PADANG,- Menyusul terkuaknya kasus homo dengan pelakunya seorang guru dan mantan murid SMA Negeri 11 Padang, Berry Devanda Kepala SMA N 8 Padang mengaku khawatir akan ancaman pelaku LGBT ini “menyerang” siswa di Padang dan Sumbar umumnya.
“Ya, saya khawatir ancaman LGBT ini memakan korban siswa, karena itu kita harus mewaspadainya” kata Berry Devanda kepada anggota Dewan Pendidikan (DP)Sumbar yang datang berkunjung ke sekolahnya Selasa (22/12 kemaren.
Anggota DP yang diterima Berry adalah DR.Alforki M Pd, Suindra dan M.Khudri.
Kunjungan ini merupakan silaturrahmi peninjauan pasca banjir bandang yang melanda beberapa SMA di Kota Padang.
Pada hari itu, DP mengunjungi SMA N 11 Padang Pariaman yang terletak di nagari Batang Anai Lubuk Alung dan SMA N 12 Padang di Nanggalo.
Dalam kunjungan itu anggota DP Sumbar sekalian berdiskusi dengan Berry salah seorang kepala sekolah muda terbaik di kota Padang. “Ya tentang LGBT sebagai predator yang merusak jiwa anak anak ini harus menjadi perhatin serius kita bersama” kata Berry merespon pertanyaan anggota DP
Mengapa demikian? Merebaknya berita ada guru di sekolah lain terjangkit homo seks kemudian ditangkap pengurus masjid tatkala melakukan perbuatan a susila di wese masjid, menurut Berry bukanlah semata mata masalah sekolah yang bersangkutan.
“Ini ancaman untuk peserta didik kita secara keseluruhan, kita harus melakukan sesuatu untuk.menghentikan berkembangnya LGBT ini di sekolah sekolah”, tandasnya.
Tapi Berry menegaskan, bahwa sejauh ini di sekolah yang ia pimpin, tidak ada kasus LGBT ini. “Alhamdulillah disekolah saya sejuah ini tidak ada, tapi tetap kami pantau” ujarnya.
Berry menceritakan, bahwa suatu ketika dia menolak seseorang guru yang ingin pindah ke sekolahnya karena dia curagai guru yang bersangkutan gelagat memperlihatkan tanda tanda ke arah prilaku menyimpang. “Saya lihat dia bawa teman laki laki, rambut pirang, pembawaannya kurang lazim, ya saya tolak saja, eh tak lama terdengar desas desus dia ketahuan homo” kata Berry.
Kemudian Berri menjelaskan bahwa dia pernah bersekolah di Australia, sambil belajar dia kerja part time jadi cleaning service di sekolah, harus pakai surat bebas LGBT dan barkoba dari kepolisian. “Di Australia, untuk kerja kuli saja harus pakai surat keterangan tidak ada catatan kriminal, narkoba dan LGBT, bagaimana kalau itu kita adopsi?” katanya.
Mendengar penjelasan Berry ini anggota DP merespon positif. “Insya Allah masukan Berry akan kami tindak lanjuti, DP bisa rekomendasi Dinas Pendidikan untuk membangun sistem jaring pengamanan sekolah dari semua perbuatan maksiat termasuk LGBT” kata Suindra (MK).












