Payakumbuh – Di Indonesia terdapat 12 provinsi mengalami inflasi dan 26 provinsi mengalami deflasi secara bulan ke bulan (month on month). Dimana dimana inflasi tertinggi terjadi pada daerah Papua Pegunungan dengan 5,65 persen dan inflasi terendah di daerah Kepulauan Babel dengan persentase 1,08 persen.
Pj. Walikota Payakumbuh Suprayitno, kepada Singgalang, Sabtu (6/7), mengatakan, memasuki awal triwulan semester kedua di tahun 2024, dirinya bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Payakumbuh, hadir secara virtual dalam rapat koordinasi (Rakor) bersama Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) beserta Kementrian dan Instansi Pusat terkait guna membahas perkembangan inflasi di daerah.
Menurutnya, dirinya hadir bersama TPID dari ruang rapat walikota (aula Randang) lantai II kantor Balaikota Payakumbuh itu dari awal Rakor digelar mendengarkan paparan dan penyampaian dari Kemendagri dan Kementrian lainnya terkait inflasi yang terjadi pada awal bulan Juli 2024.
“Kita mendengarkan seluruh penyampaian yang disampaikan dalam rakor secara virtual itu. Disitu diketahui apa yang disampikan oleh Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, dimana terdapat 12 provinsi mengalami inflasi dan 26 provinsi mengalami deflasi secara month on month (M on M), yakni untuk inflasi tertinggi terjadi di daerah Papua Pengunungan (2,11 persen) dan deflasi terdalam terjadi pada daerah Papua Selatan (1,11 persen),” ujarnya.
Dikatakan, untuk komoditas penyumbang inflasi tertinggi pada semester pertama tahun 2024, yakni emas perhiasan dan sigaret kretek mesin (SKM). Juga disampaikan bahwa inflasi pada Juni 2024 menurut wilayah secara years on years (Y on Y) seluruh Provinsi di Indonesia mengalami inflasi, dimana inflasi tertinggi terjadi pada daerah Papua Pegunungan (5,65 persen) dan inflasi terendah di daerah Kepulauan Babel (1,08 persen).
Secara historis dalam momen perayaan hari raya Idul Adha 2024, jika tingkat inflasi lebih rendah dibandingkan momen Ramadhan dan hari raya Idul fitri. “Terjadi inflasi pada momen hari raya Idul Adha tahun 2021 sampai 2023, akan tetapi terjadi deflasi pada momen hari raya Idul Adha tahun 2020 dan tahun 2024. Kecuali pada bulan Juli 2024, tingkat inflasi momen hari raya Idul Adha lebih tinggi dibandingkan momen hari raya Idul Fitri,” tambahnya.
Untuk diketahui, tambah Suprayitno, berdasarkan data inflasi daerah Provinsi Sumatra Barat, Kota Payakumbuh tidak termasuk dalam daerah penyumbang angka inflasi. “Akan tetapi, Kota Payakumbuh hanya daerah pendukung atas empat daerah utama yang menjadi acuan penghitungan inflasi di daerah Provinsi Sumatra Barat. Dan untuk komoditas yang mengambil andil dalam perubahan harga ini, yakni daging ayam ras di angka -1.2827 persen, cabai merah di angka -1.2458 persen dan telur ayam ras di angka -0.3039 persen,” pungkas Suprayitno. (207)












