PADANG — Ramadan di Kota Padang tidak hanya dimaknai sebagai bulan ibadah, tetapi juga momentum pelestarian tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Di tengah arus modernisasi, sejumlah kebiasaan khas Minangkabau tetap bertahan dan menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan bulan suci di ibu kota Sumatera Barat tersebut.
Berikut lima tradisi Ramadan yang masih terjaga di Kota Padang.
- Balimau, Simbol Penyucian Diri
Menjelang Ramadan, sebagian masyarakat masih melaksanakan tradisi balimau. Ritual mandi menggunakan air bercampur jeruk nipis atau rempah-rempah ini dimaknai sebagai simbol pembersihan diri sebelum memasuki bulan puasa. Meski pelaksanaannya tidak lagi semeriah di daerah perdesaan, balimau tetap dilakukan dalam lingkup keluarga. Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi serta momentum saling memaafkan.
- Pabukoan dan Pasar Ramadan
Memasuki sore hari, kawasan Pasar Raya Padang dipadati warga yang berburu hidangan berbuka puasa atau pabukoan. Pedagang musiman menjajakan beragam makanan dan minuman khas Ramadan, seperti kolak pisang, es tebak, gorengan, dan kue tradisional Minang. Aktivitas ini tidak hanya berdampak pada peningkatan perputaran ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat tradisi kebersamaan keluarga saat menyiapkan menu berbuka.
- Ngabuburit di Tepi Pantai
Fenomena khas lainnya adalah kebiasaan menunggu waktu berbuka puasa di kawasan pantai. Pantai Padang menjadi salah satu titik favorit warga untuk menghabiskan waktu menjelang magrib. Sejak sore, masyarakat terlihat duduk santai bersama keluarga maupun rekan, menikmati suasana pantai sambil menanti azan. Aktivitas ini kian ramai terutama pada akhir pekan.
- I’tikaf di Masjid Besar
Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, masjid-masjid besar di Padang mengalami peningkatan jumlah jamaah. Salah satunya di Masjid Raya Sumatera Barat, yang menjadi pusat pelaksanaan salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, hingga i’tikaf. Kegiatan tersebut mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat dalam memaksimalkan ibadah menjelang Idulfitri.
- Zakat dan Penguatan Solidaritas Sosial
Menjelang akhir Ramadan, pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah dilakukan secara masif di masjid dan musala. Panitia zakat bekerja sama dengan tokoh masyarakat untuk memastikan distribusi tepat sasaran. Tradisi berbagi ini memperlihatkan kuatnya solidaritas sosial masyarakat Padang, sekaligus menjadi penutup rangkaian aktivitas Ramadan sebelum perayaan Idulfitri.
Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan, tradisi-tradisi tersebut tetap bertahan sebagai bagian dari identitas religius dan kultural warga Padang. Ramadan tidak hanya menghadirkan suasana spiritual, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan gotong royong dalam kehidupan sosial masyarakat. (*)












