Cegah Kekerasan, P2TP2A Sumbar Perkuat Ketahanan Keluarga Lewat Dialog Interaktif

PADANG – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Limpapeh Rumah Nan Gadang Provinsi Sumatera Barat menggelar dialog interaktif di Hotel Hayam Wuruk, Padang, Selasa (26/8/2025). Mengangkat tema “Penguatan Keluarga untuk Kota Padang”, acara ini bertujuan meningkatkan ketahanan keluarga sebagai benteng utama pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Ketua P2TP2A Sumbar, Ny. Hj. Harneli Mahyeldi, menekankan bahwa ketahanan keluarga bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga kekuatan spiritual, moral, dan kemampuan menghadapi krisis. “Keluarga yang kuat dan harmonis adalah sistem perlindungan paling awal sebelum intervensi dari pihak luar,” jelasnya. Ia juga memaparkan faktor-faktor penyebab kekerasan seperti lemahnya iman, mental, dan kontrol sosial.

Acara ini turut menghadirkan narasumber lain, termasuk dr. Hj. Herlin Sridiani M.Kes yang memperkenalkan konsep Ruang Bersama Indonesia (RBI) Merah Putih. Sebuah inisiatif kolaboratif untuk menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi perempuan dan anak. “Tujuan utamanya adalah menurunkan angka kekerasan serta meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas DP3AP2KB Kota Padang, Eri Senjaya, S.Sos, M.Si, memaparkan strategi daerah untuk mewujudkan RBI, dengan memanfaatkan potensi lokal seperti program Kota Layak Anak dan dukungan tokoh adat serta agama. Ia juga menyoroti pentingnya menanamkan nilai-nilai karakter luhur pada generasi muda, mulai dari religiusitas hingga cinta tanah air.

Baca Juga  dr. Herlin DP3AP2KB: Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Sumbar Luar Nalar, Peran Ayah Penting

Dari sisi adat, Ketua LKAAM Kota Padang, Dt. Suardi Z Rajo Basa Tang Penghulu, menekankan peran pemangku adat dalam memperkuat lembaga kaum sebagai upaya perlindungan. “Peningkatan komunikasi dan pelestarian pendidikan adat menjadi kunci dalam membangun ketahanan keluarga,” ujarnya.

Dialog ini menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Ruang Bersama Indonesia (RBI) di tingkat nagari/kelurahan. Rencana tindak lanjutnya mencakup sosialisasi, pembentukan relawan SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak), hingga kolaborasi dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan terwujudnya masyarakat yang ramah perempuan dan anak.