PADANG – Upaya Gubernur Irwan Prayitno untuk menggaet ivestor ke Sumbar sudah membuahkan hasil. Momentum 4 tahun kepemimpinan Irwan Prayitno-Nasrul Abit, salah satu investasi panas bumi di Sumbar memulai produksi.
“Kita tetap akan mengajak investor luar negeri agar mau menanamkan modalnya di Sumbar,”sebut Gubernur Irwan Prayitno, kemarin.
Tercatat minat investor untuk menanamkan modalnya di Sumbar kian hari makin meningkat. Terlihat dari realisasi investasi sejak 2015 terus meningkat. Realisasi investasi Sumbar 2019 mencapai Rp5,3 triliun, angka itu setara 123 persen dari target Rp4,3 triliun.
Dikatakannya, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) selalu berkomitmen untuk memberikan insentif bagi investor. Insentif tersebut memang tidak dalam bentuk fiskal, namun kemudahan layanan.
Langkah itu tidak terlepas dari keterbatasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Karena APBD tidak akan membangun sekaligus perekonomian Sumbar. Untuk itu dibutuhkan investor. Sehingga roda perekonomian di Sumbar dapat berjalan. Kemudian berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Dengan adanya DPMPTSP, maka setiap investor akan mendapatkan kemudahan layanan, terutama untuk perizinan. Bahkan, Pemprov Sumbar juga akan membantu mengkomunikasikan dengan pemerintah pusat jika investor terkendala dengan perizinan kewenangan pusat.
“Bahkan, kita juga membantu sampai pada pemerintah pusat, agar pelayanan perizinan itu menjadi mudah dan cepat,”sebutnya.
Diakuinya, persoalan investasi di Sumbar itu yang utama adalah rumitnya mengurus tanah ulayat. Kemudian infrastruktur dan relugasi yang belum sinergi antar lembaga. Meski begitu, Pemprov Sumbar tetap ikut membantu komunikasi investor dengan masyarakat.
“Untuk itu kita juga sudah membentuk satuan petugas (Satgas) investasi, satgas itu nantinya yang akan bekerja untuk menganani kendala investasi di daerah, satgas itu juga bertingkat,”ulasnya.
Diakuinya, sulitnya mengajak investor ke Sumbar diperlukan upaya guna meyakinkan investor yang sudah masuk untuk tetap bertahan. Dengan itu, Pemprov Sumbar mengajak semua elemen untuk mensosialisaikan pentingnya investor bagi pembangunan Sumbar.
Panas Bumi
Dari sejumlah sektor investsi yang ditawarkan Gubernur Irwan Prayitno ke luar negeri, lebih mengutamakan investasi dibidang energy terbarukan, panas bumi. Kemudian diikuti dengan pariwisata dan perikanan.
“Saya tidak pernah menawarkan pertambangan, jika ke luar negeri, padahal potensi itu besar di Sumbar. Kenapa tidak saya tawarkan, karena tambang terbuka itu sangat merusak lingkungan, kalau panas bumi itu sangat ramah lingkungan,”ujarnya.
Saat ini ada 17 titik potensi pembangkit listrik tenaga panas bumi di Sumbar. Jumlah itu tersebar dari Solsel, Agam dan Pasaman. Sementara untuk pembangkit listrik tenaga mini (PLTM) dan pembangkit listrik tenaga mikro hydro (PLTMH) ada 400 titik. Jumlah itu tersebar pada sejumlah sungai yang ada di Sumbar.
Supreme Energy sudah menghasilkan listrik dari tenaga panasbumi. Supreme Energy mampu menghasilkan 85 megawatt dari 8 sumur. Jumlah itu mampu memenuhi kebutuhan listrik 340 ribu rumah tangga. Sementara untuk perjanjian jual beli listrik dengan PLN, Supreme Energy sudah disepakati sebanyak 65 Megawatt.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi Sumbar 2019 mencapai Rp5,3 triliun, angka itu setara 123 persen dari target Rp4,3 triliun yang ditetapkan. Untuk penanaman modal asing (PMA).
Dari data itu, untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dari Rp2,7 triliun targetkan terealisasi sebesar Rp3,02 triliun. Sedangkan dari Penanaman Modal Asing (PMA) dari US$ 120 juta terealisasi sebesar US$ 157 juta atau sebesar 130, 93 persen.
Dikatakannya, realisasi investasi terbesar di sektor energi baru terbarukan seperti panas bumi, pembangkit listrik tenaga hidro, industri makanan dan pariwisata.
“Negara asal investasi paling banyak dari Belanda, Singapura, kemudian China, Jepang dan Perancis khusus PMA,” katanya.
Sementara, untuk sektor investasi lebih banyak pada sektor primer seperti, tanaman pangan dan perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan dan pertambangan. Sektor primer ini investasi mencapai 95,9 juta dolar Amerika. Kemudian diikti sektor sekunder, seperti industri makanan, tekstil dan industri kayu dengan angka 32,4 juta dolar Amerika.
Sedangkan untuk sektor tersier, seperti, listrik, kontruksi, perdaganga, reparasi, hotel dan restaurant perumahan, investasi mencapai 28,6 juta dolar Amerika.
Sedangkan daerah yang terbanyak investasi PMA adalah, Solok Selatan dengan angka 72,4 juta dolar Amerika. Diikuti Sijunjung dengan angka 27,6 juta dolar Amerika dan Tanah Datar 20 juta dolar Amerika.
Sementara itu 2020 Sumbar ditargetkan Rp4,5 triliun. Dia meyakini target tersebut tercapai bahkan bisa melebihi target, sebab sudah ada beberapa investor yang mulai investasi diawal tahun.
Investasi dalam negeri maupun asing di Sumatera Barat (Sumbar) pada triwulan I 2020 dengan target Rp4,72 triliun hanya terealisasi Rp383,1 miliar atau 8,11 persen, namun pejabat terkait mengklaim hal itu hanya karena keterlambatan pelaporan perusahaan.
Rendahnya realisasi investasi di Sumbar pada 2020 tidak terlepas dari pengaruh pandemi covid-19. (hms.sumbar*)












