LUBUK BASUNG,_Udara Selasa pagi itu tidak panas. Hujan tidak turun, mendung pun tidak. Tapi Lansano terasa berat. Seperti alam ikut menahan napas.
Sejak subuh puluhan pasang mata sudah menatap ke jalan raya depan SMPN 1 Lubuk Basung. Mereka menunggu satu mobil jenazah. Di dalamnya ada Eva, panggilan Zulva Karlina, 55 tahun, guru Akuntansi SMAN 2 Lubuk Basung yang mengembuskan napas terakhir di RSUP Padang pukul 02.09 WIB.
Ratusan pelayat akhirnya tumpah. Ada Sekda Agam DR. M. Lutfi AR, pejabat Pemda Agam, kepala sekolah, guru dari berbagai sekolah, siswa, dan warga biasa. Jalan raya penuh mobil dan motor yang diparkir.
Eva bukan orang biasa di lingkaran birokrasi Agam. Ia istri dari Wed, panggilan Dita Wedya, pejabat eselon 3 di Dinas Dukcapil Agam. Karena itu, barisan ASN Pemkab Agam datang berbondong-bondong. Tapi yang datang bukan karena jabatan. Mereka datang karena kenal sosoknya.
Selama beberapa bulan terakhir, Eva berjuang melawan gangguan ginjal. Dua kali seminggu ia harus cuci darah. Dan selama itu pula, Wed menemaninya. Bolak-balik Lubuk Basung – Padang, dengan sabar, dengan harap pernikahan mereka sudah 32 tahun berlanjut lebih lama lagi.
“Maafkan kesalahan Eva ya Da,” ucap Wed lirih di depan jenazah.
Dibalik duka, keluarga ini meninggalkan cerita tentang kerja keras, Wed dan Eva berhasil mendidik anak anak menapaki jenjang sukses. Tiga anak mereka semua sarjana. Anak kedua, perempuan, lulusan ITB Bandung dan kini sedang S2 di Singapura, dapat bea siswa LPDP dia, sebelumnya Sarah bekerja di perusahaan asing di Jakarta. Anak sulung Ihsan dan si bungsu Haviz, keduanya Sarjana Teknik Informatika, juga sudah berkarier di perusahaan-perusahaan bonafid di Jakarta.
Tapi tak banyak kelebihan almarhumah yang tidak banyak dibicarakan warga, yakni soal masjid, tentang pengumpulan dana untuk masjid yang terletak di samping rumah Eva.
Sebelum jenazah disalatkan, M. Khudri Rajo Nan Sati mewakili keluarga membuka “rahasia” almarhumah dari samping podiun masjid Albadriyah Abdul Azis, Lansano. Tempat yang tak jauh dari lokasi pemakaman keluarga.
“Eva adik kami ini, melalui ujung-ujung jarinya, dia mengirim WA kepada saudara terutama yang dirantau. Maka mengalirlah dana untuk pembangunan masjid ini,” ujar Khudri dengan suara bergetar.
“Bukan puluhan juta. Tapi ratusan juta hasil lobinya. Uang itu yang menjadi masjid ini dan sarananya.”
“Saya saksinya,” lanjut Khudri. “Maka tolong aminkan. Semoga Allah menjadikan itu semua amal untuk memasukkan dia ke dalam surga Jannatunna’im.”
Ratusan jemaah menjawab serentak: “Amin.”
Habis janjian singkek perjalanan. Pepatah Minang itu terasa tepat hari ini. Guru senior yang setiap hari berdiri di depan kelas mengajarkan debit kredit, ternyata diam-diam juga mencatat amal dengan cara lain. Melalui chat, melalui lobi, melalui ketulusan meminta bantuan untuk rumah Allah.
Jenazah Eva kemudian dimakamkan di pandam kuburan keluarga di samping Masjid Albadriyah Abdul Azis.
Kepada semua hadirin dan masyarakat yang mengenal Eva, keluarga memohon dibukakan pintu maaf dan doa.
Lansano sore itu kembali tenang. Udara masih sama. Tidak panas, tidak hujan. Tapi jejak Eva, guru yang mengajar dengan kapur dan membangun dengan jempolnya di layar HP, akan lama tinggal di dinding masjid dan di hati orang-orang yang pernah ia sentuh (M.K)












