Opini  

Saat Heboh Sekarang, maka Ingatlah Randang Buatan Nenekmu…

Khairul Jasmi

Oleh Khairul Jasmi

Masakan ibu yang “dahsyat” itu adalah warisan dari nenekmu, nenek Anda, nenek kita. Randang adalah panorama menakjubkan kuliner dari dapur ibu-ibu Minangkabau. Masih ingat nikmatnya masakan beliau? Salah satunya adalah randang yang sekarang lazim disebut rendang yang ditiru dimana saja dan boleh-boleh saja. Asal jangan Randang Babi Rumah Makan Padang.

Waktu kecil saya makan randang hanya dua kali setahun, pertama saat Hari Raya Idul Adha dan kedua Idul Fitri. Saat Hari Raya Haji, dari daging sapi terbaik, sebab kakek saya punya jemaah dan jemaah itu berkurban dua tiga ekor sapi.

Nenek saya adalah ahli membuat randang, maklum perempuan desa. Kalau daging sapi kurban sudah ada di rumah, maka segera dibersihkan. Nenek saya meminta kepada laki-laki dewasa untuk memetik kelapa paling tua di pohonnya, yang banyak tumbuh di pinggir tebat kakek saya. Ia pandai memilih buah kelapa paling tua dan banyak minyaknya.

Kelapa diperut sendiri di kukuran, setelah itu diperas untuk diambil santannya. Bukan dengan tangan, tapi dimasukkan ke dalam kain putih bersih, lalu dipilin sekuat-kuatnya, seperti gaya emak-emak memilin kain sesudah mencuci. Dengan demikian keluar santannya, tanpa sisa.

Cabai dipetik di lahan sendiri, kemudian digiling sendiri dengan bumbu segar diambil dari kebun sendiri pula. Tak ada yang dibeli, tapi intinya bukan itu, melainkan bumbunya segar alami, sesegar daging sapi pilihan. Berbanding terbalik dengan sekarang, semuanya segar tapi karena disimpan dalam kulkas. Sekarang tak ketahuan, santan kelapa muda atau tua, karena yang diberi santan instan.

Membuat randang, adalah keterampilan, prosesnya berjam-jam, dengan api yang nyala rata. Apinya bukan kompor tapi dari tungku, dengan kayu bakar yang kering. Sedemikian lama dan telatennya, juga mahal, maka randang menjadi masakan paling tinggi nilainya di tiap rumah ibu-ibu Minangkabau. Tak ada nama masakan ini sebenarnya, tapi karena prosesnya yang marandang berjam-jam itu, maka disebut Randang. Marandang adalah, memasak sesuatu di kuali di atas tungku, yang memakan waktu lama. Lama, dari AWAL segala mentah, menjadi seperti gulai, lalu lama kelamaan menjadi kalio, kemudian kering karena dirandang. Waktu kanak-kanak dan remaja, randang nenek dan ibu bagi saya paling enak, sekarang tambah randang buatan istri. Marandang atau randang adalah proses dari sebuah keterampilan, maka lebih tepat kata itu bukan untuk brand, tapi untuk proses, dengan demikian di sanalah khasnya ibu-ibu Minangkabau yang sukses menciptakan sebuah masakan terenak di dunia. Hal ini boleh dan telah dibagi ke dapur siapa saja di seluruh dunia tanpa diprotes sekalipun, kecuali ada yang mengklaim, seperti Malaysia.

Tiap orang Minangkabau akan membayangkan proses pembuatan randang yang dilakukan di dapur rumah ibunya, kecuali di rumah itu tak pernah ada proses melakukan hal itu. Randang itu disimpan dalam cambuang putih atau piring berwarna sama dengan minyak yang terlihat di tepi-tepinya. Ada randang warna hitam, ada kuning, ada kering ada basah. Kuliner ini bertahan lama, enak sekali menemani untuk makan nasi. Sangat enak malah.

Makanan enak itu hanya dua kali setahun adanya di rumah rakyat Minangkabau. Sebenarnya, ini bisa juga disebut sebagai sebuah satire, karena zaman lampau penduduk miskin dan segala tak ada, begitu ada daging kurban, maka dibuatlah masakan yang tahan lama. Bisa jadi awalnya bukan dimaksudkan membuat randang, sekadar gulai belaka. Tapi, karena agak banyak maklum sehabis kurban, maka bertahan untuk berhari-hari, maka dihangatkan berkali-kali, hari demi hari, maka tanpa sengaja terciptalah randang. Bisa jadi. Sangkaan saya ini, mungkin ada benarnya, sebab daging mahal, maka mesti dihemat.

Proses membuat randang juga akan dilakukan untuk Idul Fitri. Bisa kekening air mata emak Anda kalau tak ada hidangan ikan, ayam, belut dan randang atau dua di antara yang saya sebut itu. Biasanya randang mesti ada. Dalam masyarakat komunal di nagari-nagari kita saat hari raya, orang akan singgah ke rumah dan disuguhi makanan. Bukankah ada tradisi sebelum Idul Fitri sang suami mesti membawa daging ke rumah. Dijinjing sepanjang jalan agar terlihat oleh orang. Bukankah penjual daging ramai sebelum hari raya itu.

Harum semerbak

Jika Anda berada di nagari pada suatu ketika dulu, atau sekarang sebelum Idul Fitri, maka akan tercium bau harum semerbaknya randang dari dapur ke dapur. Ibu-ibu kita sedang berpesta ria sesamanya di dapur masing-masing. Ada yang kekurangan bumbu, diminta ke sebelah.