Sawahlunto – Lima hektare kebun serai wangi di Desa Balai Batu Sandaran Sawahlunto yang hangus terbakar beberapa waktu lalu mengganggu produksi minyak atsiri dari bahan baku serai wangi.
Kepala Desa Balai Batu Sandaran (BBS) Nasirwan Taher kepada Topsatu, Jumat (3/10) akibat kebakaran awal Juli lalu itu proses penyulinga minyak atsiri saat ini vakum beroperasi. Selama ini Kelompok Tani Berkat Yakin BBS memproduksi minyak atsiri. Turunnya pasokan bahan baku seluas 20 hektar menjadi 12 hektar membuat produksi penyulingan minyak terganggu.
” Nah setelah kebaran seluas 5 hektare itu produksi tidak tercapai justru merugi. Nilai jual minyak atsiri saat ini Rp200 ribu/Kg atau Rp 110.000 per 100 ml, semua tergantung harga pasar,” ungkap Kades.
Lebih lanjut dikatakan perkebunan serai wangi yang digerakan Kelompok Tani Berkat Yakin itu sudah beroperasi 20 tahun lebih.
Menyangkut kebakaran lahan itu pemerintahan desa telah bersurat pada OPD terkait DPK3 pada 7 Juli lalu untuk memohon bantuan penanaman kembali serai wangi .
Kadis DPK3 Heni Purwaningsih, kepada topsatu, Sabtu (4/10) menyatakan surat dari KDes BBS sudah ditindak lanjuti pada 15 Juli lalu ke Dinas Perkebunan Sumbar.
Bahkan surat tersebut telah dilayangkan ke Dirjen Perkebuban di Jakarta dengan usulan penanaman kembali lahan 5 hektar itu membutuhkan dana lebih kurang Rp 70 juta. Namun sejauh itu belum ada informasi dari Dirjen Perkebunan tersebut. (sbd)












