Membentang “Permadani” di Teluk Buo, Pertamina Majukan Ekonomi Warga dengan TJSL

KJA di Teluk Buo dengan penerapan automatic tank gauge untuk budidaya perikanan. (yuni)

 

PADANG -Tenang dan menenangkan. Itulah yang dirasakan tatkala pertama kali menginjakkan kaki di Teluk Buo di Kelurahan Teluk Kabung Tengah, Kecamatan Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatra Barat. Laut dengan airnya yang tenang, nyaris tak beriak. Dari kejauhan tampak biru dan mengkilap diterpa terik mentari siang yang turun garang.

Hamparan mangrove yang menghijau di pinggir pantai menambah kesejukan mata memandang. Kondisi ini sangat kontras bila dibandingkan dengan lima tahun lalu atau diawal-awal PT Pertamina Integrated Terminal (IT) Teluk Kabung memulai menggelontorkan dana tanggung jawab sosial dan lingkungannya (TJSL) untuk penanaman mangrove di kawasan tersebut.

Kala itu, rawa yang ada di sana, tampak gersang. Hanya ada beberapa mangrove mati yang menyembul di permukaan. Kini, setelah lima tahun program TJSL berlangsung sepanjang mata memandang, hanya hijau hutan mangrove yang terlihat dan menyejukkan mata.

Meski sudah menghijau, PT Pertamina Patra Niaga melalui IT Teluk Kabung tak lantas berlepas tangan. Di tahun ini, kembali melakukan penghijauan di beberapa areal yang masih belum ditumbuhi mangrove.

Seperti pada Peringatan Hari Mangrove Sedunia tahun ini, PT Pertamina menanam 1.000 bibit di sana. Penanaman dilakukan pada 1 Agustus 2024 lalu atau beberapa hari setelah hari peringatan yang jatuh pada 26 Juli setiap tahunnya.

Bibit mangrove itu ditanam Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Freddi Anwar dan jajarannya bersama Gubernur Sumbar, Mahyeldi yang didampingi pula beberapa pimpinan organisasi perangkat daerah di provinsi ini. Sebelumnya, setiap tahun, jumlah bibit mangrove yang ditanam berkisar 1.000 hingga 2.000 batang.

Secara total, berdasarkan pemetaan yang dilakukan tim PT Pertamina Patra Niaga, potensi pengelolaan mangrove di Teluk Buo bisa mencapai 40 hektare.

Freddi dikesempatan itu kepada wartawan mengatakan, kegiatan penanaman mangrove merupakan agenda rutin yang terus dilakukan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut. “Penanaman mangrove di sini terus kami lakukan setiap tahun,” katanya.

Dia menegaskan, Pertamina dalam kiprahnya, tidak hanya menyalurkan energi ke seluruh negeri, tapi juga melaksanakan program-program pemberdayaan masyarakat melalui TJSL atau coorporate sosial responsibility (CSR). “Pertamina berkomitmen untuk melaksanakan tanggung jawab terhadap lingkungan secara berkelanjutan. Intinya, kami tidak hanya berfokus pada distribusi energi, tapi juga memastikan bisnis berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat di Teluk Buo yang berdekatan dengan Integrated Terminal BBM dan LPG,” ujarnya.

Freddi juga menekankan bahwa Pertamina ingin maju bersama dengan masyarakat, berjalan beriringan. “Prinsip kita dari Pertamina tidak hanya ‘melulu’ bicara komersial, tapi juga harus memperhatikan kebutuhan di ring satu kita. Prinsip Pertamina, tumbuh bersama, berjalan beriringan, tidak hanya memajukan korporasi, tapi masyarakatnya juga harus maju,” tegasnya.

Baca Juga  Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir Resmikan Pembangunan Asrama Pontren Kauman

Tanggung jawab Pertamina lah lanjutnya untuk memajukan ring satu IT Teluk Kabung dalam meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, lewat peningkatan perekonomian dan pariwisata yang mendatangkan income atau pendapatan bagi masyarakat sekitar lokasi. “Kami siap bersinergi, kolaborasi dengan pemerintah daerah melalui instansi terkait memajukan perekonomian masyarakat melalui kegiatan yang ada di sini,” ujarnya.

TJSL PT Pertamina di sana memang tak sebatas pada penanaman mangrove yang kini sudah menjadi lokasi wisata edukasi, tapi juga pemberdayaan nelayan dan usaha mikro kecil menengah, serta pengembangan potensi ikan kerapu dengan memanfaatkan teknologi sensor untuk peningkatan pengetahuan nelayan. Hal ini sesuai dengan 24 persen pekerjaan penduduknya yang berkutat sebagai nelayan.

Seluruh program itu dikemas dengan nama Program TJSL Permadani Bungus. Permadani bagi Pertamina adalah singkatan dari Pengembangan Edu Ekowisata Mangrove Berkelanjutan melalui Digitalisasi Pemantauan Kualitas Air di wilayah Tepian Pantai Bungus.

Nama program itu nampaknya selaras dengan kondisi alam Teluk Buo kini nan indah membentang bagai permadani. Cantik, memikat.

