PADANG – Memoar luka membawa cahaya. Itulah ungkapan menggambarkan ketika namaku tertera diantara salah satu dari 15 penerima Journalism Fellowship On CSR III kerjasama Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan – PT Tower Bersama Infrastruktur Grup (TBIG).
Ya, tepatnya Mei 2026. Lenggogeni, terpilih sebagai peserta JFC Batch III. Rasa senang dan bahagia pun bergelora di dada. Kenapa tidak, dari banyaknya pendaftar, namanya masuk dalam jajaran 15 peserta. Pembukaan fellowshipnya pun dimulai, 22 Mei 2026. Belajar secara daring maupun luring dilakoni. Apalagi di tengah-tengah kesibukannya super padat, ia masih tetap semangat menerima ilmu pengetahuan dari para pakar yang berkompeten.
Baginya, sebagai seorang jurnalis media print ataupun cetak, materi-materi selama fellowship Juni dan Juli sungguh menarik. Mulai dari perkembangan teknologi baru, AI dalam jurnalisme, mobile jurnalism hingga jurnalisme audio visual di era digital. Tak ketinggalan para penerima fellowship pun dibekali kode etik seorang jurnalis menuju jurnalisme berkualitas.
Dua bulan berjibaku daring selama pagi hari pun di lakoninya. Di akhir pekan, di evaluasi oleh mentor, Jamalul Insan. Saya bersama empat rekan lainnya, Buliza Rahmat, Dian Mafrani, Ikram dan Hulwa Dzakira. Semuanya dilakoni dengan penuh semangat.
Tibalah akhir dari pertualangan belajar melalui jalur fellowship. Para pesertanya yang lolos selama dua bulan tersebut, dikumpulkan kembali di Pekalongan. Ya, tepatnya, di Rumah Batik TBIG – Jawa Tengah. Dari hasil evaluasi, saya pun masuk salah satu dari 11 peserta yang menerima sertifikat kelulusan yang diserahkan langsung Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan Nurcholis MA Basyari, Jamalul Insan dan Fransiskus Surdiasis dan Chief of Business Support TBIG Lie Si An, Head of CSR Department TBIG Arief Wibisono, Senior CSR Advisor TBIG Fahmi Sutan Alatas, Head of CSR Department TBIG Arief Wibisono, Senior CSR Advisor TBIG Fahmi Sutan Alatas di Pekalongan, Jumat (10/7/2026).
Yes, petualangan dimulai dari Bandara Internasional Minangkabau – Padang, pukul 04.30 WIB, Rabu (8/7/2026). Elang terbang membawanya melihat keindahan lukisan sang pencipta di pagi hari. Fajar menyising, berwarna jingga. Sejam lima puluh menit, menghantarnya di Jakarta, tepatnya Soekarno Hatta Internasional Airport. Sesampai di ibukota, ia melaju langsung menerobos lautan mobil dan gedung pencakar langit menuju Stasiun Gambir.
Panitia, Amel nan cantik menunggu dengan bekal makan siang dari Hokben. Menyerahkan langsung tiket menuju Pekalongan. Aku pun menuju tempat kereta api berhenti. Seraya menunggu, perut pun keroncongan. Di tengah lalu lalang kereta api dan hiruk pikuk orang menyibukan dirinya, aku pun lahap makan dengan supit. Tak terasa, kereta api bermerek Sembrani pun tiba. Sekira pukul 10.20 WIB, di gerbong eksekutif 1, kursi 5 A menjadi tempat ternyamannya selama 4 jam 20 menit.
Wow, hamparan persawahan menjadi pemandangan menyejukan di hati nan hampa ini. Layaknya, lukisan sang pencipta yang indah sebagai pelipur lara ‘padusi minang nan cantik’ itu. Sebotol minum ada di depanku. Teman disebelahku, seorang lelaki layaknya bercelana pendek. Ya, bisa dibilang sugar daddy-lah. Ketika bertanya, tujuan kemana. Pekalongan, jawabku singkat.
Siang menyapa. Cukup lama duduk di kursi sendiri. Dipikir, ia telah turun di stasiun lain. Ternyata, sang sugar daddy makan siang di cafe, di salah satu gerbong. Maklum, di tempatku kereta api belum menjadi transportasi familiar. Sehingga, saya, awak minang ini tak terbiasa naik kereta api dalam perjalanan jauh.
