PADANG-Liputan yang bagus, selain tayang di situs atau portal, bisa dipecah lagi dengan membuatkan konten di platform berbeda. Setidaknya, satu liputan yang kuat bisa menjadi enam produk multiplatform.
Hal itu disampaikan Media Development for AI tvOne AI, Merdi Sofansyah dalam kelas daring Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2025 batch 2, Senin (15/9).
“Mindsetnya, satu liputan kuat dibuat banyak format. Intinya sama, kemasan beda,” kata Merdi.
Dia juga menyebutkan paket-paket standar yang bisa dipakai dalam membuat format berita per platform.
Untuk paket standar untuk YouTube berdurasi 3 sampai 8 menit. Menciptakan hook yang menarik di awal video atau di 10 – 15 detik awal yang memaparkan masalah nyata dan angka. Untuk struktur konten bisa dengan menyebutkan ringkas masalah dan ditutup dengan laporan, lihat data atau kirim pertanyaan.
Kemudian, paket standar shorts atau reels di TikTok berdurasi sekitar 60–90 detik. Konten memiliki kalimat pembuka yang konkret (angka/lokasi). Dengan tiga poin isi, fakta, dampak atau langkah otoritas/perusahaan. Kemudian caption singkat ditambah link rujukan di komentar/bio.
Paket standar IG atau LinkedIn disi dengan 5 sampai 7 frame. Frame 1, judul faktual ditambah lokasi, frame 2 dan 3 berupa angka dan tren, frame 4 berupa kutipan, frame 5 memaparkan apa yang bisa dilakukan, dan frame 6 berisi sumber dan metode singkat.
Selanjutnya, kata Merdi, paket standar newsletter dan WA atau Telegram memiliki paling tidak 3 sampai 5 kalimat, berisi inti masalah, temuan, dampak, tautan baca lanjut. Selain nada ramah, ringkas dan tidak menyesatkan, tambahkan juga link bacaan atau FAQ.
“Sekarang sudah banyak media yang menggunakan newsletter WA ini untuk menyebarkan konten. Ini juga efektif menaikkan trafik pembaca,” kata Merdi yang memulai karir jurnalistik pada 1998 sebagai reporter SCTV.
Kemudian, untuk kanal pendukung, media juga bisa memanfaatkan Spotify untuk konten podcast, berupa tanya-jawab singkat dengan reporter atau ahli. (wy)












