Limapuluh Kota – Pemkab Limapuluh Kota telah meluncurkan program Limapuluh Kota Bersih Lingkungan (Mahkota Berlian). Dimana program yang dicanangkan itu disambut baik oleh masyarakat. Bahkan, terobosan gerakan tersebut telah diakui Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI), yang ditunjukkan dengan pemberian sertifikat penghargaan terkait inovasi dalam mengelola lingkungan.
Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Dt. Bandaro Rajo, kepaa Singgalang, Senin (17/10), mengatakan, untuk mendukung program itu, dirinya bersama dengan Ketua TP-PKK Nevi Safaruddin dan Asisten III Ahmad Zuhdi Perama Putera, serta sejumlah Kepala Perangkat Daerah berkunjung ke PT. Bio Cycle Indonesia, yang bergerak di budidaya larva lalat black soldier fly (Maggot).
Menurutnya, lawatan ke perusahaan yang berlokasi di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau itu, merupakan tindak lanjut pertemuan yang sebelumnya digelar akhir September lalu antara Pemkab Limapuluh Kota dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang bermitra dengan PT. Bio Cycle Indonesia.
“Setelah menyimak presentasi dan menyaksikan langsung proses produksi Maggot di PT. Bio Cycle Indonesia, kami optimistis industri Maggot mendukung penuh inovasi Mahkota Berlian sebagai salah satu solusi dalam mengatasi masalah sampah di Limapuluh Kota,” ujarnya.
Dikatakan, berbagai macam upaya telah dilakukan Pemkab maupun Pemprov untuk mengurangi sampah, tapi belum ada yang berhasil maksimal. Dengan Maggot, pihaknya berharap dapat menjadi bagian dari mata rantai pengelolaan sampah di Kabupaten Limapuluh Kota.
“Budidaya Maggot juga dapat memproduksi pakan ternak maupun ikan. Sehingga menjadi solusi untuk sektor pertanian dan pakan ikan dan pakan ternak. Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota tertarik membangun industri pengembangan Maggot dan berpeluang menjalin kerjasama dengan Bio Cycle, untuk mendukung penuh program Mahkota Berlian terkait pengelolaan sampah, pupuk pertanian dan pakan ikan yang nantinya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.
Tidak hanya bupati, sejumlah kepala perangkat daerah, diantaranya Kepala Bapelitbang Gusdian Laora, Kadis LHPR Yunire Yunirman, Kadis Perikanan M. Siswanto, Kadis Tanhorbun Witra Porsepwandi serta Kadis PUPR Rilza Hanif, mengaku kagum dengan teknologi dan fasilitas pabrik Bio Cycle ini.
Dimana, dari pemaparan yang disampaikan Direktur Bio Cycle Budi Tanaka, sangat menarik rombongan dari Pemkab Limapuluh Kota itu. Bahkan mereka betah mengikuti tour selama hampir lima jam. Budi Tanaka turut menjelaskan, sebagaimana belatung pada umumnya, Maggot dari lalat BSF hidup dengan mengonsumsi sampah organik.
Selanjutnya Budi mengungkapkan, bahwa untuk mencapai hasil yang optimal, kebutuhan sampah untuk pakan Maggot bisa mencapai 1:8. “Itu artinya untuk 1 Kg Maggot, diperlukan kurang lebih 8 Kg sampah organik. Angka tersebut tentunya bisa berubah sesuai kondisi yang dihadapi. Jika pembudidaya ingin meraih hasil lebih baik, asupan pakan bisa ditingkatkan. Begitu pula sebaliknya,” ucapnya.
Sementara itu, Kadis LHPR Yunire Yunirman, yang dihubungi terpisah, mengatakan, Maggot lebih efektif sebagai solusi pengurangan sampah dibanding metode kompos. Selain memerlukan lahan yang luas, metode kompos juga membutuhkan waktu yang lama untuk mengurai sampah. “Pemkab Limapuluh Kota berharap budidaya Maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) bisa mengurangi timbulan sampah dari total timbunan sampah di Kabupaten Limapuluh Kota, yang mencapai sekitar 200 ton per harinya,” ujarnya. 207












