PADANG – Puluhan deta (penutup kepala bagi laki-laki untuk acara adat di Minangkabau, red) dan tingkuluak kreasi yang siap jadi dan ratusan lainnya masih setengah jadi memenuhi ruangan workshop atau bengkel kerja milik Welly Nofi Sastra yang biasa dipanggil Bu We atau Mak We. Sambil bercerita, tangannya sibuk membuat tingkuluak kreasi yang sudah menjadi produk khasnya sejak empat tahun terakhir.
Baginya, setiap detik pantas dihargai. Karena itu, hampir tak ada waktu untuk keluar rumah tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Di bengkel kecilnya itu, ia memproduksi sendiri berbagai produk yang sudah memiliki hak paten. Produknya dihasilkan dengan gaya unik hasil kreatifitas sendiri sehingga ia tak takut jika dikatakan meniru produk orang lain.
Menurutnya, brand Welly Permata Hati sudah mengantongi HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Begitu juga beberapa produk miliknya, seperti tingkuluak kreasi, Deta Rancak Permata Hati dan Desain Permata Hati. Dengan demikian, ia sudah nyaman berproduksi tanpa khawatir brand atau hasil karyanya diklaim orang lain.
Di depan rumahnya di kawasan Parupuak Tabing Kota Padang, Mak We membuat galeri untuk memajang produk hasil tangannya sendiri. Mulai dari aksesori bernuansa Minang, gantungan kunci, deta dan tingkuluak kreasi, hiasan dinding dan sebagainya. Ia juga memproduksi tingkuluak sederhana, dompet dan berbagai produk yang dibutuhkan konsumen dengan tetap menampilkan ciri khas Minangkabau.
Lewat tangan terampilnya, Welly bisa menyelesaikan satu deta atau satu tingkuluak dalam waktu satu jam. Mulai dari menjahit kain dasarnya hingga menjalin atau membentuk menjadi produk jadi. Permintaan yang mulai banyak membuatnya merekrut tiga orang karyawan untuk membantu produksi. Ia menggunting pola dan karyawan tersebut menjahit di rumahnya masing-masing. Sementara, satu orang karyawan diberdayakan untuk membantu pemasaran digital dan membantunya saat live di platform TikTok. Namun, menurutnya, ia tidak setiap hari melakukan siaran langsung, hanya tiga kali seminggu dengan durasi masing-masingnya sekitar 4 jam sehari.
Saat ini, dalam sebulan, ia bisa menghasilkan 300 hingga 400 deta dan tingkuluak kreasi. Untuk penjualan deta di platform Shopee saja, ia memproduksi sekitar 300 pieces setiap bulannya. Dengan penjualan yang lumayan banyak, dari modal awal hanya Rp5 juta, sekarang omzetnya mencapai Rp20 hingga 25 juta per bulan.
“Paling sedikit itu kalau sedang sangat sepi, hanya Rp5 juta sebulan,” katanya saat ditemui topsatu.com di rumahnya, Kamis (10/7/2026).
Akses Pasar Lebih Terbuka dengan Rumah BUMN BNI
Welly bukan orang baru dalam dunia industri kreatif di Kota Padang. Berawal sebagai penari sanggar, ia memberdayakan rumahnya menjadi sanggar seni Permata Hati dan Taman Bacaan Masyarakat di tahun 2008. Selain itu, ia juga menyediakan jasa wedding party organizer serta pesanan kuliner Minang seperti rendang. Usaha deta rancak dan tingkuluak kreasi baru ditekuninya sejak tahun 2022.
Sebagai seorang pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), ia merasakan susah senangnya penjualan. Ia menyadari satu hal bahwa apapun bidang usahanya tidak mungkin akan terus dibeli konsumen setiap saat. Ada masa-masa sepi dan ada masa-masa pesanan membludak. Karena itu, beberapa prinsip yang dipegangnya adalah keramahan, konsistensi kualitas produk serta jejaring dan akses pasar. Dengan demikian, produknya akan semakin dikenal dan mendapat hati di pelanggan ataupun calon pelanggan.
Jejaring dan akses pasar itu salah satunya banyak diperoleh melalui Rumah BUMN BNI. Ia bergabung sejak awal Rumah BUMN BNI hadir di Kota Padang pada tahun 2024.
“Setidaknya, kita bisa mendapatkan akses pasar dan relasi di Rumah BUMN BNI ini,” kata Welly yang pernah mendapatkan pin emas dari Pemerintah Kota Padang bertepatan dengan HUT Kota Padang tahun 2024.

Produk-produknya banyak dipajang di Rumah BUMN BNI yang berlokasi di Jalan Diponegoro Padang, dekat dengan lokasi wisata Pantai Padang dan Museum Adityawarman (Taman Melati). Rumah BUMN BNI sudah seperti galeri kedua baginya. Setiap tamu-tamu yang berkunjung ke Rumah BUMN BNI, barang produksi Welly Permata Hati tersedia untuk dijual. Jika ada calon pembeli yang berminat dengan kuantitas banyak, maka akan diarahkan untuk menghubungi dan berkunjung langsung ke galeri Welly Permata Hati.
