Wartawan Firdaus & Teror Covid-19

Catatan : Ilham Bintang

Link berita yang dia posting berjudul “Covid-19 RI Ngegas Lagi, Kasus Baru 3 Mei Ada 2.647” cukup menyentak. Dengan tambahan itu, total sejak pandemi Maret 2020 kasus di Indonesia menjadi 6.779.631 kasus. Sementara yang meninggal menjadi 161.352 pasien.

Data WHO, Indonesia Rangking 20 Tertinggi

Tidak hanya di Indonesia varian baru Covid-19 ngegas. Berdasarkan data dari WHO hingga Kamis (4/5/2023) jam 05:21:42, jumlah infeksi virus corona di dunia telah mencapai 687.389.992 kasus. Sedangkan yang meninggal dunia sebanyak 6.867.887 orang, dan 20.390.704 orang masih dirawat (positif aktif), serta 660.131.401 pasien dinyatakan sembuh.

Eropa menjadi benua dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi yaitu 248.887.455 kasus, sedangkan Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi di dunia yaitu 106.691.739 orang.

Dari 231 negara dan teritorial yang terdampak pandemi virus corona, Indonesia berada di urutan ke-20 dengan 6.779.631 kasus, 161.352 orang meninggal, dan 6.602.572 orang sembuh.

Saat Firdaus memposting berita “Covid Ngegas lagi” di WAG Forum Pemred malam itu, saya tengah berada di Melbourne, Australia. Sudah bersiap untuk tidur. Waktu di Melbourne memang selisih tiga jam lebih cepat dari Jakarta. Ditambah pula cuaca dingin 10 derajat celcius membuat cepat mengantuk. Berita Firdaus membuat saya spontan bangun mencari kit Swab Antigen yang saya bawa dari Jakarta.

Sejak pandemi Covid-19 saya selalu menyimpan beberapa boks kit Swab Antigen untuk persediaan di rumah. Banyak manfaatnya. Tiga hari setelah Idul Fitri 1444 H, pembantu anak saya yang baru balik dari mudik dalam keadaan demam. Saya minta pembantu itu diisolasi dulu di kamarnya. Saya kirim kit Swab Antigen. Hasil tesnya: positif. Nah.

Kisah kenalan atau keluarga yang terkena Covid-19 akhir-akhir ini bisa panjang kalau dideretkan di sini.
Kit Swab Antigen selalu saya bawa kalau keluar kota atau ke luar negeri. Februari lalu dalam perjalanan dua pekan di Amerika Serikat, setiap tiga hari saya Swab Antigen. Petugas Bandara John F Kennedy, New York mensyaratkan menunjukkan data vaksin. Bukan untuk mereka, sebab di sana warga AS lebih tidak perduli lagi urusan Covid19. “Tetapi untuk pemerintah Anda,” kata petugas maskapai penerbangan Qatar saat check – in di Bandara JFK. Pengalaman serupa sewaktu tahun lalu saya kembali dari Melbourne. Saya harus Swab PCR bersama istri sebelum terbang ke Tanah Air.

Saat ini Covid-19 entah varian apapun memang masih meneror. Hanya saja kebanyakan masyarakat tidak mau peduli lagi. Pemerintah pun idem. Paling hanya memberi petunjuk agar tetap menjaga protol kesehatan. Terutama di tempat umum atau saat melakukan perjalanan dengan transportasi umum. Namun sifatnya sudah “Sunnah”. Pemantauan di lapangan memang yang terjadi suka-suka hati.

Dua hari sebelum berangkat ke Melbourne, melalui email Garuda Indonesia mengingatkan persyaratan penumpang penerbangannya. Harus memiliki aplikasi “Satu Sehat” (dulu PeduliLindungi) yang berisi data antara lain vaksinasi Covid-19 hingga empat kali. Yang belum mencapai vaksin sejumlah itu, harus menunjukkan hasil Swab PCR yang berlaku 48 jam, dan harus mengenakan masker.

Tapi di lapangan yang terjadi berbeda. Saat check in di bandara, saya tanya petugas apakah mau memeriksa data vaksinasi, petugas itu menggeleng. Tidak usah, katanya.

Saya tentu saja cemas. Bagaimana mengontrol penumpang penerbangan sehat semua? Saya teringat kisah Ketua Dewan Pers almarhum Prof Azyumardi Azra yang meninggal dalam penerbangan Jakarta – Malaysia, 18 September 2022. Hasil pemeriksaan di RS Malaysia almarhum terpapar Covid-19. Andaikata dilakukan pemeriksaan Swab PCR atau Antigen sebelum terbang kemungkinan keadaan cendekiawan muslim terkenal itu tidak sampai fatal.