional yang semakin kuat di tengah dinamika global.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan, stok cadangan beras nasional dalam kondisi kuat dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dan ini sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.

Menurut Rizal, dikutip siaran pers bulog.co.id, Bulog tidak hanya memastikan ketersediaan stok, tetapi juga menjamin kualitas beras yang didistribusikan kepada masyarakat. “Ini merupakan komitmen kami dalam memberikan pelayanan terbaik,” katanya di sela-sela menerima kunjungan Ketua Komisi III DPR Habiburokhman saat meninjau stok beras di Gudang Bulog Sunter, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (4/5/2026).

Selain beras, komoditi jagung juga tak luput dari perhatian pemerintah. Teranyar, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Perum Bulog untuk melakukan pengadaan jagung pipilan kering minimal satu juta ton pada tahun 2026. Ini tentu untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional dan pencapaian swasembada jagung, serta meningkatkan pendapatan petani.

Hal tersebut tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Dalam Negeri Serta Penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah Tahun 2026-2029. Inpres ini diteken Prabowo pada 25 Maret 2026.

Prabowo juga meminta harga pembelian pemerintah jagung pipilan kering dengan kadar air antara 18-20 persen sebesar Rp5.500 per kilogram, yang telah masuk usia panen di tingkat petani.

Yang jelas, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan, pemerintah tidak akan melakukan impor jagung sepanjang 2026. Keputusan tersebut diambil berdasarkan kondisi produksi dan stok jagung nasional yang dinilai mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan dalam negeri.

Baca Juga  Sukseskan Pasar Murah, Stok Beras Bulog Sumbar 8.800 Ton

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sepanjang 2025 mencapai 16,11 juta ton. Sementara itu, kebutuhan konsumsi jagung pipilan kering pada periode yang sama berada di kisaran 15,64 juta ton. Artinya, terdapat surplus produksi sekitar 0,47 juta ton.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa, seperti diwartakan Sindonews, menjelaskan, kondisi ini menandakan Indonesia telah berada dalam posisi swasembada jagung. Sepanjang 2025, kebutuhan jagung, khususnya untuk pakan, dapat dipenuhi tanpa ketergantungan impor, dengan produksi petani dalam negeri menjadi penopang utama pasokan nasional.

Gayung bersambut. Perum Bulog pun menegaskan komitmennya untuk mendukung ketahanan pangan nasional dengan berperan aktif sebagai off-taker (penyerap) hasil tani.

Dirut Perum Bulog, Ahmad Rizal saat kegiatan Panen Raya Jagung Kuartal I dan Tanam Jagung Serentak Kuartal II di Blora baru-baru ini, menyatakan pihaknya siap menyerap produksi jagung petani, guna menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Kata Rizal, jagung kini tak hanya untuk pakan ternak tapi juga untuk kebutuhan bioetanol. Artinya, jagung kini memiliki potensi ekonomi baru di sektor energi. Kebutuhan bioetanol nasional mencapai 3,2 juta ton jagung pertahun. Dengan masa tanam yang singkat, yakni sekitar tiga bulan, komoditas ini menjadi peluang emas bagi petani.

Bulog Beri Garansi, Petani pun Termotivasi
PERBAIKI LAMPU – Novembri Zulhadi (47) memperbaiki lampu di lahan tanaman bawang Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, yang memanfaatkan pertanian berbasis listrik. (Gusnaldi Saman)

Perkuat Kemitraan

Peran Bulog ikut menjaga ketahanan pangan, tak perlu diragukan. Tapi, apakah setiap kebijakan yang rancak itu sampai ke telinga petani?

“Belum tentu. Adakalanya petani gamang sendiri. Mikir sendiri. Lelah sendiri. Ketika harga pascapanen anjlok. Padahal, saat bersamaan ada peran Bulog yang bisa menyerap hasil panen petani dengan harga menjanjikan,” ucap Herri M., kepada Topsatu.com, Senin (4/5/2026), seorang tokoh muda Pariaman yang cukup peduli petani.

Untuk itu, pesan Herri, Bulog harus memperkuat lagi kerja sama dan kemitraannya dengan stakeholder terkait, mulai dengan pemerintah daerah hingga penyuluh pertanian.

“Akan halnya seperti Dinas Pertanian, Penyuluh sampai ke aparatur pemerintahan desa, seyogyanya ikut meyakinkan petani, menginfokan kepada para kelompok petani, bahwa panen masyarakat tani tidak akan sia-sia karena ada garansi dari Bulog,” katanya.

Selanjutnya, menurut Herry, perlu ada pemetaan, kawasan atau daerah mana saja yang diperkirakan akan panen raya seperti padi, jagung, bawang dan komoditi pangan lainnya. “Lagi-lagi peran penyuluh, orang dinas terkait, aparat setingkat desa atau nagari di Sumbar, harus mengkomunikasikannya dengan Bulog sejak jauh-jauh hari. Sementara Bulog sendiri pun harus rajin-rajin pula turun ke bawah, berdialog langsung dengan petani,” kata Herri.

Apapun itu, yang jelas, Bulog tentu akan terus memperkuat perannya sebagai mitra utama petani untuk menjaga stabilitas harga, menyerap hasil panen dengan harga yang adil. Semuanya, tentu untuk mendukung target swasembada pangan nasional.

Makanya, ketika Bulog menggaransi soal keterjaminan harga untuk petani seperti Ujang, Novembri dan jutaan petani lainnya di negeri ini, mereka tentu tak akan lelah sendiri. Tapi, mereka justru merasa terlindungi, termotivasi, karena mereka juga berhak untuk sejahtera.

Ya, 59 tahun Bulog mengabdi untuk negeri, teruslah menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas pangan nasional. (*)

Penulis: Gusnaldi Saman