PADANG – Wakil Ketua DPRD Kota Padang, Mastilizal Aye, SH, bergerak cepat merespons aksi pengibaran bendera putih oleh warga Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, yang viral di media sosial.
Politisi senior Partai Gerindra ini langsung turun ke lapangan untuk menemui perangkat RT dan RW guna mengonfirmasi kondisi psikologis warga yang terdampak bencana banjir berulang. Aye menegaskan bahwa aksi tersebut bukanlah bentuk protes karena tidak adanya bantuan, melainkan simbol kelelahan fisik dan mental warga menghadapi bencana yang tak kunjung usai.
Aksi pengibaran bendera putih di Tabing Banda Gadang sempat memicu kehebohan di dunia maya dan menjadi perhatian serius para pejabat publik. Mastilizal Aye, yang akrab disapa Aye, segera mengonfirmasi langsung kejadian tersebut kepada Ketua RT 07 dan RT 06 Kelurahan Tabing Banda Gadang untuk mengetahui motif di balik aksi emosional tersebut.
Berdasarkan hasil pertemuannya dengan Ketua RW setempat, Aye menjelaskan bahwa pengibaran bendera putih tersebut adalah ungkapan kejujuran atas kondisi warga yang sudah mencapai titik jenuh. “Bahwa pengibaran bendera putih semata-mata dilakukan hanya karena kami sudah lelah,” ujar Aye menirukan curhatan warga yang ditemuinya.
Rasa lelah warga ini bukan tanpa alasan. Meski TNI, Pemko, Pemprov, hingga pejabat tingkat pusat seperti Ketua MPR dan Wamen telah turun tangan, banjir kembali menerjang wilayah tersebut pada Jumat, 3 Januari lalu. Intensitas hujan yang tinggi membuat harapan warga yang baru saja bangkit kembali hancur diterjang luapan air.
Aye menegaskan pentingnya meluruskan persepsi publik agar tidak terjadi simpang siur informasi. Ia menjamin bahwa bantuan logistik telah mengalir ke warga, namun trauma dan beban fisik akibat harus terus-menerus membersihkan lumpur sisa banjir adalah alasan utama di balik simbol bendera putih tersebut.
“Menurut kami, tidak ada maksud warga menyebut mereka tidak mendapatkan bantuan. Ini murni karena warga sudah lelah menghadapi banjir yang terus berulang,” jelas Sekretaris DPC Gerindra Padang ini dengan penuh empati.
Sebagai solusi jangka panjang, Mastilizal Aye mendesak pemerintah untuk tidak hanya memberikan bantuan darurat, tetapi fokus pada perbaikan infrastruktur sungai. Ia meminta pemerintah segera melakukan normalisasi dan membangun kanal di sisi kiri dan kanan aliran sungai Batang Kuranji agar debit air dapat terkendali.
Tak hanya di Nanggalo, Aye juga menyuarakan aspirasi warga Sawah Liek, Kampung Olo. Ia menyoroti kondisi jalan yang terban di daerah Kandis Raya yang hingga kini belum mendapatkan solusi konkret dari pihak terkait.
“Jika jalan terban ini tidak segera diatasi, akibatnya akan sangat fatal bagi saudara kita di Sawah Liek, Simpang Tinju, hingga Kampung Lapai. Kami berharap bencana ini segera berakhir dan pemerintah bertindak nyata pada infrastruktur,” pungkas Aye. (*)