Terkait jejaring dan akses pasar tersebut, pelaku UMKM lainnya, Dapur Yonica juga merasakan manfaat yang sama dari Rumah BUMN BNI. Ia mengaku sangat beruntung bisa menjadi salah satu UMKM binaan dari Rumah BUMN BNI Padang. Setiap ada kegiatan bazaar yang menghadirkan stand Rumah BUMN BNI, Dapur Yonica selalu dilibatkan.
“Pernah sekali saya diajak ke acara pamerah oleh BNI ke Jakarta tahun 2018. Selain itu, setiap ada pameran yang ada stand BNI nya, kita pasti diajak serta. Pada intinya, kami menjadi sangat terbantu sekali dalam pemasaran. Rumah BUMN BNI ini menjadi wadah promosi bagi kami,” kata Rosmawarty, pemilik Dapur Yonica yang beralamat di Cendana Mata Air Kota Padang kepada topsatu.com, Jumat (10/7).
Dengan akses pasar yang lebih luas, menurutnya, masyarakat menjadi lebih kenal dengan produk-produk Dapur Yonica. Produk utama Dapur Yonica adalah rendang tuna dan rendang sapi. Selain itu, produk lainnya berupa dendeng sapi, pempek tenggiri, rendang lokan, tuna lado hijau, kue bangkit, rendang jengkol, dan kerupuk tulang ikan. Yang menarik dari konsep jualannya, ia tak menjadikan kompetitor sebagai saingan, melainkan sebagai mitra. Karena itu, ia tetap menitipkan produknya di beberapa tempat kompetitor, namun bukan produk yang sama, melainkan produk berbeda seperti kerupuk tulang ikan, kue bangkit dan lainnya. Untuk produk pempek frozen sudah masuk ke salah satu mall di Kota Padang. Sedangkan untuk mendekatkan produk ke konsumen, ia juga membuat stand di lokasi Car Free Day setiap hari Minggu, tepatnya depan kantor Gubernur Sumatera Barat atau simpang Mapolda Sumbar.
Sementara itu, Fasilitator Rumah BUMN BNI Padang, Nana saat ditemui di kantornya mengatakan, saat ini ada 547 UMKM yang bergabung. Mereka diberi pelatihan sesuai kebutuhan, diarahkan untuk digitalisasi serta dibantu akses pasar dan jejaring.
Menurutnya, salah satu ‘PR’ penting dalam memperkuat UMKM adalah membangun kepercayaan diri mereka untuk selalu konsisten dalam pemasaran digital. Apalagi, banyak yang mengerjakannya semua sendiri, sehingga sering keteteran.
“Setidaknya, mereka bisa konsisten saja untuk memasang status produknya di whatsapp. Kita selalu mengingatkan itu,” katanya saat ditemui di Rumah BUMN di Padang, Selasa (7/7).
Dalam perannya membangun kemandirian dan sebuah ekosistem ekonomi, Rumah BUMN BNI, menurut Nana, terus mendorong pelaku UMKM untuk bergabung. Tak ada syarat apapun bagi pelaku usaha untuk bergabung. Selain itu, mereka juga berusaha menumbuhkan pelaku-pelaku usaha baru dengan menyelenggarakan program ‘Rumah BUMN Rumah Goes to Campus’ yang sudah berjalan semenjak tahun 2023. Kegiatan tersebut untuk menanamkan jika kewirausahaan pada mahasiswa sebagai calon enterpreneur baru.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo dikutip dari keterangan resminya di website BNI mengungkapkan, sebagai bank milik negara, BNI berkomitmen untuk selalu hadir di tengah masyarakat, membuka akses seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk terlibat dalam perekonomian nasional, tanpa membedakan gender maupun kondisi fisik.
Memberi Dampak di Balik Perjalanan 80 Tahun
Lahir sebagai bank pertama milik negara, BNI awalnya membantu untuk membangun sistem ekonomi nasional dan menjadi simbol kedaulatan ekonomi Indonesia. Kini, setelah delapan dekade, BNI terus bertumbuh bersama rakyat dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Beberapa program BNI menjadi kekuatan untuk membangun kemandirian serta ekosistem ekonomi bangsa. Di antaranya, BNI Xpora (layanan yang membantu UMKM dalam mengembangkan bisnisnya lebih luas ke pasar internasional) dan BNI Dedikasi (program yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi desa).
Namun, bagi pelaku UMKM, mereka tidak hanya melulu tentang permodalan. Welly dan Rosmawarty membuktikan bahwa pemerintah dalam hal ini Rumah BUMN BNI diperlukan sebagai penyokong dari sebuah ekosistem, bagaimana usaha rakyat bisa berkembang, lapangan kerja bertambah, ekonomi bergerak, perempuan menjadi lebih mandiri dan UMKM bisa go digital dan naik kelas. Bagi pengusaha, terutama UMKM, kemandirian ekonomi bukan hanya sekadar bagaimana mereka bisa memperoleh pinjaman, tapi yang utama adalah bagaimana mereka bisa mendapatkan jejaring dan akses pasar, mendapatkan literasi keuangan, dan pendampingan digitalisasi. Saat ribuan pelaku UMKM memperoleh kesempatan untuk terus berkembang dan saat produk lokal bisa naik kelas, maka itu lah makna sesungguhnya dari bertumbuh dan berdampak bagi masyarakat. (Oleh : Melda Riani)












