Korban Meninggal Suspect Monkeyfox, Pemkab Meranti Langsung Bertindak

SELATPANJANG – Kasus Cacar Monyet (Monkeypox/Mpox) sudah masuk ke wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti. Tercatat sudah dua kasus terjadi dan ditangani Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Bahkan dari dua suspect, satu orang dinyatakan meninggal dunia.

Melalui keterangan resmi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti dalam konfrensi pers, Senin (22/9/2025) kasus Monkeypoxyang terjadi saat ini masih berstatus Suspek (dugaan).

Seperti yang ditegaskan Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin di Ruang Melati bahwa kasus pertama terjadi terhadap seorang pasien berinisial BS (13 tahun) yang awalnya dilaporkan pada 17 September 2025 pada pukul 08.38 WIB oleh pihak RSUD. Diduga suspek Monkeypox.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, tim surveillen Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti melakukan penyelidikan Epidemologi (PE) terhadap BS dengan neneknya dengan metode wawancara dan inspeksi langsung terhadap anak.

Hasilnya, diketahui pada tanggal 12 September 2025, BS mengalami demam di sekolah, pada hari selanjutnya pada 13 September 2025 pada tubuh BS mulai muncul ruam atau lesi di tangan. Sehingga dianjurkan untuk pulang oleh pihak sekolah.

Gejala BS semakin serius. Dimana pada tanggal 15 September ruam atau lesi bertambah banyak terasa sampai di seluruh tubuh. Bahkan sampai ke pipi dan rongga mulut. Ruam

BS juga mengalami sulit menelan, batuk dan sulit berbicara. Dua hari setelahnya, atau tepat pada tanggal 17 September BS dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Kepulauan Meranti untuk perawatan intensif.

“Berdasarkan hasil Penyelidikan Epidemologi (PE) yang dilakukan di lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga kontak erat, didapatkan 4 orang mengalami demam dengan diagnosa Faricella,” ungkap Muzamil.

Terhadap kasus tersebut kemudian dilakukan isolasi mandiri dan dilakukan pemantauan petugas dari Puskesmas setempat. Walaupun demikian saat ini para pasien telah membaik.

Baca Juga  Listrik Padam Bergilir, Bisakah Menuntut PLN?

“Pada Sabtu (20/9/2025) sekitar pukul 15.19 WIB, BS meninggal dunia di RSUD,” ungkap Muzamil.

Wabup juga memastikan, bahwa pihaknya hanya melakukan tugas dalam penanganan kasus ini. Tidak ada maksud, untuk mengganggu keluarga yang berduka.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga anak ini tenang di sana. Kita hari ini melaksanakan tugas untuk melindungi semuanya. Bukan bukan mengganggu ketenangan dari almarhum,” ujarnya.

Kemudian, pada tanggap 18 September 2025, tambah Wabup, diterima kembali laporan dari RSUD Kepulauan Meranti, ada pasien suspek Monkeypox berinisial Z (17 tahun).

Z kemudian dibawa ke RSUD dan menjalani perawatan dan disetujui oleh pihak keluarga Z.

“Sampai hari Minggu 21 September 2025, Z sudah diperbolehkan pulang oleh rumah sakit dengan kondisi sudah membaik.” terangnya.

Kondisi ini, lanjut Muzamil, merupakan kabar baik, mengingat Z yang tadinya suspek, kini telah kembali kepada keluarga.

“Ini membuktikan bahwa kita bisa menyembuhkan penderita suspek Monkeypox dengan merawatnya. Dan Alhamdulilah kemarin sudah membaik.” Tuturnya.

Pengambilan sampel sudah dilakukan sejak Sabtu (20/9/2025) terhadap kedua anak dan dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan Kementrian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Provinsi Riau.

Dari kasus ini, Pemkab Meranti melalui Dinas Kesehatan telah melakukan berbagai upaya. Diantaranya, melakukan pengawasan harian kasus suspek, dan kontak erat. Dimana saat ini menjalani isolasi mandiri.

Promosi kesehatan juga dilakukan melalui penerapan gaya hidup bersih dan sehat. Terutama di lingkungan sekolah dan kepada masyarakat yang secara umum.

Muzamil menegaskan kasus cacar monyet masih berstatus suspek (dugaan), sampai ada hasil resmi dari pemeriksaan sampel di laboratorium.

Baca Juga  Jika Tak Disiplin, Siap-siap TPP ASN Meranti Dipotong

“Dapat kami tegaskan kembali, bahwa saat ini status pasien masih suspek. Saat ini sampel pasien masih dalam proses pemeriksaan di laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Jadi, kita tunggu saja hasilnya,” Tegas Wabup Muzamil.

Meski demikian, Wabup Muzamil memastikan, bahwa pemerintah daerah telah menyusun langkah-langkah preventif sebagai bentuk respons cepat. Seperti, pendistribusian alat kebersihan hand sanitizer, masker, pemberian multivitamin, fogging, sosialisasi ke media dan sekolah, hingga menetapkan langkah penanganan medis sesuai SOP di RSUD maupun di seluruh puskesmas.

Dalam kesempatan itu, Muzamil juga menyampaikan belasungkawa dan rasa duka cita yang mendalam kepada keluarga pasien yang meninggal dunia. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga Almarhum mendapatkan tempat tebaik disisiNya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan yang luas” ucap Wabup lirih.

Dia memastikan, saat ini pemerintah tengah melakukan penanganan dan pencegahan dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi sesuai kewenangan. Terlihat hadir juga dalam konfersi pers tersebut, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang terdiri, Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, H Khalid Ali, Wakapolres Meranti Kompol Maitertika, Perwira Penghubung Kodim 0303 Bengkalis Mayor Inf Rusli Dalimunthe, Komandan Pos TNI AL Selatpanjang Kapten Laut (E) Saidul Aripin, dan Kepala Kantor Kemenag Kepulauan Meranti, Drs Sulman.

Tampak hadir juga, Staf Ahli Bidang Pemerintahan Febriady, Asisten Administrasi Umum Drs. M. Mahdi, Plt Kepala Dinas Kesehatan, Ade Suhertian, Direktur UPT RSUD, M Sardi, dan sejumlah Kepala OPD lainnya.

Penulis: Ahmad Yuliar