Menyusuri hutan bakau dengan perahu sungguh mengasyikkan dan petualangan ini patut dicoba. (ist)
Menyusuri hutan bakau dengan perahu sungguh mengasyikkan dan petualangan ini patut dicoba. (ist)

Banyak manfaat

Kehadiran Program Permadani diakui Ketua Pokdarwis Desa Wisata Teluk Buo, Khairul Mahmud Zulkifli Wahab memberikan banyak manfaat bagi masyarakat setempat. Diakuinya, sejak program ini dimulai memang belum begitu terlihat dampak secara signifikan, namun telah ada perubahan pola pikir dari beberapa warga yang terlibat dalam program di Desa Wisata Teluk Buo. “Edu ekowisata di Desa Teluk Buo telah dimulai sejak 2023, tapi sifatnya memang masih berupa penguatan dan pengembangan mentalitas,” kata pria yang akrab disapa Kapten Mud itu.

Dengan momen peresmian pada 1 Agustus 2024 lalu, dia berharap, program yang didukung penuh oleh PT Pertamina Patra Niaga ini akan terus berkembang. “Kegiatan edu ekowisata saat ini, masih berfokus pada edu ekowisata mangrove dan melihat potensi hutan bakau. Ke depan juga akan ada penanaman terumbu karang, karena selain mendatangkan wisatawan, juga bisa menjadi sumber kehidupan,” jelasnya.

Pokdarwis Desa Wisata Teluk Buo menurutnya beranggotakan 15 orang. Tapi dari jumlah itu hanya 10 orang yang aktif. Pokdarwis ini sendiri juga mewadahi Pokdakan Teluk Buo yang beranggotakan 22 orang yang ikut serta dalam budidaya ikan kerapu pada keramba jaring apung digital. “Kelompok ini juga membuat pakan dari ikan. Pakan dibuat saat tangkapan melimpah. Biasanya kami jual juga ke nelayan di luar kawasan Teluk Buo,” sebut Kapten Moed.

Baca Juga  Ini Pentingnya Fungsi Kawasan Industri, Versi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa

Menariknya lagi, dengan program Permadani Bungus Pertamina, Tambak Jaring Apung Nelayan di perairan Teluk Buo itu dengan pemantauan eksternal dan internal secara digital. Memudahkan pengelola untuk melihat tumbuh kembang dan budidaya ikan kerapu di sana.

Kolam air pada keramba jaring apung di sana juga dipantau secara digital. Utamanya untuk mengecek pencemaran air di kolam dan juga pencemaran di tepi laut bungus. “Penerapan automatic tank gauge dalam budidaya perikanan di Teluk Buo ini untuk memantau kualitas air pada budidaya ikan kerapu,” terang Area Manager Comm, Rel & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Susanto August Satria.

Selain kelompok tersebut, juga ada Pohlasar atau kelompok pengelola dan pemasar bernama Kerang Batik. Kelompok ini beranggota 26 orang kaum hawa. Mereka mengolah dan memasarkan produk olahan ikan dan mangrove yang bernilai gizi tinggi.

Pada Selasa, 23 Juli 2024 atau pada peringatan Hari Anak Nasional, kelompok yang diketuai Rindi Yuliani ini telah berbagi produk olahannya berupa nuget dan abon ikan kepada anak-anak di Posyandu Desa Wisata Teluk Buo. Tindakan mereka yang peduli pada anak-anak bahkan mendapatkan apresiasi dari Area Manager Comm, Rel & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Susanto August Satria.

Pengembangan edu ekowisata di Teluk Buo sendiri bertujuan untuk menjadikan tempat itu sebagai Pusat Pembelajaran dan Informasi Pengelolaan Mangrove yang dilakukan oleh masyarakat. Di sana, dalam pantauan topsatu.com juga ada museum mangrove.

Kini, program rutin dengan kepesertaan pahlawan pembibitan, penanaman dan monitoring telah mulai berjalan. Kunjungan wisatawan ke lokasi yang berjarak 35 km dari pusat Kota Padang itu juga sudah ada. “Setidaknya setiap minggu sedikitnya ada perputaran uang sebesar Rp1 juta,” terang Kapten Moed kepasa topsatu.com, Kamis (31/10/2024).

Angka yang memang belum seberapa. Namun seiring berjalan waktu, dia optimis, Desa Teluk Buo yang sudah mengantongi SK Walikota Padang Tahun 2023 itu akan terus berkembang. Apalagi, di sana ada sunset yang indah tatkala senja menjelang. Pengelola desa wisata juga menyiapkan perahu menyusuri hutan bakau nan indah. Dengan biaya Rp250 ribu per perahu, sudah bisa menelusuri hutan bakau. Sebuah petualangan yang pasti sangat menarik untuk dicoba.

Pertamina sendiri sesuai roadmap-nya menargetkan pada 2025 mendatang, Desa Teluk Buo bisa mandiri sebagai lokasi edu ekowisata mangrove yang berkelanjutan. Harapan ini jelas tak muluk-muluk mengingat perjalanan program ini yang cukup panjang dan berkesinambungan. Semoga terwujud ! (yuniar)