Workshop HTHT Wujud Kecintaan untuk ABK

oleh
Peserta HTHT yang diselenggarakan PT RE bekerjasama dengan Octo Touch Foundation di Bukittinggi tampak semangat melakukan gerakan yang dipandu Octorina sebagai instruktur. yuke

 

BUKITTINGGI-Workshop How To Handle Them (HTHT) yang diselenggarakan PT.  Rekadaya Elektrika (RE) bekerjasama dengan Octo Touch Foundation di Bukittinggi disambut antusias peserta. Ini dibuktikan dengan banyaknya peserta hingga 200 orang. Mereka datang dari berbagai daerah di Sumbar hingga beberapa provinsi seperti Jambi.

Direktur Utama PT. Rekadaya Elektrika, Harjono mengatakan workshop HTHT tersebut merupakan bagian dari program CSR yang secara rutin diselenggarakan setiap tahun. Penyaluran CSR dikhususkan kepada warga/masyarakat yang bermukim di lingkungan sekitar proyek pembangkit dan transmisi RE.

“Di Sumbar ada beberapa proyek kami, makanya penyaluran program CRS kami kali ini juga diselenggarakan di Sumbar, khususnya di Bukittinggi,” sebut Harjono, didampingi Direktur Bisnis 1 PT Rekadaya Elektrika Agus Bagyo Hartadi, sesaat sebelum berlangsungnya workshop Minggu (23/9).

Dijelaskannya, workshop HTHT dilatarbelakangi dengan terus bertambahnya jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia. Berdasarkan sebuah data jumlah ABK pada tahun 2018 sudah mencapai 1,8 juta jiwa.

“Karena itu kami dari PT. RE melaksanakan program CSR yang terkait dengan pembinaan ABK, agar para anak kerkebutuhan khusus memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan dapat hidup mandiri saat ini maupun di masa depan. Yakni, dengan mensponsori pelatihan HTHT (how to handle them) bekerjasama dengan Octo Touch Foundation,” ujar Harjono.

Dijelaskannya, pelatihan HTHT adalah pelatihan yang diberikan kepada para pendamping ABK dan penyandang disabilitas,  mulai dari para orang tua, guru, terapis, perawat, hingga para suster dan asisten rumah tangga yang mendampingi ABK.

Dalam pelatihan ini trainer membahas metode dan seni penyembuhan dengan sebuah sentuhan sebagai tehnik  yang dapat meningkatkan kemampuan otak dalam memproduksi Neurotrasmitter, yang pada gilirannya akan memberikan dampak pada kemampuan tubuh untuk mengembalikan fungsi organ vital baik untuk gejala fisik maupun psikologis.

“Pelatihan HTHT untuk para pendamping ABK dan penyandang disabilitas menjadi sangat penting, karena ABK sangat membutuhkan perhatian dan penanganan khusus untuk membantu perkembangan motorik dan mental mereka. Sehingga tujuan besar dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan tumbuh kembang ABK dan penyandang disabilitas.

Pelatihan HTHT ini menjadi  serangkaian acara dalam memperingati Hari Anak Nasional dan Hari Ibu tahun 2018. Pelatihan ini telah dan akan diadakan di 11 kota di Indonesia, dan sudah dimulai di kota Surabaya pada akhir Juli 2018. Setelah Surabaya, pelatihan HTHT sudah diadakan juga di Semarang (Agustus 2018), dan Pekanbaru (8-9 September 2018).  Kegiatan pelatihan akan berakhir di kota Jakarta bertepatan pada Hari Ibu, 22 Desember 2018.

“Bagi RE sendiri program CSR Pelatihan HTHT di Kota Bukit Tinggi ini menjadi rangkaian kegiatan menyambut ulang tahun PT Rekadaya Elektrika yang ke 15 pada 29 september mendatang,” tutur Harjono.

Menurutnya, program CSR RE lainnya adalah pembangunan mushola atau masjid, santunan kepada anak yatim piatu dan kaum dhuafa, serta perbaikan infrastruktur warga.

Sementara, Yayasan Octo Touch dipimpin oleh ibu Octorina Basushanti, fouder sekaligus trainer dari Yayasan Octo Touch. Yayasan ini menawarkan workshop aplikatif, karena 85 persen bisa diterapkan oleh para peserta workshop HTHT.

Menurut Octorina, kegiatan Pelatihan HTHT akan sangat membantu tumbuh kembang anak-anak berkebutuhan khusus dan para penyandang disabilitas, serta para orangtua dan pendamping ABK. Karena selain mengadakan workshop, HTHT juga membuka kelas coaching klinik bagi para orangtua, terapis dan perawat. Coaching Clinic biasanya diadakan esok harinya, setelah pelaksanaan pelatihan HTHT.

Menurut Octorina pekerjaan sebagai pendamping ABK dan penyandang disabilitas tidak mudah, namun sebagian pihak kerap memandang sebelah mata. Yayasan Octo Touch membutuhkan support yang lebih, karena untuk menerima dan menangani ABK dan penyandang disabilitas butuh perjuangan yang luar biasa dibandingkan anak normal lainnya.

Dalam pelatihan HTHT ini, para peserta mendapat pelatihan dengan 3 metode pembelajaran, yakni Interaktive Lecturing, dimana pengajar melibatkan peserta secara aktif hingga terjadi informasi dua arah, metode Audio visual yakni menggunakan alat bantu slide dan video agar peserta mempelajari pengalaman yang telah terjadi sebelumnya, serta metode Behavior Modelling, dimana peserta diajak merealisasikan kemampuan yang diberikan oleh pengajar untuk bersama-sama dapat memberikan umpan balik. (107)

Loading...