FOTO BERSAMA – Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd., foto bersama dengan Gubernur Lemhanas RI, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., dan tamu undangan lainnya. (Ist)
Padang – Kesadaran geokultural menurut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd., adalah penawar paling alamiah bagi dua penyakit yang mengancam politik kebangsaan Indonesia saat ini. Dua penyakit itu adalah ekstremisme yang mencabut agama dari akar budayanya, dan pragmatisme yang mencabut kebijakan dari akar sosialnya.
“Kebangsaan yang tidak berakar pada budaya akan berhenti sebagai slogan. Sebaliknya, budaya yang tidak dirawat oleh nalar kritis akan berhenti sebagai museum,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara kuliah umum dan penandatanganan nota kesepahaman antara UIN Imam Bonjol Padang dengan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Republik Indonesia (RI) di Gedung J Kampus III Sungai Bangek UIN Imam Bonjol Padang, Kamis (3/9).
Ia mengatakan, kuliah umum dengan tema “Nalar Kritis dan Kesadaran Geokultural untuk Merawat Politik Kebangsaan”, menurutnya adalah tema yang sangat presisi dalam membaca zaman. Rektor sangat mengapresiasi pilihan diksi merawat politik kebangsaan.
“Kami mencatat pilihan diksi dalam tema ini dengan penuh apresiasi, bukan membangun, bukan mempertahankan, tetapi merawat. Merawat adalah pekerjaan yang tekun, sabar, tidak seremonial, dan tidak pernah selesai,” tambahnya.
Menurutnya, politik kebangsaan tidak rusak dalam satu malam, ia lapuk sedikit demi sedikit ketika kepercayaan publik terkikis. Ketika perbedaan pilihan politik dirayakan sebagai permusuhan, ketika identitas keagamaan dipertukarkan menjadi komoditas elektoral, dan ketika ruang publik kehilangan kesediaan untuk saling mendengar.
“Di sinilah kampus mengambil peran. Kami berkeyakinan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam negeri memikul mandat khusus, menjadi rumah bagi nalar yang bertanggung jawab, menjadi penjaga bahasa publik yang beradab, dan menjadi penyedia perspektif ilmiah bagi para pengambil kebijakan. Inilah kontribusi konkret kami bagi penguatan ketahanan nasional dan bagi pencapaian cita-cita besar Indonesia Emas 2045,” tuturnya penuh semangat.
Ia menambahkan, nalar kritis bukanlah barang impor bagi tradisi keilmuan Islam. Ia adalah warisan sah. Al-Qur’an berulang kali menutup argumentasinya dengan pertanyaan “Tidakkah kamu menggunakan akalmu, tidakkah kamu berpikir, tidakkah kamu memperhatikan, atau melihat”.
“Tradisi ijtihad, disiplin, tabayyun, kecermatan jarh wa ta’dil dalam ilmu hadis, hingga maqashid asy-syari’ah sebagai kerangka penalaran hukum, semuanya adalah bangunan metodologis yang menempatkan verifikasi di atas prasangka. Hari ini, warisan itu sedang diuji dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkapnya.
Ruang digital telah memangkas jarak antara informasi dan keyakinan hingga nyaris tidak bersisa. Disinformasi diproduksi lebih cepat daripada kemampuan manusia memverifikasinya. Algoritma mengurung manusia dalam ruang gema yang nyaman, lalu perlahan mengikis kesediaan untuk berbeda pendapat secara beradab. Dalam situasi demikian, nalar kritis berhenti menjadi kemewahan akademik dan berubah menjadi instrumen ketahanan nasional.
“Karena itu, kami memandang tugas perguruan tinggi keagamaan Islam pada hari ini bersifat ganda, membina akal yang tajam, sekaligus menjaga hati yang jernih. Kritis tanpa akhlak melahirkan sinisme yang meruntuhkan kepercayaan publik. Santun tanpa daya kritis melahirkan kepatuhan yang mudah diperalat kepentingan. Yang kita cari adalah keseimbangan keduanya, dan di situlah moderasi beragama, sebagaimana menjadi arah kebijakan Kementerian Agama RI, menemukan bentuk operasionalnya di ruang-ruang kuliah kami,” terangnya.
Sementara Gubernur Lemhanas RI, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., mengatakan di era persaingan global kemajuan teknologi digital serta perubahan yang begitu cepat dalam kehidupan, termasuk dalam konteks teknologi digital membuat manusia melakukan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satunya adalah terkait dengan kemampuan menalar yang dimiliki oleh anak-anak muda dengan kemajuan teknologi, terutama teknologi digital.
“Hampir sebagian besar manusia sekarang, menjadi sangat tergantung terhadap teknologi digital yang memang sangat memudahkan dengan kemajuan teknologi informasi. Namun demikian di situ ada ancaman yang serius terhadap pembentukan karakter kebangsaan kita yaitu bahwa kita menjadi tergantung terhadap teknologi,” katanya.
Ia mengatakan, kemampuan nalar kritis manusia kadang-kadang bisa dihadapkan dengan kemudahan-kemudahan tersebut, sehingga kadar kritis itu menjadi sangat mudah sekali tergerus. Kemampuan analitis manusia menjadi terbatas dan tidak bisa membedakan jika memang membutuhkan rujukan akademik.
“Rujukan akademik didasarkan kepada referensi ilmiah yang berbasis pada penjelajahan intelektual akademik, berdasarkan pada penelitian yang bisa membangun karakter kepemimpinan. Nah tadi saya sampaikan, bahwa kita penting untuk terus membangun nalar kritis. Salah satu caranya, dengan menguji secara terus-menerus fakta, dari semua informasi yang didapat,” ujarnya.
Dengan rajin menguji dan diteliti, akan membuat warga negara tidak gampang untuk menyebarkan informasi yang belum tentu benar secara faktual. Kalau tidak relevan, maka tidak akan disebarluaskan, dalam rangka kepentingan nasional Indonesia. (Yuni)












