Padang  

Perjuangan Guru SD Bustanul Ulum: Dari Posko Pengungsian Hingga Ruang Belajar Sementara di Diklat Semen Padang

PADANG – Rici Noviasari, Kepala Urusan Pengajaran SD Bustanul Ulum Semen Padang, menatap haru ke arah halaman Gedung Diklat PT Semen Padang. Baginya, melihat 109 siswanya kembali belajar tatap muka adalah sebuah keajaiban kecil. Setelah banjir bandang memutus akses jalan menuju sekolah mereka di Batu Busuk, para guru harus berjibaku memastikan pendidikan anak-anak tidak terhenti di tengah reruntuhan.

Dedikasi para guru ini sudah dimulai sejak hari pertama pascabanjir. Tanpa menunggu perintah, 12 orang guru termasuk kepala sekolah langsung turun ke titik-titik pengungsian di Masjid Taqwa hingga SMPN 44 Padang. Mereka mendata satu per satu siswa yang tersebar di berbagai lokasi untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan akses komunikasi dan perhatian pascabencana.

Di pengungsian, tugas guru berubah menjadi lebih dari sekadar pengajar. Rici dan koleganya menjalankan peran sebagai pendamping psikologis. Mereka memberikan trauma healing, mendengarkan curahan hati siswa, hingga sesekali mengulang pelajaran di antara hiruk pikuk tenda darurat. Fokus utama mereka saat itu adalah memastikan mental anak-anak tetap stabil.

Baca Juga  Bangun Jembatan Jogging Track, Walikota Dumai : Terimakasih Semen Padang

“Mereka hebat. Trauma boleh ada, tapi semangat mereka lebih besar,” ujar Rici dengan nada bangga. Keputusan memindahkan aktivitas belajar ke Diklat PT Semen Padang diambil setelah rapat panjang bersama yayasan dan wali murid. Akses jalan yang putus total akibat banjir susulan di akhir Desember 2025 membuat sekolah lama tidak mungkin lagi dioperasikan dalam waktu dekat.

Sejak Senin, rutinitas baru dimulai. Sebanyak 109 siswa kini belajar di ruang pelatihan yang nyaman dan sejuk. Meski ada tujuh siswa yang terpaksa menumpang belajar di Lubuk Buaya karena relokasi hunian, Rici memastikan bahwa kurikulum dan kualitas pengajaran tetap terjaga. Jam belajar pun disesuaikan agar anak-anak tidak terlalu lelah menempuh perjalanan.

Dukungan dari PT Semen Padang diakui Rici sangat luar biasa. Fasilitas gedung yang representatif hingga bus sekolah gratis menjadi kunci kelancaran proses belajar mengajar. Sebagai guru kelas VI, ia melihat perubahan drastis pada keceriaan siswa sejak mereka pindah ke lingkungan belajar yang baru dan lebih aman dari bayang-bayang sungai.

Baca Juga  Bagan yang Masih Beroperasi di Singkarak Akan Ditenggelamkan

Tantangan mengajar di lokasi sementara tentu ada, namun semangat kolektif para guru menjadi bahan bakar utama. Mereka rela mengatur jadwal piket dan mengawasi siswa dengan lebih intensif mengingat kondisi psikologis anak-anak yang masih fluktuatif. Bagi Rici, memastikan anak-anak merasa nyaman adalah prioritas utama sebelum masuk ke materi akademik.

Perjuangan guru SD Bustanul Ulum adalah cerminan ketulusan di tengah bencana. Mereka membuktikan bahwa dinding sekolah boleh saja terisolasi, namun semangat mengajar tidak boleh terhenti. Di ruang diklat ini, mereka sedang menyemai kembali benih-benih harapan yang sempat terendam lumpur banjir, memastikan masa depan anak-anak Batu Busuk tetap cerah. (*)