Padang  

Saat Rumah Masih Tak Aman, Gadis Difabel Bertahan di Pengungsian

Risma bersama anaknya Wahyuni di lokasi pengungsian dekat TPA Air Dingin Padang. (foto: rin)

PADANG – Suasana tak begitu ramai di salah satu lokasi pengungsian di Kelurahan Balai Gadang Kecamatan Koto Tangah Kota Padang, Selasa (2/12) siang. Hanya nampak dua kasur yang masih terbentang di ujung ruangan masjid yang dijadikan posko bagi sekitar 40 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak longsor di Bukit Air Dingin. Menurut salah seorang pengungsi, sebenarnya ada sekitar 30-an warga yang mengungsi di sana. Hanya saja, pada siangnya kebanyakan laki-laki pergi bekerja, sementara sebagian ibu-ibu sedang  berkumpul di dapur umum untuk memasak.

Pada salah satu sudut masjid, seorang ibu sedang menyuapi anaknya yang hanya bisa menelentang di atas kasur. “Ini sedang menyuapi kue, tadi dikasih sama orang yang datang memberi bantuan,” kata perempuan bernama Risma (53) ditemui topsatu di Masjid Nurul Jadid dekat TPA Air Dingin.

Sementara anaknya, Wahyuni, seorang difabel berusia 21 tahun tapi masih terlihat seperti 10 tahun lebih muda, menelan makanan dibantu dengan air minum yang diberi ibunya. Gadis berkulit kuning langsat itu menatap ibunya sambil sesekali melirik orang yang datang dalam diam. Ia memang hanya bisa menelentang di kasur dan dibantu orang tua atau saudaranya untuk melakukan apapun.

Ibunya, dengan wajah tegar bercerita, kondisi seperti itu sudah dialami Yuni semenjak usianya 3 tahun. Saat itu, Yuni mengalami demam berkepanjangan dan dokter memutuskan untuk mengambil jaringan sumsum tulang belakangnya. Namun, yang terjadi setelah itu, Yuni malah semakin lemah hingga lumpuh sama sekali.

Baca Juga  Dinsos PPA Pessel Diskusi dengan PPDI Bahas Program

“Dulu sempat hampir dua bulan di ICU dan perawatan. Sempat juga terapi sampai usianya 9 tahun, tapi sekarang sudah tidak lagi,” kata Risma.

Di tempat pengungsian, Risma tetap telaten merawat anak ke empatnya itu. Beruntung, untuk makan, pengungsi di sana tidak pernah kekurangan. Selalu ada bantuan bahan makanan yang datang ke dapur umum yang berada di teras salah satu rumah warga setempat. Terkadang, bantuan datang sudah dalam bentuk nasi bungkus.

Ia bercerita, sudah lima hari berada di masjid tersebut semenjak perangkat menyuruh warga di Kampung Bukit Pinang Air Dingin mengungsi. “Sebenarnya, kami tidak mau turun ke bawah. Soalnya bagaimana mau membawa Yuni turun. Tapi, kemudian datang tim SAR dan Polwan sengaja untuk membawa Yuni ke sini,” katanya.

Longsor di bukit itu pertama kali terjadi pada Rabu (26/11) dan menimbun teras rumah warga. Saat itu, tiga keluarga langsung menyelamatkan diri mereka dan mengungsi ke rumah kerabatnya. Pada Jumat (28/11) paginya, longsor yang lebih besar kembali terjadi hingga menimbun habis tiga rumah warga. Sementara, sekitar 37 rumah lainnya terancam longsor susulan karena tanah terlihat masih bergerak. Akhirnya, warga diminta turun oleh pihak kelurahan dan aparat untuk menghindari bahaya. Termasuk Risma dengan keluarganya.

Baca Juga  Pemko Padang Rencanakan Pembangunan Rumah untuk Warga yang Rumahnya Hanyut

Saat ditanya kapan akan kembali ke rumah, Risma mengaku masih menunggu kondisi lebih aman. Karena, sulit baginya untuk mengangkut Yuni naik atau turun jika kembali evakuasi. Sementara saat ini, tanah di tempat tinggalnya masih labil.

Ke depan, ia mengaku akan kembali ke tempat semula bersama keluarganya bila kondisi sudah aman. Karena, lokasi tempat tinggalnya sekaligus merupakan mata pencaharian bagi keluarga mereka. Ia dan suami merawat ladang orang sekaligus berkebun di sana.

Saat ini, yang dibutuhkannya adalah susu dan pampers untuk Wahyuni. Siang itu, kebetulan ada donatur yang mengantarkan susu kalsium kepada anaknya.

Sementara itu, Ramiyanti, korban yang rumahnya hancur dihantam longsor, mengaku selain dua helai pakaian dan surat-surat berharga, tak ada yang bisa diselamatkan dari rumahnya. Namun, pegawai di TPU Air Dingin itu tetap bersyukur ia bersama tiga anaknya bisa selamat.

Di Kelurahan Balai Gadang, menurut keterangan Lurah setempat, Yusrizal Maas SH yang ditemui di lokasi pengungsian di Masjid Nurul Jadid beberapa hari lalu mengatakan, setidaknya ada 8 rumah yang rusak berat, tersebar di Beringin, Kelok Asmara, pemandian Lubuk Lukum. Selain itu, longsor di 6 titik di mana lima titik berada di Rt1 RW 9 (jalan alternatif Padang-Solok) dan satu titik di dekat TPU Air Dingin. Lurah mengatakan tengah fokus untuk melakukan recovery korban. (Melda Riani)