Naik kereta api di Jawa ini, baru dua kali. Pertama dari Stasiun Solo – Gambir dan sekarang PP, Gambir – Pekalongan, Pelakongan – Gambir. Bahagialah, naik kereta api seorang diri. Sesampai, di Stasiun Pekalongan, ada seorang yang gagah menjemput, tapi lupa tanya namanya, karena grogi. Nanti menginap di Hotel Amandaru persis didepan Stasiun Pekalongan. Sekarang, dibawa ke Rumah Batik TBIG, karena peserta lain yang sudah tiba berkumpul disana.
Sore pun menyapa, seluruh peserta pun check in di hotel. Resto Masduki menjadi tempat makan malam pertama kami di Pekalongan. Masakan khas, Pekalongan pun di hidangkan. Masakannya sesuai dengan lidah, enak.
Esok paginya, pukul 08.00 WIB kami berkumpul sebelum ditugaskan sesuai pembagian kelompok pertama kali. Kami pun dengan mentor Jamilul Insan berangkat ke Grya Batik Dini, milik CEO Purhedi. Disana, kami melihat proses pembatikan cap. Mulai dari kain putih polos, di cap hingga perwarnaan dan penjemuran. Kisah jatuh bangun sang CEO diceritakannya. Hingga akhirnya ia tergabung dalam Koperasi Jasa Bangun Bersama (KBB) adalah koperasi binaan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).
Sebagai UMKM binaan Koperasi Jasa Bangun Bersama TBIG, ia yakin usahanya dalam produksi batik cap pasti maju secara berangsur-angsur. Tak terasa, siang pun menyapa. Kami pun bergerak ke RM Sambal Sawah. Wow, disana masakan ikan kolamnya enak, besar pula.
Usai makan siang, kami pun bergerak kunjungan lapangan Aksi Monik di Kedungwuni, masih sekitaran Pekalongan. Kami pun menyaksikan aksi ibu-ibu cantik memasak dan mobil monik terparkir gagah. Senja pun tiba. Kami para peserta 11 orang pun balik ke hotel untuk mandi dan istirahat. Pukul 19.00 WIB, kami pun makan malam di Resto Dian Pelangi. Disana sudah menunggu, Senior Advisor Indonesia Fashion Chamber (IFC) Taruna Kusmaryuda Kusmayadi didampingi Sekjennya, Neera Alatas. Berbincang-bincang seputar feysen dan batik. Tak terasa, jarum jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Kami pun berpisah, untuk kembali bertemu esok pagi di Rumah Batik TBIG.
Tepatnya Jumat (10/7), seluruh peserta check out hotel, karena hari terakhir kami bersama. Usai sarapan, kami ke Rumah Batik TBIG untuk acara penutupan Journalism Fellowship on CSR 2026 dan Young Batik Enterprenuers Fashin Fellowship 2026. Wow, sungguh mengesankan, selama tiga hari bersama, kini harus kembali ke kota masing-masing. Ada yang balik ke Solo, Malang, Jakarta, Jogyakarta hingga Batang, Jawa Tengah.
Kembali ke Jakarta di sore hari. Jumat senja, jakgijak gijuk, Kereta Api Argo Merbabu membawa kami, saya, Jamalul Insan, Nurcholis MA Basyari, Fransiskus Surdiasis, Amel, Mika, Hulwa dan Ikram menikmati indahnya sore di dalam kereta.
Kursi nomor 7 B, paling ternyamanku menikmati pemandangan dari dalam lajunya kereta. Sekitar pukul 19.16 WIB, kami layaknya keluarga dengan satu anak berisikan saya, Hulwa dan Ikram langsung menuju Hotel Amaris yang terletak di pusat kota Jakarta. Dari dalam kamar, ada pemandangan Masjid Istiqlal. Kami pun menjelajahinya di malam hari. Takjub, itulah yang ada di pikiran kami. Saling bergantian mengabadikannya dalam lensa kamera. Maklum, kami dari Padang dan Aceh menjelajahi masjid terbesar di Asia Tenggara. Dan dari kejauhan, terlihat Istana Merdeka dan Gereja Katedral Jakarta dan Gereja Immanuel. Setelah puas kami pun berlalu, untuk mencari empuknya kasur sebelum kembali ke kota masing-masing. Esoknya, kami berpisah.
“Ibu Lenggogeni, sampai jumpa lagi,” ucap lelaki berjas, kemungkinan sang pilot Garuda Airlines usai bertugas membawa kami selamat mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Saya pun tersenyum dan tersanjung tanpa berkata-kata, karena beliau tahu nama saya. Selepas itu, saya berfikir, dari nama beliau tahu nama saya. Hingga sekarang saya mencari jawabannya. Yang jelas, kisah yang ditulis ini, akan menjadi memoar indah penghapus luka membawa cahaya bagi kehidupan saya kelak, seusai badai dahsyat itu datang. (*)










