Oleh Roni Aprianto/ Wartawan Madya
Kendaraan Dinas Bupati Annisa Suci Ramadhani melindas bentangan panjang aspal hitam di Kecamatan IX Koto, Silago. Gemuruh putaran roda mobnas itu memecah keheningan siang. Lebatnya hutan, dedaunan rimbun nan hijau dan debu jalanan menjadi saksi bisu kunjungan bupati.
Ia menapaki satu per satu kampung terpencil di wilayah itu. Dengan wajah penuh senyum, ia menyapa masyarakat yang memang jarang mendapat kunjungan pejabat. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata dari komitmen untuk menjemput langsung suara rakyat.
Di alam terbuka, berteduh di bawa pohon rindang beralasan tikar, dan di kedai kopi sembari ditemani secangkir kopi, masyarakat berkumpul. Bertatap muka langsung dengan bupati pilihan mereka, sangat dekat. Tak ada protokoler yang kaku. Setiap warga menyampaikan keluhan dan harapannya, dari jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki, irigasi,
jalan usaha tani, hingga jembatan yang sangat dibutuhkan warga serta kebutuhan prioritas lainnya.
Bupati Annisa mendengarkan dan mencatat semua aspirasi masyarakat yang nantinya bakal dirangkum dalam buku besar APBD Dharmasraya. Yang membedakan kunjungan ini dari kunjungan formal lainnya adalah tindak lanjut yang nyata. Beberapa usulan langsung direspon untuk menjadi bagian dari Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2026.
Kunjungan ini juga bagian dari visi besar membangun dari pinggiran. Bupati menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya terpusat di kota, daerah terpencil pun berhak merasakan kehadiran dan pelayanan pemerintah secara merata.
“Kami ingin menjadikan seluruh warga, di manapun mereka tinggal, merasa menjadi bagian dari pembangunan,” kata bupati sembari disambut senyum ramah para warga, Jumat (12/9/2025).
Sembilan Koto Silago punya sejarah panjang dalam perjalanan Dharmasraya. Dua dekade lalu, ketika Dharmasraya baru saja mekar, wilayah ini mulai merasakan denyut pembangunan berkat kepemimpinan Bupati definitif pertama, Marlon Martua (2005–2010), orang tua kandung Annisa. Di masa itulah aspal pertama kali sampai ke Sembilan Koto, disusul listrik yang menerangi.
Jejak itu masih diingat jelas oleh masyarakat, karena menjadi fondasi penting bagi kemajuan nagari.
“Kalau dulu kami bisa menikmati listrik dan jalan aspal untuk pertama kalinya, tentu sekarang kami berharap kesinambungan pembangunan tetap berlanjut,” ungkap seorang tokoh masyarakat setempat.
Meski dengan keterbatasan anggaran, semua yang menjadi kebutuhan mendasar masyarakat akan diupayakan untuk masuk ke prioritas pembangunan daerah. Pembangunan tidak boleh berhenti di Kecamatan IX Koto, Silago.
“Tidak sedikitpun ada niat untuk mengabaikan Sembilan Koto. Semua masukan yang saya dengar hari ini akan kita bawa dalam perencanaan tahun 2026. Kita ingin memastikan pembangunan betul-betul menyentuh yang dibutuhkan rakyat,” ujar bupati.
Hadir dalam kunjungan itu, empat walinagari wilayah setempat yakni, Muhammad Ramli Walinagari Silago, Mukhlis Dt. Sampono Walinagari Koto Nan Ampek Dibawuah, Apridoni Nasar Walinagari Lubuk Karak dan H. Irmandes Malin Cayo Walinagari Banai
Para walinagari ini menyampaikan terimakasih atas kesediaan bupati hadir di tengah masyarakat.
“Kami siap seayun selangkah dengan Bupati dalam membangun Dharmasraya. Tidak ada ruang bagi kami untuk diadu domba oleh kepentingan siapapun. Sembilan Koto ingin maju bersama dalam kebersamaan,” tegas mereka.
Bagi masyarakat, kehadiran bupati bukan sekadar simbol, tetapi tanda bahwa suara mereka tidak diabaikan. Dari forum resmi, dari hamparan sederhana, hingga dari warung kopi, mengalir harapan baru. Kesinambungan pembangunan yang berpihak pada rakyat, sejalan dengan fondasi yang telah diletakkan sejak masa awal berdirinya kabupaten.
Kini, Sembilan Koto menatap masa depan dengan keyakinan. Pembangunan tidak lagi hanya cerita masa lalu, melainkan kenyataan yang akan terus ditenun melalui kerja sama pemerintah daerah dan masyarakat. Pemerintah hadir bukan hanya di pusat kota, tapi sampai ke batas-batas kampung yang sering terlupakan.
Kedatangan bupati bukan hanya tentang mendengar, tapi juga menyatukan jarak antara pemerintah dan rakyat. Ketika pemimpin mau turun langsung, menyusuri jalan berliku, duduk bersila dan mendengarkan keluhan tanpa sekat, di sanalah kepercayaan dan harapan tumbuh.
Dan bagi warga pelosok yang sering merasa ditinggalkan, kehadiran seorang bupati yang datang bukan untuk sekadar melihat, tetapi benar-benar mendengar dan bertindak adalah bentuk penghargaan paling berharga. ( ***)
Menyusuri Jalan Berliku Menjemput Harapan Baru Masyarakat












