PASAMAN – Menanggapi fenomena kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih marak, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Limpapeh Rumah Nan Gadang Provinsi Sumatera Barat kembali menggelar dialog interaktif. Kali ini, acara yang berlangsung selama dua hari, Rabu (6/8/2025) hingga Kamis (7/8/2025), menyasar Kabupaten Pasaman sebagai lokus.
Acara yang dipusatkan di ruang pertemuan Arumas Hotel ini bertujuan memperkuat ketahanan keluarga, yang dianggap sebagai fondasi utama dalam mencegah kekerasan. Dialog ini menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen adat untuk mencari solusi nyata.
Kekuatan Keluarga dan Kearifan Lokal
Kepala Bidang PHPA Dinas DP3AP2KB Provinsi Sumbar, Desra Elena, SKM, MKM, memaparkan konsep “Ruang Bersama Indonesia” (RBI) sebagai inisiatif strategis. Ia menekankan bahwa perempuan dan anak adalah sumber daya potensial yang harus dilindungi. RBI berfokus pada pendekatan holistik, yaitu memperkuat peran ayah dan ibu, membekali anak dengan kemampuan memecahkan masalah, serta memberikan pelatihan dukungan psikologis.
Dalam sesi terpisah, Ketua P2TP2A Puti Sangka Bulan Kabupaten Pasaman, Ny. Lusi Welly Suhery, menyoroti pentingnya kearifan lokal dalam meningkatkan ketahanan keluarga. Menurutnya, nilai-nilai Minangkabau seperti gotong royong, kebersamaan, dan tanggung jawab yang sudah tertanam kuat, dapat menjadi benteng kokoh dalam menghadapi tantangan zaman.
Sementara itu, Pengurus P2TP2A Sumbar, Dra. Asri Suherti, menggambarkan struktur ketahanan keluarga layaknya sebuah rumah. Nilai spiritual sebagai fondasi, komunikasi sebagai tiang, peran orang tua sebagai dinding, dan perlindungan sosial sebagai atap yang melindungi dari berbagai masalah, termasuk kekerasan.
Strategi dan Komitmen Bersama
Kepala Dinas DP3AP2KB Kabupaten Pasaman memaparkan strategi konkret daerahnya dalam mewujudkan masyarakat ramah perempuan dan anak, meliputi:
Membangun Lingkungan Aman: Mewujudkan nagari (desa) ramah perempuan dan anak, dengan membentuk relawan perlindungan hingga memberdayakan Bundo Kanduang sebagai pelindung perempuan dan anak di komunitas.
Pemberdayaan Ekonomi Perempuan: Melalui pelatihan UMKM berbasis potensi lokal.
Edukasi dan Literasi: Menguatkan Sekolah Ramah Anak dan memberikan edukasi kepada orang tua tentang pola asuh positif.
Meski regulasi sudah kuat, keresahan masyarakat tetap muncul. Maswardi dari Nagari Tanjung Balilik mempertanyakan mengapa kasus kekerasan masih terus meningkat. Ia juga menyoroti peran ganda perempuan yang bisa menjadi korban sekaligus pelaku.
Tanggapan pun diberikan, bahwa P2TP2A telah berupaya melakukan sosialisasi intensif, termasuk ke sekolah-sekolah, untuk menekan angka kekerasan. Para peserta, termasuk perwakilan LKAAM dan Bundo Kanduang, sepakat bahwa persoalan ini berawal dari keluarga. Oleh karena itu, penting untuk kembali meninjau pola asuh, penggunaan media, dan kesiapan mental orang tua.
Sebagai tindak lanjut, dua nagari di Pasaman, yaitu Nagari Sundata Selatan dan Nagari Bahagia, akan dijadikan percontohan dalam implementasi program RBI. Langkah-langkah konkrit, mulai dari sosialisasi, pembentukan relawan SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak), hingga kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, akan segera dilakukan.
Komitmen bersama ini diharapkan mampu menghasilkan generasi yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan, serta mewujudkan keluarga sebagai lingkungan yang aman, sehat, dan berdaya.












