Sok Hebat Sok Paten, Awas Covid!

  • Whatsapp

Oleh Khairul Jasmi

Tinggi lonjak gadang galapuah, nan lago di bawah sajo (pepatah-petitih dari buku Idrus Hakimy Dt Rajo Penghulu)

Bacaan Lainnya

**

Pepatah Minangkabau ini, artinya: 

sok tahu, sok paten, diingatkan tidak mau. Ini label pada orang yang  tak peduli pada satu masalah, sementara ilmunya tentang masalah itu, nol besar. Sekaligus nasihat dari nenek moyang kita, agar jangan seperti tontong di bukit. 

Apa saja yang Anda buat tiap hari, sudah ada ungkapannya di alam Minangkabau ini. Anda patuh dan jaga jarak pakai masker, ada. Ini dia: 

Paham insyaf Paham nan haniang, paham sangko didoroang hati (kesadaran yang datang dari hati, akan melahirkan tindakan yang baik). 

Maka mari kita ikuti ajaran agama dan adat kita, di sanalah letak ABS-SBK itu. Kalau ke pasar, di angkot, jika diisi penuh oleh kernet, maka usahakan sedapatnya, Anda benar-benar menjaga diri, sebab banyak yang kembali dari pasar, justru kena. 

Jaga jarak itu dalam ungkapan Minang, “agak-agak nan di ateh, nan di bawah kok maimpok.” Jangan sampai kita tataruang di nan data. Memang susah membiasakan hal baru, tapi harus. Intinya disiplin, seperti kita amat terpaksa antre sesuai nomor di bank. Awal-awal antre di bank, rasa kita kunyah kepala satpam itu, yang maksa-maksa kita berbaris ke belakang.Kini? Sudah terbiasa.Begitu pula pakai masker.

Kalaulah sejak dulu-dulu kita terbiasa pakai masker, mungkin flu sudah tak ada lagi.Selama ini kawan kena flu, hidungnya tak dia tutup,mulut apalagi. Akibatnya sekejap saja flu dia pindah pada orang lain. Lalu apa bedanya dengan corona? Ya sama saja. Pindah dari orang ke orang.

Jadi dari orang lain bisa ditularkan pada Anda,sengaja atau tidak.Untuk menangkalnya, pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan bersalin sesampai di rumah, lalu mandi. Untuk bisa mandi, jangan pulang malam-malam benar.Jika memang harus pulang malam, maka bilaslah yang patut-patut saja, kapan perlu rebus air sebentar.

Corona adalah musuh bersama, tandanya musuh, dimana-mana manusia dibunuhnya,yang imunnya kuat sampai sakit saja. Diisolasi dalam sebuah ruangan ber-AC.Sendiri sepi.Sudahlah sendiri, dipasang infus, sekali pasang bisa 4 botol. Darah diambil tiap sebentar. Yang paling perih ambil darah pembuluh vena.Nyo tagak akn lurui-lurih jarum suntik itu di tangan, dicucuknya dalam-dalam, sakitnya, kata mantan pasien covid, ke langit,seperti kena setrum. Obat diminum segenggam-segenggam. Kalau tak percaya, intailah corona itu.

Maka sekarang, berbanyak salawat Nabi, makan makanan sekitar kita, talua, manisan labah nan asli, kamumu, parawah, jambu, kaliki, susu sapi.Kalau mau ngopi, pakai gulo anau, kalau tak bisa kopi pahit. Nantilah apel, anggur dan yang mahal-mahal itu.

Olahraga urang, awak olahraga pula, malonjak-lonjak saja di atas rumah. Atau bersihkan halaman. Kalau tak ada halaman, banda muko rumah barasian.Kalau malas maka pergi saja jalan-jalan ke parak ke sawah atau keliling komplek.Apa saja asal berkeringat. (*)

 

Pos terkait