PD. PANJANG – Sejumlah pimpinan dan pengajar Pondok Modern Gontor Darussalam, Ponorogo Jawa Timur, berkunjung ke Perguruan Thawalib Padang Panjang, Senin (17/11).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan “Napak Tilas Gontor di Bumi Minang”, yang diadakan dalam rangka Peringatan 100 Tahun Gontor.
Perguruan Thawalib Padang Panjang menjadi salah satu tempat napak tilas, karena salah seorang pendiri Gontor, KH. Imam Zarkasyi pernah belajar dan mengajar di perguruan yang sudah berusia 114 tahun itu.
“Ayah kami (KH Imam Zarkasyi-red) datang ke Padang Panjang tahun 1930. Atas saran gurunya di Solo, Ustadz Al Hasyimi, beliau belajar di Thawalib. Beliau langsung duduk di Kelas II Tsanawiyah dan dalam waktu 2 tahun berhasil menamatkan pelajarannya,” tutur Prof. DR. Hamid Fahmy Zarkasyi, salah seorang Pimpinan Gontor yang juga anak kandung KH. Imam Zarkasyi.
Kedatangan rombongan disambut Ketua Pembina Yayasan Thawalib Padang Panjang H. Guspardi Gaus, Ketua Yayasan Prof. Abrar dan sejumlah pengurus.
Turut hadir yang mewakili gubernur, Kakanwil Kemenag Sumbar, walikota, Kakankemenag Padang Panjang H. Mukhlis M dan pimpinan pesantren se-Padang Panjang.
Hamid Fahmy yang juga Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor mengatakan, sebelum belajar ke Padang Panjang, ayahnya telah menimba ilmu agama di berbagai pesantren di Pulau Jawa. Ia kemudian memilih menambah ilmu ke Sumatra Barat, khususnya Thawalib Padang Panjang karena Sumatera Barat merupakan pintu gerbang masuknya pembaharuan pemikiran Islam.
“Pesantren di Jawa pada zaman itu hanya belajar kitab kuning (tradisional), sementara di Sumatra Barat, pesantren mulai mengajarkan kitab putih (modern). Untuk pengayaan, makanya beliau sengaja datang ke Thawalib untuk belajar. Meski hanya dua tahun, tetapi bagi beliau sangat membekas dan mempengaruhi Imam Zarkasyi dalam melakukan perubahan sistem belajar di Gontor,” ulasnya.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Thawalib H. Guspardi Gaus mengaku bangga salah seorang santri yang pernah belajar dan mengajar di Thawalib, kemudian menjadi salah seorang pendiri Gontor, yakni KH. Imam Zarkasyi. Meskipun hanya dua tahun, namun hal itu tetap sangat berarti.
“Alhamdulillah jejak sejarah itu dinapak tilas oleh anak-anak beliau dan Keluarga Besar Gontor. Lulusan Thawalib pun telah diberikan beasiswa untuk kuliah di Unida,” ucapnya.
Ketua Yayasan Thawalib Prof. Abrar dalam sambutannya mengatakan, Perguruan Thawalib Padang Panjang yang memakai sistem klasikal mulai berdiri tahun 1911 dan sampai saat ini berusia 114 tahun. Dan cikal bakalnya sudah dimulai jauh sebelum itu, namun sistemnya berupa halaqah ilmiah di Surau Jembatan Besi (sekarang Masjid Zuama Pasar Usang).
Thawalib Padang Panjang yang menjadi pelopor pesantren modern telah mencetak ribuan lulusan. Selain menjadi ulama, ada yang jadi pengusaha, TNI, Polri, dosen dan berbagai profesi lainnya. Dan salah seorang santri dari itu adalah pendiri Pondok Modern Gontor.
“Di Thawalib ini santri diajarkan bersungguh-sungguh belajar dan mengajar. Di sini juga diajarkan keteladanan dan kesederhanaan,” ucap Abrar sambil mengucapkan terimakasih atas kunjungan rombongan Gontor.
Pada kesempatan itu diresmikan Museum dan Galeri Tokoh-Tokoh Thawalib Padang Panjang, yang ditandai dengan pengguntingan pita oleh Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi. Di museum dan galeri itu tampat terpajang foto Syekh Daud Rasyidi, H. Abdul Karim Amarullah (pendiri), Abdul Hamid Hakim, Mawardi Muhammad dan sejarah singkat perguruan tersebut.












